Tampilkan postingan dengan label Review Iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Iseng. Tampilkan semua postingan

[REVIEW] The Kingdom of Dreams and Madness (2013)

Minggu, 16 April 2017

Sepanjang menonton ini, saya dibuat terpana, sesekali terharu, sebelum dibuat lebih terpana lagi. 

Sempat menyayangkan, kenapa telat menonton "The Kingdom of Dreams and Madness" ini. Di sini, tak hanya dapat melihat bagaimana tiga sahabat (Hayao Miyazaki, Isao Takahata, dan Toshio Suzuki) ini saling menemukan dan mendorong satu sama lain untuk lebih baik, tapi juga menonton ini seakan-akan membuat impianmu dilipatgandakan. Terutama ketika melihat semangat dan kerja keras Miya-san yang luar biasa.


Amat terperanjat sewaktu Miya-san mengaku dirinya menderita manic-depressive. Bahkan, Miya-san berkata,"Aku harus meminum pil tidur. Bagaimana lagi aku bisa tertidur?" (Hal ini menambah panjang daftar orang-orang hebat yang menderita gangguan ini).

Lalu, berbicara tentang Takahata-san... Dulu saya pernah mengatakan bahwa saya mendapati ada cukup banyak kesamaan antara saya dan beliau. Dan setelah menonton ini, keyakinan saya akan hal itu naik semakin tinggi. 

Kebalikan dengan Miya-san yang disiplin dan pekerja keras, menurut Toshio, Takahata-san tidak pernah menyerahkan filmnya tepat waktu atau sesuai anggaran. Staf Ghibli lainnya sependapat kalau Takahata-san sangat buruk dengan penjadwalan. (Nah, ini salah satu kesamaan saya dan Takahata-san. Dulu, saya pernah ikut sebuah lomba (di bidang seni), dan pada saat waktunya sudah habis, saya belum selesai dengan karya saya. Alhasil, juri memberi tambahan waktu dan bilang,"Tenang. Lanjutkan saja. Saya mengerti, seniman seharusnya tidak bekerja dengan dibatasi waktu." Kata-kata juri itu masih terekam hingga sekarang. Karena hal itu begitu berkesan bagi saya)

Nah, kembali membahas Takahata-san--lantaran sifat beliau yang unik itu, Toshio sampai berkata, "Dalam usaha membuat film Takahata berhasil tercapai, aku membutuhkan seseorang yang bisa bersama dia 24 jam sehari." 

Bahkan Miya-san tak segan-segan mengatakan kalau Takahata-san memiliki gangguan kepribadian lantaran tak mengerti lagi tentang kenyentrikan sahabatnya yang satu itu. Miya-san juga bilang kalau sebenarnya Takahata-san berusaha untuk tidak menyelesaikan filmnya. 

Yah, tapi syukurlah, walaupun hampir semua orang sudah tidak yakin film garapan Takahata-san rampung, akhirnya pada November 2013, "The Tale of the Princess Kaguya" akhirnya tayang dan dikabarkan menjadi karya terakhirnya. Butuh waktu 14 tahun bagi beliau untuk membuat karya lagi setelah My Neighbors the Yamadas (1999).

Saya melihat betapa unik hubungan antara Miya-san dan Takahata-san. Keduanya bersahabat, memuja satu sama lain, namun bersaing dengan keunikan karyanya masing-masing. Sejujurnya, sangat tidak adil bila harus membandingkan karya keduanya. Sebab, karya mereka adalah gambaran kepribadian mereka sendiri. Orang-orang di sekeliling bahkan tak tahu siapa yang cahaya dan siapa yang bayangan di antara keduanya.

Miya-san selalu membuat karya tentang dunia yang penuh sihir, keindahan dan keajaiban, sementara Takahata cenderung mengajak kita merenung dan menutup karyanya dengan kesedihan yang getir.

Hal yang membuat saya tersenyum adalah fakta bahwa Miya-san menyebut Takahata paling tidak satu hari sekali.


Sayang sekali, di sini tak banyak menyorot Takahata. Hampir seluruhnya adalah tentang Hayao Miyazaki. Hal ini semakin memperjelas gambaran misterius seorang Isao Takahata di benak saya. Orang yang kabarnya seorang perenung sejati.

Lalu, saat obrolan bergulir membahas tentang masa depan Studio Ghibli, di situ saya benar-benar merasa sedih sebelum akhirnya terpesona dengan jawaban Miya-san tentang hal itu.

"Masa depannya sudah jelas," begitu kata Miya-san. "Aku sudah bisa melihatnya. Untuk apa khawatir. Itu tidak bisa dihindarkan. "Ghibli" hanyalah nama acak yang kudapatkan dari sebuah pesawat terbang. Itu hanyalah sebuah nama."

[REVIEW] Border (2014)


Drama Jepang bertajuk 'Border'ini dibintangi aktor kawakan Shun Oguri. Ada suatu pernyataan yang sering diulang dalam drama ini, seakan merupakan suatu pesan yang ingin ditanamkan dalam kepala para penontonnya; "Tidak akan ada cahaya tanpa kegelapan."


Jadi, di drama ini, Shun Oguri berperan sebagai seorang detektif polisi divisi kejahatan pembunuhan bernama Ishikawa Ango, yang menjunjung tinggi keadilan. Di awal, diperlihatkan bagaimana ia melaksanakan tugasnya dengan begitu baik. Sampai kemudian, ia mulai keluar 'batas'. Merasa frustasi tak dapat menemukan bukti-bukti untuk menangkap seorang pelaku pembunuhan, Ishikawa akhirnya mendorong tubuh tersangka dari sebuah gedung tinggi. 


Menonton ini, entah kenapa sedikit banyak mengingatkan saya akan salah satu novel karya Agatha Christie yang fenomenal--'And Then There Were None', atau dalam versi terjemahan Indonesia dikenal dengan 'Sepuluh Anak Negro'. Dalam novel tersebut, seorang pensiunan jaksa membunuh sembilan orang pelaku kejahatan yang tak pernah teraba oleh hukum. 

Kedua kisah tersebut (Border dan Sepuluh Anak Negro) ingin menunjukkan kepada kita bahwa seringkali dalam upaya kita menegakkan keadilan, tanpa sadar kita telah keluar batas. Dan, malah, perlahan-lahan, kita berubah menjadi monster menakutkan.

Itulah akibat jika manusia ingin bertindak seperti Tuhan. Mengadili sesama dengan tangannya sendiri. Menganggap benar tindakan mata dibalas mata dan gigi dibalas gigi.

Dunia yang begitu, sungguh mengerikan...
Bukankah hanya Tuhan yang berhak menghakimi, karena Dia-lah Mahaadil?

[REVIEW] Uncontrollably Fond (2016)


Setelah sempat mengalami kejenuhan panjang akan drama dari Negeri Ginseng, akhirnya saya menemukan satu yang berhasil mencuri hati dan menjadi favorit versi saya tahun 2016. Itu adalah "Uncontrollably Fond". 


Mungkin sebagian orang (yang mencintai drama Korea) akan mengernyitkan dahi, atau ada yang terang-terangan berkata, 'Kenapa suka drama yang itu? Itu kan rating-nya jelek.'


Errr, yah, jadi begini... Setelah saya amati, seringnya yang terjadi, apa yang menjadi kesukaan saya hampir selalu bertentangan dengan orang banyak. Tak terkecuali menyangkut drama Korea unggulan.

Kalau umumnya orang lebih tertarik dengan drama Korea yang rating-nya selangit, anehnya, daftar drama Korea favorit saya rata-rata punya rating yang biasa-biasa saja, bahkan beberapa benar-benar mencium bumi.

Jadi, sampai di sini, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan kalau selera saya anti mainstream

'Jadi orang yang punya selera anti mainstream itu enak, ya?'

Nggak juga. Seringnya, yang terjadi, sulit sekali menemukan orang yang punya kegemaran sama (entah itu tentang film, musik, bacaan, dll). 

Padahal, hal-hal yang saya sukai begitu sederhana. Yakni segala sesuatu yang mampu membekas lama di hati, dan bisa menghadirkan perasaan yang kompleks; senang, sedih, marah, juga kecewa. 

Sangat sederhana. Betul-betul sederhana. Sungguh.

[REVIEW] Cain and Abel/ Kain to Aberu (2016)


Drama ini, untuk ukuran rating memang tak bisa dibilang membanggakan. Namun, dari segi cerita, masih tetap layak jadi juara (ini menurut saya, ya).

Kendati ada beberapa bagian yang terasa agak kosong, tapi secara keseluruhan, cerita ini benar-benar berhasil memikat saya. 



Karakter para pemainnya pun dibangun dengan begitu kompleks. Layaknya manusia pada umumnya, punya bagian gelap-terang yang berimbang. Khususnya karakter Takada Yu yang diperankan oleh Yamada Ryosuke di sini, yang sukses membuat orang menaruh simpati, dan dalam waktu yang bersamaan juga membencinya setengah mati.



Kisah yang diambil dari Alkitab Perjanjian Lama ini kaya sekali akan nilai humanisme. Drama ini seakan sengaja untuk tak berfokus menyajikan kisah romantis antartokohnya semata, melainkan lebih menyorot jatuh bangun mereka dalam menghadapi masalah yang datang, serta bagaimana setiap harinya mereka belajar untuk lebih menjadi 'manusia'.


Meski cerita ini ditutup dengan akhir yang bahagia, akan tetapi tetap saja ada haru yang terselip di sana- sini, yang mau tak mau membuat saya menangis juga.

Terima kasih untuk drama ini, oleh karenanya saya jadi belajar banyak hal

Oh ya, ini ada 3 kata mutiara dalam drama 'Cain and Abel' yang sukses menyelinap begitu dalam di hati, serta mampu mengajak saya merenung sekian lama:

1) Menjadi sukses adalah penting, tetapi jika kau menjadi terlalu terobsesi dengan itu, kau akhirnya akan kehilangan hal-hal yang benar-benar penting.
2) Semakin kau bertujuan untuk kesempurnaan, maka kau mudah hancur dan lemah.
3) Tidak peduli apa yang terjadi, keluarga adalah keluarga.

[REVIEW] Your Lie in April / Shigatsu wa Kimi no Uso Live Action (2016)


Versi Live Action dari ‘Shigatsu wa Kimi no Uso’, atau yang juga dikenal dengan ‘Your Lie in April’ ini terbilang cukup sukses menurut saya. Para pemerannya cukup berhasil menghidupkan karakter yang dipercayakan kepada mereka masing-masing; Kousei, Kaori, Tsubaki, maupun Watari.


(Dari kiri ke kanan; Kousei, Tsubaki, Watari, dan Kaori)


Bahkan, usaha keras Yamazaki Kento dan Hirose Suzu untuk belajar piano dan biola selama enam bulan demi tampil maksimal memerankan tokoh Arima Kousei (pianis) dan Miyazono Kaori (violinis), agaknya berbuah manis. Kolaborasi musik keduanya sungguh mengundang decak kagum πŸ‘



Saya yang memang pada dasarnya sangat menyukai musik klasik, tentu saja begitu menikmati tiap detik yang bergulir dalam film ini. Sayang sekali, karena ini film, maka durasinya hanya sekitar dua jam saja. Tentu saja, dengan waktu sesingkat itu, banyak sekali adegan-adegan—bahkan beberapa karakter, yang terpaksa ditiadakan. Di antaranya adalah rival Arima Kousei dalam tiap kompetisi piano, seperti Takeshi Aiza dan Emi Igawa.

Dalam versi animenya sendiri yang memiliki total episode 22, para tokohnya digambarkan sebagai pelajar SMP kelas 2, sementara dalam film ini, mereka telah berusia 17 tahun (kelas 2 SMA). 

Kendati ada beberapa perubahan kecil di sana-sini, versi Live Action ‘Shigatsu wa Kimi no Uso’ ini masih terbilang cukup dekat dengan versi animenya, kok. Bahkan, saya masih tetap berkaca-kaca saat Kousei membaca surat dari Kaori di bagian akhir cerita 😫😭

Selain memanjakan telinga dengan alunan musik klasik yang liris, poin lebih film ini menurut saya terletak pada kisah cinta antara Kousei dan Kaori, yang mampu menunjukkan kedalaman dan ketulusan perasaan masing-masing meski tanpa adegan romantis-super-parah. 



Hmm, sekarang malah berandai-andai kalau ‘Shigatsu wa Kimi no Uso’ ini ada versi dramanya. Terlalu keren sih cerita ini

Oh ya, berikut adalah dialog antara Kousei kecil dan ibunya yang begitu saya sukai:

Kousei : Padahal ada lagu Kebahagiaan Cinta dan Kesedihan Cinta, tapi kenapa Ibu selalu memainkan lagu Kesedihan Cinta?
Ibu : Kamu tahu, Kousei? Itu agar kamu terbiasa dengan kesedihan.