Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Hal-hal yang Menggerakkan Kehidupanku

Rabu, 14 Oktober 2015

Mereka bilang hidupku sempurna. Tak ada kesulitan. Tak ada nestapa. Lantas, kalau begitu, apa alasan lelaki yang mengaku dapat melihat masa lalu itu membasahi korneanya kala menyelami sepasang manik mataku?

Itu tak lain karena ia menemukan luka yang coba kusembunyikan. Luka yang kupikir telah kutinggalkan di masa lalu, namun ternyata tidak. 

Sejauh ini, aku tak mau membagi luka itu kepada siapa pun. Hanya aku yang hidup bersama luka itu. Dan, begitulah, luka itu sukses menggiringku dalam kehancuran dan tersedot dalam lubang hitam yang tak berujung.

Aku berusaha semampuku. Membuat orang-orang terdekat percaya, bahwa aku baik-baik saja. Melahirkan senyum palsu. Membangun dinding di luar diriku yang seolah-olah tampak begitu kokoh. Namun, sebenarnya, setiap detik di dalam diriku tengah mengalami kehancuran.

Mereka bilang, “Hidupmu enak. Kau beruntung bisa mendapatkan itu. Kau sungguh diberkati bisa begini.” Sayangnya, satu hal yang mereka tak pernah tahu; hidupku jauh dari kata ‘beruntung’. Semua yang kuperoleh, adalah murni kerja kerasku. 

Malam-malam yang kuhabiskan untuk berjuang, lingkaran hitam di bawah mata yang kian melebar lantaran waktu tidur yang kian singkat, buku-buku yang susah payah kudapati dan kubaca baris per baris, orang-orang yang kutemui untuk bertanya ini dan itu demi menambah ilmu. Dan, sekali lagi kau bilang dengan enteng bahwa apa yang kudapatkan adalah keberuntunganku?

Di saat kau terbuai dalam mimpi indah, aku masih terjaga di depan layar laptop, dan di saat kau telah makan entah untuk ke berapa kali, aku bahkan tak punya waktu untuk sekadar mencuci muka, apalagi memikirkan mengisi perut. Lantas, masihkah kau ingin memejamkan mata atas segala jerih payahku yang jelas-jelas jauh lebih besar dibandingkanmu?

Sekali lagi, aku tidak seberuntung yang kau pikirkan.

Barangkali, kalau kuceritakan apa yang dilihat oleh lelaki yang mengaku bisa melihat masa lalu itu, kau pasti akan tercengang. Mungkin kau akan berujar bahwa hidupku tak ada beda dengan telenovela. Begitu kelabu, begitu sendu. Tapi, mari kita lupakan perihal masa lalu yang tak pernah ingin kubahas itu. Bagaimana kalau kita membahas tentang topik lain, seperti uang, misalnya...

Ya, uang. Uang yang mungkin kau dan kebanyakan orang agung-agungkan itu. Tapi, maaf saja... uang bukanlah sesuatu yang menggerakkanku. Tentu saja dengan uang aku bisa membeli banyak buku keren, pakaian model terbaru, atau barangkali seperangkat perlengkapan make up merk ternama? Namun, sayangnya, dibandingkan uang, masih banyak hal lain yang jauh lebih membuatku tergerak. 

Dan, hal teratas yang paling memengaruhiku sejauh ini adalah ketulusan. Ya, ya, tentu saja uang tak akan dapat membeli ketulusan, tapi dengan ketulusan manusia dapat menjamah hati siapa pun, bukan?

Begitulah, aku suka, atau lebih tepatnya terobsesi dengan konsep hubungan antar manusia. Sayangnya, aku tak terlalu suka terlibat langsung dalam interaksi antar manusia. Oh, bukankah aku membuatmu bingung sekarang? Maafkan aku. Aku pun seringkali bingung dengan diriku sendiri.

Jadi, kapan-kapan, kalau kau kembali ingin memamerkan uangmu, sebaiknya carilah seseorang yang lain selain aku. Sebab, kalau kau membahas hal itu denganku, kau hanya akan membuang-buang waktu.

Satu-satunya yang membuatku tertarik adalah ketulusan dan kebaikan seseorang, bukan orang yang suka mengagungkan dirinya sendiri dan meremehkan kerja keras dan usaha orang lain. Kuharap kau mengingat itu.





Jangan Nilai Sesuatu dari Sampulnya (Bagaimana Perjuangan Seorang Introvert)

Selasa, 30 September 2014
Kebanyakan orang terlampau sering menilai seseorang dari bungkus luarnya. Mengecap seseorang sombong, menandai orang yang lain ramah dan baik hati, serta berbagai bentuk penilaian lainnya terhadap orang yang mereka kenal sambil lalu.

Pernahkah kalian berpikir bahwa barangkali semua yang kita perhatikan pada orang-orang asing yang kita temui itu adalah semacam ‘topeng’ untuk menutupi diri mereka yang sejatinya? Bagaimana jika mereka sebenarnya tidak sesuai dengan sampul yang mereka tunjukkan?

Barangkali kita sering merasa kesal pada orang yang terlihat sombong dan irit kata. Kita akan mengecap mereka dengan mudah sebagai si anti sosial, sebab mereka sama sekali tidak ramah dan terkesan sibuk dengan diri mereka sendiri, alias egois.

Mereka kadang tak perlu dan tak ingin membuka obrolan basa-basi dengan kita yang baru dikenal mereka sepintas lalu. Namun ada kata-kata dari William James yang perlu kita perhatikan yakni,"Seorang manusia memiliki diri sosial sebanyak keberadaan kelompok orang yang berbeda yang pendapatnya dia pedulikan. Dia biasanya menunjukkan sisi lain yang berbeda dari dirinya bagi tiap-tiap kelompok yang berbeda ini."

Nah, jadi mungkin saja si anti sosial ini ternyata dikenal sebagai orang yang ramah dan suka menolong temannya yang kesulitan, bahkan mungkin ada kenalannya yang mengatakan bahwa si anti sosial itu adalah tipe humoris dan menyenangkan. 

Itu mungkin saja.

Terkadang memang manusia menunjukkan sifat-sifat tertentunya hanya kepada sebagian orang. Dan sifat kita kepada orang yang satu dengan yang lain tentu tidaklah sama persis. Terkadang kita menyesuaikan dengan siapa kita berinteraksi.

Ya, jadi kita memang dapat merentangkan kepribadian kita, tapi hanya sampai titik tertentu. Seperti teori karet gelang kepribadian yang dipaparkan oleh Susan Cain, kita ini elastis dan bisa merentangkan diri kita sendiri,tetapi dengan keterbatasan.

Mungkin saja si anti sosial (introvert) dapat menjadi sosok yang supel, ramah, dan humoris, namun tentu saja ia tak bisa melakukan itu terus-menerus, karena itu bukan sifat alamiahnya. Sekuat apa pun ia mencoba mengubah dirinya, ia tak akan bisa melepaskan diri dari warisan genetiknya. Jadi si anti sosial hanya bisa menyamar menjadi sosok ekstrovert, tapi bukan berarti serta-merta ia berubah menjadi sosok ekstrovert.

Tentu saja tidak mudah menyamar atau melakoni sesuatu yang bukan diri kita, seperti itulah yang mungkin kerap dirasakan para introvert. Tapi terkadang demi dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya, mereka mau tidak mau mesti menyamar. Namun, dalam melakukan penyamaran mereka, mereka harus mempunyai semacam ‘relung penyembuhan’.

Relung penyembuhan yang dimaksud di sini adalah waktu bagi diri introvert itu sendiri setelah menghabiskan energi mereka untuk terus berinteraksi dengan orang banyak. 

Sangat berbahaya apabila seorang introvert tidak memiliki relung penyembuhan bagi dirinya. Kenapa saya dapat mengatakan seperti itu? Karena saya pernah mengalaminya sendiri. 

Tanpa adanya relung penyembuhan, hal itu akan berdampak pada kesehatan fisik dan psikis si introvert itu sendiri. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Profesor Little yang mengatakan bahwa, "Berperilaku di luar karakter dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf autonomic, yang dapat, pada gilirannya, membahayakan fungsi imunitas."

Nah, semoga setelah ini kita tidak gampang menilai orang dari sampulnya saja. Karena para introvert terkadang melakukan perjuangan yang berat, melawan atau berharap dapat mematikan karakternya hanya agar di terima dunia.