Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Musik Hujan

Selasa, 06 September 2016
Di luar, hujan seperti musik
Tik, tik, tik...
Membasahi hati
Membasuh luka
Tik, tik, tik...
Iramanya pasti
Mengajak ingatan menari
Tentang kepedihan yang tak mau dibagi


Pukul 4 Pagi

Selasa, 10 Mei 2016


Mulut-mulut bungkam
Riuh pesta padam
Cahaya pecah membentuk kepingan kelam
Lalu hening panjang...
Tenang melebihi Mozart
Menyayat melampaui Beethoven

Denyut jam di pukul 4 pagi
Waktu dunia mati di kepala
Dan waktu kubunuh kawan rekaan dari dunia sepiku





Kesepian

Kamis, 05 November 2015


Onggokan sepi merayap rupa
Kerikil hampa penuhi hati
Terhempas kekosongan yang menggunung

Alunan nada ceria hentikan denyut jantung
Variasi warna menebar tak terhiraukan

Ingin raib, ingin musnah, ingin tiada
Agar tak kumiliki hampanya jiwa

Menara sendu berdiri anggun
Ejaan sepi pun tak lagi terbaca
Tidur saja senang itu!
Agar kelabu erat menyatu dengan kesunyian...

Lingkaran tawa mengurung hampa
Opini tentang bahagia terhanyut sudah

Venus tersenyum dalam kemenangan
Akan kekosongan yang terpantul di seraut wajah
Yakini aku untuk ke sekian kali;  aku telah kalah

Episode demi episode terlewati dengan desahan murung
Niat mengukir senyum raib sudah
Irama kesepian hanya tersuarakan di kisi-kisi hati yang mengkristal







Musim Hujan

Rabu, 04 November 2015


Aku suka musim hujan
Sebab wajah langit sendu
Serupa senyumku yang beku

Aku cinta musim hujan
Sebab ia menghadirkan kenangan
Bagi hati yang kesepian



Perihal Aku

Sabtu, 03 Oktober 2015


Kadang aku ingin jadi seseorang

Yang dengan mudah menjabarkan perasaan

Mengucapkan, “Aku menyayangimu” berkali-kali

Seperti hujan yang tumpah



Namun, aku hanyalah seseorang

Yang memilih menelan semua rasa

Hanya untukku...

Hanya untukku...



Tak pernah ada ruang bagi yang lain

Untuk melongok hatiku

Untuk paham hatiku

Kalimat  “Aku menyayangimu” yang nyaris keluar

Kutelan sekali lagi



Kadang aku benci menjadi seperti ini

Namun yang kutahu aku mesti begini



Aku adalah aku...

Seseorang yang tak bisa menjabarkan perasaannya sebagaimana hujan yang tumpah...



Seperti yang Lain

Selasa, 29 September 2015

Sebuah pelukan
Sepotong tawa
Hanya mengamati dari kejauhan

Kala kau mendekat
Kumundur selangkah
Aku tak mau kau sadar
Akan ceceran hatiku...

Terus berdiri di tempat ini
Batas teraman agar kau tak tahu
Keinginan-keinginan yang tak tersuarakan

Ah, sesungguhnya aku seperti yang lain
Namun, aku memilih mematikan keinginanku
Agar kau tak mendengar...
Agar semesta tak mendengar...

Kelak, kutahu akan menyesal
Sebab menahan diri seperti ini
Sebab membentengi diri darimu
Sebab memilih mati...

Utusan Alam Rahim

Jumat, 18 September 2015



Kali pertama kau mengungkapkan
Hatiku tergetar
 
Bukan
Bukan tak percaya laksana yang lain
Aku selalu memercayaimu
Sebab, kau berbeda...
 
Kau bergelimang kejujuran
Maka, aku memutuskan percaya
Tak terkecuali tentang itu

Aneh, bukan?
Aku memercayai sesuatu yang tak bisa kupahami

Kau istimewa, Teman
Tuhan telah memilihmu

Kau, Utusan Alam Rahim...

Kelak kau akan tahu
Bahwa peranmu tak lagi abu-abu






Kusut

Kamis, 17 September 2015

Semua kusut di kepala
Terlampau sulit mengurainya dengan kata-kata...
Inginku sederhana saja
Tuhan mengembuskan napas pada tiap kata
Terlalu mulukkah?
Ah, sementara aku terus berpikir, di sini, di benakku, kusut kian meraja...







Rapuh


Semua menjadikanku tameng...
Pernahkah mereka berpikir bahwa diriku adalah kumpulan rapuh yang mencoba bersatu dan menguatkan diri sendiri?
Namun kenapa akumulasi dari segala kerapuhan ini yang kerap ditaruh dan didorong di barisan depan untuk menyelamatkan beban mereka?
Kerapuhan yang selalu tampak kuat atau dikuat-kuatkan ini...





Kata

Rabu, 16 September 2015

Sebuah lagu tak mesti punya kata
Layaknya sebuah instrumen...
Bukankah yang berkata itu kerap melukai?
Bahkan, hanya dengan kata dapat membunuh apapun yang tampak hidup