Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Kesepian
Diposting oleh Yuki Kamis, 05 November 2015
Onggokan sepi merayap rupa
Kerikil hampa penuhi hati
Terhempas kekosongan yang menggunung
Alunan nada ceria hentikan denyut jantung
Variasi warna menebar tak terhiraukan
Ingin raib, ingin musnah, ingin tiada
Agar tak kumiliki hampanya jiwa
Menara sendu berdiri anggun
Ejaan sepi pun tak lagi terbaca
Tidur saja senang itu!
Agar kelabu erat menyatu dengan kesunyian...
Lingkaran tawa mengurung hampa
Opini tentang bahagia terhanyut sudah
Venus tersenyum dalam kemenangan
Akan kekosongan yang terpantul di seraut wajah
Yakini aku untuk ke sekian kali; aku telah kalah
Episode demi episode terlewati dengan desahan murung
Niat mengukir senyum raib sudah
Perihal Aku
Diposting oleh Yuki Sabtu, 03 Oktober 2015Kadang aku ingin jadi seseorang
Yang dengan mudah menjabarkan perasaan
Mengucapkan, “Aku menyayangimu” berkali-kali
Seperti hujan yang tumpah
Namun, aku hanyalah seseorang
Yang memilih menelan semua rasa
Hanya untukku...
Hanya untukku...
Tak pernah ada ruang bagi yang lain
Untuk melongok hatiku
Untuk paham hatiku
Kalimat “Aku
menyayangimu” yang nyaris keluar
Kutelan sekali lagi
Kadang aku benci menjadi seperti ini
Namun yang kutahu aku mesti begini
Aku adalah aku...
Seseorang yang tak bisa menjabarkan perasaannya sebagaimana hujan yang tumpah...
Seperti yang Lain
Diposting oleh Yuki Selasa, 29 September 2015
Sebuah pelukan
Sepotong tawa
Hanya mengamati dari kejauhan
Kala kau mendekat
Kumundur selangkah
Aku tak mau kau sadar
Akan ceceran hatiku...
Terus berdiri di tempat ini
Batas teraman agar kau tak tahu
Keinginan-keinginan yang tak tersuarakan
Ah, sesungguhnya aku seperti yang lain
Namun, aku memilih mematikan keinginanku
Agar kau tak mendengar...
Agar semesta tak mendengar...
Kelak, kutahu akan menyesal
Sebab menahan diri seperti ini
Sebab membentengi diri darimu
Sebab memilih mati...
Utusan Alam Rahim
Diposting oleh Yuki Jumat, 18 September 2015Kali pertama kau mengungkapkan
Hatiku
tergetar
Bukan
Bukan tak percaya laksana yang lain
Aku selalu memercayaimu
Sebab, kau berbeda...
Kau bergelimang kejujuran
Maka, aku memutuskan percaya
Tak terkecuali tentang itu
Aneh, bukan?
Aku memercayai sesuatu yang tak bisa
kupahami
Kau istimewa, Teman
Tuhan telah memilihmu
Kau, Utusan Alam Rahim...
Kelak kau akan tahu
Bahwa peranmu tak
lagi abu-abu
Rapuh
Diposting oleh YukiSemua menjadikanku tameng...
Pernahkah mereka berpikir bahwa diriku adalah kumpulan rapuh yang mencoba bersatu dan menguatkan diri sendiri?
Namun kenapa akumulasi dari segala kerapuhan ini yang kerap ditaruh dan didorong di barisan depan untuk menyelamatkan beban mereka?
Kerapuhan yang selalu tampak kuat atau dikuat-kuatkan ini...
Kerapuhan yang selalu tampak kuat atau dikuat-kuatkan ini...
Langganan:
Postingan (Atom)









