Tampilkan postingan dengan label Yuya Takaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yuya Takaki. Tampilkan semua postingan

TELL ME GOODBYE # 5

Sabtu, 25 Mei 2013

Author : Wintervina
Genre  : Romance-Comedy
Type   : Multi-chapter
Cast    :


-Yuya Takaki as Draco Malfoy
-Kei Inoo as Hermione Granger
-Ryutaro Morimoto as Harry Potter
-Yuto Nakajima as Ronald Weasley
-Yuuri Chinen/Yuuri Nakajima as Ginny Weasley
-Hikaru Yaotome as Blaise Zabini
-Keito Okamoto as Theodore Nott
-Ryosuke Yamada/Ryoko Yamada as Pansy Parkinson
-Jhonny Kitagawa as Severus Snape
-Kouta Yabu as Argus Flich
-Daiki Arioka as Madam Pomfrey

---------------------------------------------------------------------------------



Chapter  5



Yeah, di sinilah Kei menghabiskan waktunya di saat semua teman-temannya sedang sibuk bergelut dengan berbagai mantra ‘Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam’ —perpustakaan Hogwarts. Well, seperti rencananya saat sarapan pagi tadi, ia mesti menemukan cara untuk membuat ramuan penangkal amortentia yang menurutnya tengah mengganggu kerja otaknya sehingga akal sehatnya saat ini menjadi tumpul. Yeah, mencintai seorang Yuya Takaki adalah sebuah aib bagi gadis manis dengan otak jenius se-Hogwarts itu.

Ia memandang bosan ke puluhan buku tebal di hadapannya yang telah sejak dua jam lalu menemaninya di ruang perpustakaan yang lengang itu. Namun gerakannya menjadi antusias membolak-balik buku di genggamannya itu kala mengingat seringai bodoh milik pangeran Slytherin—Yuya Takaki—tentu saja. Cih! Dia begitu membenci pemandangan itu. Pemandangan di saat pangeran Slytherin itu membagi gratis seringaian bodohnya yang membuat hampir seluruh gadis Hogwarts menjerit-jerit histeris—kecuali dirinya tentu saja. Oh ya?? Benarkah ia membenci hal itu? Namun jeritan hatinya yang lain mengatakan ia sangat menyukai seringaian khas pangeran darah murni itu. Sangat sangat menyukainya! Sesaat Kei menghentikan kegiatan menulisnya di atas perkamen cokelat di hadapannya. Ia bergidik ngeri membayangkan apa yang baru saja dipikirkannya. Well, tak ada yang lebih mengerikan dibandingkan menemukan fakta bahwa kau mencintai orang yang selama ini selalu kau anggap sebagai musuh bebuyutanmu!

Sementara di kelas ‘Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam’ Yuya berkali-kali melenguh bosan. Kurasa kalian sendiri tahu benar apa yang membuat pemuda jangkung yang berwajah tampan itu hari ini kelihatan tak bergairah—bahkan tidak fokus sama sekali saat mengikuti pelajaran. Hal tersebut tak lain karena gadis berambut menyerupai surai singa kebanggaan Gryffindor yang sejak tadi tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Menemukan kenyataan bahwa gadis yang sering dijuluki si ‘nona-tau-segala’ itu membolos—yang demi Merlin tak pernah dilakukannya seumur ia berada di Hogwarts—itu membuat Yuya diliputi tanda tanya. Ada hal apakah yang membuat gadis yang paling menomorsatukan pelajaran itu tiba-tiba absen hari ini? Keluh pemuda itu yang tentu saja dilakukannya dalam hatinya.

***



Cklek.


Pintu besi itu menjeblak terbuka dan memperlihatkan sesosok pemuda jangkung yang menatap tajam ke arah gadis yang masih sibuk mencoret—tepatnya menulis—sesuatu di perkamen miliknya. Menyadari gadis berambut ikal itu tak kunjung menghiraukan kedatangannya membuat pemuda itu menjadi sangat kesal.

“Ke mana saja kau sampai tak mengikuti pelajaran ‘Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam’ huh?” tanya pemuda itu menatap tajam ke sosok gadis yang masih tekun menulis sesuatu yang kelihatannya begitu penting—sampai-sampai ia mengabaikan keberadaan pemuda jangkung Slytherin itu yang saat ini telah duduk manis di sampingnya.

“Dan sejak kapan kau begitu peduli dengan segala apa yang kulakukan Tuan─Berdarah─Murni?” ujar Kei tanpa mengalihkan pandangannya dari perkamen yang ada di hadapannya saat ini.

“Hei! Dengar! Siapa yang mempedulikan keberadaan gadis jelek sepertimu? Errr, aku kan hanya sekedar basa-basi saja padamu!” ujar Yuya berusaha mencari kesibukan karena mata Kei sejak beberapa detik lalu terus mengawasinya dengan tatapan menyelidik.


“Oh ya? Aku tak tahu harus senang ataukah sedih mengetahui seorang Pangeran Slytherin ini sekarang sudah pandai berbasa-basi selain keahlian membagikan seringaian bodoh gratis kepada gadis-gadis yang tak kalah bodohnya itu,” ujar Kei dengan nada sarkastis diiringi tawanya yang amat renyah namun menusuk di telinga Yuya,”Oh, baiklah. Aku harus pergi sekarang. Maaf sekali Takaki karena aku tak punya waktu untuk sekedar meladeni segala basa-basimu yang membosankan itu.” Kei melenggang santai menuju pintu di depannya.

“Hei, kau mau ke mana lagi??! Bukannya sebentar lagi kita harus berpatroli Nona-Tahu-Segala??!” teriak Yuya dengan wajah kesal.

“Jangan sebut aku ‘Nona-Tahu-Segala’ jika aku sampai tak tahu jadwal patroliku, Mr. Takaki,” ujar Kei menggeram “Well, sampai jumpa nanti malam!”



BLAM.




Pintu besi itupun kembali tertutup. Sementara Yuya hanya diam terpaku di tempat duduknya. Sibuk memikirkan tingkah Kei yang menurutnya ‘sangat aneh’ akhir-akhir ini.

***


Kei dengan mata berbinar-binar melangkahkan kakinya menuju ruang asrama ketua murid. Di genggamannya kini terdapat tabung berukuran kecil kira-kira setelunjuk jarinya. Di dalam tabung itu berisi ramuan yang baru saja diraciknya sendiri secara diam-diam dengan menggunakan bahan-bahan di laboratorium  pribadi professor Jhonny Kitagawa yang tentu saja dilakukannya secara diam-diam dengan bantuan jubah gaib pinjaman dari Ryutaro yang semakin mempermulus aksinya. Kei tersenyum membayangkan sebentar lagi perasaan bodohnya pada Pangeran Bodoh Slytherin itu akan musnah sudah. Namun sisi lain dirinya merasa sangat sedih dan menginginkan perasaannya itu tidak berakhir begitu saja. Karena entah mengapa perasaan itu kian lama kian terasa indah. Kei menjadi bertanya-tanya dalam hatinya beginikah rasanya jatuh cinta? Rasanya begitu menyenangkan sekaligus mendebarkan. Aneh sekali.

Sesampai di ruang rekreasi asrama Ketua Murid, Kei segera menyihir secangkir capuccino panas dari udara hampa. Ia menyunggingkan senyum ketika memandang secangkir capuccino yang masih mengepulkan asap itu kini berada di hadapannya. Dengan cekatan ia menuangkan habis ramuan yang ada di genggamannya sejak tadi—ramuan penangkal amortentia. Setelah mengaduknya beberapa saat, Kei mencium sekitar jubahnya yang menurutnya sangat bau dan sedikit basah oleh keringatnya.

Well, tampaknya aku harus mandi terlebih dahulu,” pikirnya yang kemudian segera beranjak menuju kamar mandi.

Selang beberapa saat kemudian sesosok pemuda berperawakan tinggi memasuki ruang rekreasi asrama ketua murid. Sunyi senyap. Itulah kesan pertama yang didapatkannya saat  berjalan memasuki ruang itu. Tapi, errrrr—sepertinya ia salah. Ruang rekreasi itu tak sesepi yang semula dibayangkannya. Masih terdengar suara guyuran air sesekali waktu yang ia yakini berasal dari arah kamar mandi yang letaknya lumayan jauh dari tempatnya sekarang. Ia pun memutar kedua bola matanya bosan. Dan tak lama kemudian menghempaskan bokongnya begitu saja pada sofa empuk yang tersedia di ruang rekreasi tersebut. Sesekali pemuda itu menghela napas panjang. Tampaknya ia sangat kelelahan. Namun saat baru saja hendak memejamkan kedua matanya, ia mencium aroma yang sangat menggoda. Serta merta ia pun membuka kedua kelopak matanya lebar. Mencari sumber dari aroma harum yang berhasil membuat tidurnya terganggu. Tak lama kemudian pemuda tersebut tersenyum—atau menyeringai? Ah, entahlah. Bahkan ia sendiri tak pernah tahu apa bedanya tersenyum dan menyeringai itu. Menurutnya keduanya sama saja.

Kini tangannya dengan tanpa basa-basi meraih cangkir yang sedang menebarkan aroma kesukaannya—capuccino.



1 detik.




2 detik.



5 detik.



Dan tak perlu waktu lama baginya untuk menghabiskan secangkir capuccino hangat yang salah sendiri menggodanya tersebut.

***


Setelah selesai berganti baju Kei segera keluar dari kamarnya menuju ke ruang rekreaksi. Dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat pemandangan di hadapannya. Kedua mata hitamnya membulat sempurna manakala melihat secangkir capuccino hangat yang tadi ditinggalkannya ketika ia mandi kini telah habis menyisakan cangkirnya saja. Dan kenyataan yang semakin membuat Kei menjadi semakin marah adalah karena sesosok mahluk menyebalkan yang menurutnya tak lain adalah titisan sang iblis tersebut tengah tertidur pulas di sofa yang ada di hadapannya. Tak perlu waktu lama bagi otak segenius Kei untuk menyadari bahwa penyebab hilangnya capuccinonya itu tak lain adalah Yuya Takaki penyebabnya! Ya! Siapa lagi tersangka lain yang lebih pantas selain pangeran iblis itu. Pikir Kei dengan geram.

“Hei!! Bangunlah Tuan Takaki! Ayo bangun! Sebelum aku mengutukmu dengan mantra mematikan!” teriak Kei yang seketika itu memecah keheningan yang sejak tadi menaungi asrama ketua murid.

Aneh. Pemuda yang dibangunkannya itu tak memberi respon yang berarti.

“Hei! Kau jangan berpura-pura mati, dengar?! Dasar pengecut!!” teriak Kei lagi namun kali ini tepat di kuping Yuya yang membuat pemuda tersebut akhirnya mau tidak mau membuka mata.

“Dada—ku—sa—kit. Uhuk...uhuk~” ujar Yuya kemudian sambil mencengkeram dadanya.

Melihat hal itu Kei pun memutar kedua bola matanya bosan.

“Hei, ternyata sekarang kau tak hanya pintar berbasa-basi tapi sepertinya—bersandiwara juga. CEPAT BANGUN!! ATAU AKU AKAN MENGIRIMKAN KUTUKAN RICTUSEMPRA PADAMU!!” teriak Kei kali ini dengan sangat lantang. Wajahnya kini berubah merah demi menahan emosi yang membakarnya.

Namun Kei merasa bingung karena Yuya tak juga kunjung bangun. Malahan aktingnya semakin menjadi saja. Memegangi dadanya dengan wajah yang sepertinya menahan sakit. Hebat! Pikir Kei. Aktingnya sangat menakjubkan. Namun sayangnya akting sebagus itu tak akan mempan untuk mengelabuinya.  Errrr, apakah Rictusempra tak cukup menakutkan untuk siluman iblis itu? Ujar Kei dalam hati.

“UHUK! UHUK! UHUK! UHUK!!” Yuya terus batuk-batuk tanpa henti. Beberapa butir keringat tampak menghiasi wajahnya yang nampak memucat itu.

Melihat hal itu, Kei baru berpikir sepertinya dari tadi Yuya tidak sedang berakting. Ia pun berjalan ke arah Yuya dengan raut wajah cemas.

“Takaki, kau kenapa?” tanyanya yang kini telah berada di samping sofa tempat Yuya berbaring.

“I—noo...” Yuya mencoba berbicara namun dadanya tersebut semakin terasa menyempit.

“Iya, Takaki. Katakan padaku kau kenapa? Apa yang sudah terjadi padamu?” ujar Kei yang kini menggenggam erat tangan kanan Yuya yang saat itu terasa sangat dingin.

“HHHHHHHHHH~” Yuya mencengkeram dadanya dengan kuat sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

***


Sudah tiga hari ini pemuda Slytherin dengan seringai khasnya itu terbaring di rumah sakit. Dan kini seperti hari-hari sebelumnya, tubuhnya kembali diperiksa oleh Madam Arioka. Sesekali matanya memandang ke luar jendela rumah sakit. Berusaha mencari keberadaan partner kerjanya sebagai Ketua Murid. Well, siapa lagi kalau bukan Kei Inoo. Entah kenapa sehari saja tak menjahili gadis berambut surai singa itu membuat dia gila setengah mati. What??! Apa yang baru saja dipikirkannya? Yuya menggeleng-gelengkan kepalanya spontan.

“Kau kenapa menggeleng-gelengkan kepalamu seperti itu Mr.Takaki?” ujar Madam Arioka dengan tatapan heran.

“Oh, ti—tidak. Aku hanya merasa leherku sedikit—encok,” ujar Yuya yang tentu saja berbohong.

Well, beistirahatlah lagi. Kulihat keadaanmu hari ini sudah lebih membaik,” ujar perempuan bertubuh gempal itu yang kemudian berlalu pergi meninggalkan ruang tempat di mana Yuya dirawat.


Cklek.


Terlihat sesosok gadis— yang tidak bisa dibilang anggun —memasuki ruang tempat di mana Yuya menghabiskan harinya selama tiga hari belakangan ini.

Gadis itu menatap Yuya dengan seksama. Pandangannya menyusuri setiap detail tubuh pemuda jangkung yang tengah berbaring dengan tatapan bosan—atau tepatnya pura-pura terlihat bosan—melihatnya.

“Hei, berhentilah menatapku dengan pandangan seolah-olah aku ini makanan lezat untukmu!” teriak pemuda itu yang kini merasa jengah dengan tatapan Kei yang membuatnya salah tingkah.

“Bagaimana keadaanmu?” gadis itu mengabaikan teriakan tak penting yang baru saja didapatkannya dari pemuda di hadapannya sesaat lalu. Ia pun segera menyihir sebuah tempat duduk empuk dari udara hampa. Dan kini dengan tatapan yang tak terlepas dari Yuya, ia pun menduduki tempat duduk yang berada di samping ranjang Yuya.

“Kurasa kau punya sepasang mata yang bisa kau gunakan untuk melihatnya sendiri, bukan?”

“Yeah, kau benar. Menurut yang kulihat, kau sudah terlihat sangat membaik. Kurasa besok atau lusa kau sudah dibolehkan pulang oleh Madam Arioka.”

“Yeah! Terima kasih telah hampir membunuhku!”

Seketika kedua alis Kei bertaut.

“Apa yang kau maksud dengan ‘hampir membunuhmu’ huh?!”

“Pikir saja sendiri. Kupikir otak genius yang selalu kau banggakan itu masih dapat bekerja dengan baik bukan?”

Kei menggeram demi mendengar apa yang pemuda jangkung di hadapannya itu katakan.

“Hei! Dengar Yuya Takaki!! Siapa yang ‘hampir membunuhmu’ huh?! Bukannya kau sendiri yang dengan penuh sopan santun mengambil minuman milik orang lain dan menghabiskannya?! Benar-benar sangat sopan sekali!”

Mendengar itu kini giliran Yuya yang menjadi sangat kesal.

“Siapa suruh meletakkan capuccino begitu saja di meja di saat aku sedang kelelahan dan kehausan? Tentu saja itu sangat menggodaku untuk mencicipinya.” Yuya membela diri.

“Bagaimanapun tetap saja kau tak berhak menyentuh apalagi mencicipi sampai HABIS capuccino yang jelas-jelas BUKAN milikmu!”

“Kenapa tidak?! Salah sendiri kau meninggalkannya begitu saja.”

“Kau benar-benar menyebalkan!”

“Kau lebih!” ujar Yuya tak mau kalah.

Sesaat keadaan di ruangan itu berubah hening.

“Seharusnya kau bersyukur padaku karena capuccino-mu aku habiskan. Mungkin jika aku tidak melakukan itu, yang terbaring di ranjang rumah sakit ini sekarang adalah kau—Inoo.”

Mendengar itu Kei terdiam. Ia kaget dan tak menyangka bahwa Yuya akan berkata demikian.

“Maaf itu semua salahku,” ujar gadis Gryffindor itu yang kini menjadi sedikit melunak.

Mendengar itu Yuya menyeringai licik.

“Kudengar dari Madam Arioka kau sebenarnya ingin meracik ramuan penangkal amortentia, bukan begitu kan? Namun sayangnya seorang Kei Inoo yang terkenal kegeniusannya se-Hogwarts itu salah meracik ramuan penangkal amortentia yang sangat sederhana itu. Sungguh memalukan! Ckckck~” ujar Yuya sambil menggeleng-gelengkan kepala seolah-olah tak percaya.

Melihat itu tangan gadis berambut ikal lebat itu terkepal kuat. Seketika itu juga wajahnya berubah merah menahan amarah.

“Oh ya..., ramuan penangkal amortentia ya? Errr, memangnya siapa yang sangat bodoh atau bahkan abnormal memberi ramuan amortentia itu padamu yang—yah seperti ini?” ujar Yuya menatap Kei dengan pandangan merendahkan.

Baru saja akan menyerang Yuya dengan segala umpatan kasarnya, tiba-tiba saja pintu besi di hadapan mereka menjeblak terbuka menampakkan sesosok lelaki tua berjubah hitam kelam yang paling disegani oleh seluruh murid Hogwarts—Professor Jhonny Kitagawa.

“Ada apa, Prof?” ujar Yuya yang tampaknya dapat membaca wajah cemas yang tertanam di wajah galak Jhonny.

“Mereka menyerang kita—para Pelahap Maut itu! Hogwarts sekarang dalam bahaya.”

Mendengar hal itu, baik Kei maupun Yuya sama-sama terkejut. Namun kemudian tak perlu waktu lama, keduanya telah bersiap mengikuti langkah dingin Jhonny. Menuju Aula Besar—ah, tepatnya menuju arena pertarungan. Yuya yang walau tampak masih sedikit pucat itu tentu saja tak bisa tinggal diam saja. Mengabaikan segala rasa sakitnya, ia mencengkeram tongkat sihirnya erat-erat. Ini adalah saat di mana ia harus mempertahankan Hogwarts. Pikirnya.

***


Aula Besar tersebut kini berubah fungsi menjadi arena pertarungan. Masing-masing orang terlihat saling melemparkan kutukan. Dan berbagai cahaya berwarna-warni keluar dari ujung-ujung tongkat dengan amat sangat cepat. Dan saat ini Kei tengah dikerubungi oleh tiga orang Pelahap Maut. Mereka semua menggunakan topeng yang menyamarkan wajah mereka.

“Petriticus totalus!” ujar salah seorang Pelahap Maut tersebut. Seketika cahaya berwarna hijau keluar dari ujung tongkatnya menuju ke arah Kei berdiri. Namun dengan gerakan cepat Kei pun merapalkan mantrany, ”Protego!” Dan seketika cahaya hijau dan merah bertemu dan saling meledak menjadi serpihan-serpihan api kecil.

“Expelliarmus!” ujar Kei lagi saat seorang Pelahap Maut hendak menyerangnya,”Stupefy!” lanjutnya lagi.



BRUK!



Seorang Pelahap Maut jatuh tak sadarkan diri saat kutukan Kei tepat mengenai dadanya. Melihat hal itu, teman Pelahap Maut tersebut menjadi marah dan tanpa sepengetahuan Kei ia dengan sigap merapalkan salah satu kutukan tak termaafkan. Melihat hal itu Yuya yang saat itu sedang bertarung dengan beberapa Pelahap Maut serta merta berlari mendekat ke arah Kei.

“Crucio!”

Seketika cahaya berwarna merah yang keluar dari ujung tongkat salah satu Pelahap Maut mengenai seorang pemuda yang berlari secara tiba-tiba dari arah belakang mereka.


BRUK!



Yuya terjatuh sambil mengerang kesakitan. Melihat hal itu Kei segera merapalkan kutukan tak termaafkan yang dulunya menyebabkan kematian ayah dan ibu Ryutaro—sahabat baiknya itu.

“Avada kedavra!” ujarnya pada Pelahap Maut di hadapannya. Seketika itu juga dua pelahap maut yang posisinya berdekatan saat itu serta merta jatuh dan kehilangan nyawanya tentu saja—mengingat itu adalah kutukan yang paling mengerikan yang pernah ada. Kei terpaksa melakukan itu. Mengingat Pelahap Maut itu pantas mendapatkannya karena telah melukai Yuya Takaki!

“Takaki... bertahanlah! Kumohon!” Kei menghampiri lelaki bertubuh jangkung yang kini tengah menahan rasa sakit yang luar biasa.

“Inoo..., jangan menangis seperti ini.” Pemuda itu di tengah kesakitannya masih mencoba mengusap air mata Kei yang tanpa diperintahkan olehnya mengalir begitu saja dari sudut matanya.

“Takaki! Bertahanlah! Bertahanlah Takaki! Kau tidak boleh lemah seperti ini~” Kei mengguncang-guncangkan tubuh lelaki jangkung di hadapannya itu sambil diiringi isak tangis yang membanjiri kedua pipi mulusnya. Namun mata Yuya malah semakin menutup. Seakan-akan ada perekat yang membuat kelopak matanya sulit sekali untuk membuka kembali. Namun sayup-sayup suara Kei yang menangis masih bisa didengar olehnya.

“Takaki bangun! Bangunlah Takaki! Aku sangat menyukaimu! Aku sangat sangat menyukaimu, Pangeran Slytherin! Ayo, bangunlah!” Kei masih mengguncang-guncangkan tubuh yang tak berdaya di hadapannya itu. Seketika dipandanginya wajah Yuya yang pucat tersebut. Ada sebuah senyum tergores di sana. Yeah, itu benar-benar sebuah senyum. Kali ini Kei merasa tak salah lihat. Yuya ternyata bisa tersenyum—selain menyeringai angkuh seperti yang biasa dilakukannya.

Sementara Yuya yang mendengar segala ungkapan perasaan Kei padanya mengukir senyum damai di bibir tipisnya yang biasa ia gunakan untuk menghina dan mengejek Kei hanya untuk mencari perhatian gadis itu. Ya, Yuya bahkan sudah lebih dulu menyadari  perasaannya terhadap gadis terpintar se-Hogwarts itu.

Kei segera memeluk Yuya yang terbaring lemah di hadapannya. Kedua mata pemuda jangkung itu masih tertutup rapat. Padahal Kei ingin sekali menatap mata dingin milik Yuya yang biasanya digunakan untuk memandangnya.

“Takaki bangunlah... Sekarang aku akui aku—sangat mencintaimu... Bangunlah Takaki!” pelukan Kei semakin erat pada pemuda jangkung itu.

Begini saja sudah cukup untuk Yuya Takaki. Mengetahui gadis yang kini tengah memeluknya memiliki perasaan yang sama padanya membuatnya tenang meninggalkan dunia ini.

‘Itu adalah pernyataan selamat tinggal yang sangat kuharapkan, Inoo Kei. Tetaplah hidup dan mencintaiku’ ujar Yuya dalam hatinya sebelum akhirnya tubuhnya meregang dan napasnya tiba-tiba saja berhenti.

-Owari-

TELL ME GOODBYE # 4



Author : Wintervina
Genre  : Romance-Comedy
Type   : Multi-chapter
Cast    :



-Yuya Takaki as Draco Malfoy

-Kei Inoo as Hermione Granger
-Ryutaro Morimoto as Harry Potter
-Yuto Nakajima as Ronald Weasley
-Yuuri Chinen/Yuuri Nakajima as Ginny Weasley
-Hikaru Yaotome as Blaise Zabini
-Keito Okamoto as Theodore Nott
-Ryosuke Yamada/Ryoko Yamada as Pansy Parkinson
-Jhonny Kitagawa as Severus Snape
-Kouta Yabu as Argus Flich
-Daiki Arioka as Madam Pomfrey



---------------------------------------------------------------------------------



Chapter  4



Yuya terbelalak tak menyangka bahwa akhirnya Kei memiliki nyali juga untuk menolongnya. Beberapa detik setelah bibir Kei mendarat tepat di bibirnya, ia kembali merasakan seluruh fungsi tubuhnya kembali. Begitu pula dengan sendi-sendinya yang lebih leluasa untuk digerakkan. Kini ia bukan lagi mayat hidup atau patung bernyawa. Menyadari itu, hatinya bersorak riang. Saking terlalu bersemangatnya ia menemukan dirinya bebas dari jeratan— mistletoe—pembawa—derita—itu, ia pun dengan refleks mendorong tubuh Kei menjauh darinya. Mendapat perlakuan seperti itu dari orang yang baru beberapa menit lalu mengemis-ngemis pertolongannya, Kei pun membelalakkan kedua matanya, memancarkan kemarahan. Namun jangan harap Yuya peduli tentang isi hati orang lain—terlebih isi hati seorang gadis lumpur seperti Kei Inoo. Ia malah sibuk menyajikan seringai busuk khasnya—bukannya malah berterima kasih lantaran sudah ditolong. Oh, baiklah. Jangan terlalu mengharapkan lebih dari seorang Yuya Takaki. Karena memang tak ada yang bisa diharapkan darinya. Kemampuannya kurasa hanya terletak pada kepandaiannya mengukir ‘seringaian—bodoh—yang—membuat—perut—berkontraksi—ingin—muntah’. Dan menunggu seorang Takaki ‘berterima kasih’?? Itu tak akan pernah terjadi! Kenapa? Well, sudah jadi rahasia umum bahwa Takaki paling anti untuk berterima kasih!

“Terpesona padaku, Inoo?” ujar Yuya dengan seringai busuk khasnya. Mencoba menggoda Kei yang masih terpaku di posisinya dan masih menatap Yuya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan,”atau—astaga!! Jangan-jangan kau kecanduan untuk menciumku?!” Yuya berkata dengan nada dibuat seolah-olah sedang ketakutan. Jari telunjuknya meraba bibirnya yang baru saja menyatu dengan bibir gadis yang masih menatapnya tak berkedip di hadapannya itu.

Mendengar itu, rona kemerahan menguasai kedua pipi Kei. Namun Yuya yang memang tak diciptakan hati dan perasaan yang peka itu tak menyadari bahwa wajah gadis di hadapannya semakin memanas—mencoba menahan segala luapan emosinya.

“Dasar kau Ular Licik menyebalkan! Jangankan mendahulukan untuk berterima kasih padaku, kau malah menggodaku seperti itu! Benar-benar menyesal aku telah menolongmu!” ujar Kei dengan emosi yang menguasainya.

Lagi-lagi Yuya menyeringai dengan gaya yang ‘memuakkan’ seperti biasa. Aneh. Entah kenapa ia tak pernah bosan untuk menyeringai bodoh seperti itu. Padahal Kei saja yang melihat itu sungguh dan dengan sangat jujur merasa muak—teramat muak bahkan. Mungkin dari kecil, orang tuanya tak pernah mengajarkan bagaimana cara tersenyum yang benar—begitu pikir Kei ketika melihat seringai khas Yuya Takaki entah untuk yang ke berapa ribu kali.

“Kupikir akan lebih tepat bila akulah yang mendengar ucapan terima kasih darimu, Inoo,” ujar Yuya dengan tampang arogannya menatap tajam hingga ke dalam mata Kei yang membuat gadis berambut ikal itu merasa sangat risih.

“Demi apa aku mesti berterima kasih pada ular bodoh sepertimu?! Demi rambut putih Merlin, aku tak akan pernah melakukannya! Tak—akan—pernah!!” Kei mendengus kesal, memberi penekanan di tiap kata yang digunakan di akhir kalimatnya.

Mendengar apa yang baru Kei katakan membuat pemuda jangkung di hadapannya melangkahkan kaki seperti hendak menghampirinya—dan ternyata memang benar begitu. Kini Kei dapat merasakan napas pemuda itu menerpa sebagian wajahnya. Namun ia mencoba untuk tak mempedulikannya—walaupun hal itu tentunya sangat sulit.

Yuya menyapu pandangannya ke seluruh wajah Kei—tanpa melewatkan  setitik bagian pun untuk diamati. Dan itu sukses membuat Kei menjadi jengah setengah mati. Melihat itu Yuya menorehkan senyuman—ralat—seringaian andalan di bibir tipisnya.

“Oh, Inoo. Seandainya kau tidak terlalu gengsi untuk mengucapkan terima kasih untukku, tentu akan lebih menyenangkan bukan?”

“Sudah ku bilang aku TIDAK AKAN PERNAH berterima kasih padamu!! Dengar?!”

“Kau yakin??” Kei mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang sudah tak bisa lagi dibendungnya terhadap putera tunggal keluarga Takaki itu,”kau tahu—banyak sekali gadis yang ingin untuk mendapatkan ciuman dariku. Dan setidaknya kau beruntung. Well, mungkin jika aku tidak dalam kondisi terdesak tadi, kau hanya akan menghayalkan saja mendapat ciuman dari seorang Yuya Takaki.”

Ada satu titik air mata yang mengalir perlahan dipipi Kei yang luput dari pantauan Yuya. Dan itu setidaknya membuat Kei lega. Karena ia paling benci memperlihatkan sisi lemahnya kepada orang lain—terlebih kepada pria busuk mesum yang saat ini tepat berada di hadapannya.

Kei menghela napas panjang, menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan menusuk. Ada kilatan kemarahan yang walau ia samarkan tetap saja menang dan menguasainya.

“Yeah, terima kasih Yuya Takaki!” ujar Kei kemudian sebelum menggertakkan giginya mencoba meredam luapan amarah yang makin membakarnya. Tanpa menunggu respon pria licik itu, ia secepat kilat mengambil langkah meninggalkan lorong gelap itu . Lanjutan kalimat yang diucapkannya hanya tersimpan di dalam hatinya sendiri. Tak berani untuk dikeluarkan. Dan lagi—untuk apa?! Hanya akan membuat pria licik itu merasa semakin berada di atas angin. Tentu saja hal itu sangat tidak diharapkannya.




Yeah terima kasih Yuya Takaki—karena telah mengambil ciuman pertamaku yang bagiku sangat berarti!




Kata-kata itu terus menari-nari dalam diri Kei. Kenapa?? Kenapa mesti Takaki brengsek itu yang mendapatkannya?! Ia telah menanti saat itu tiba—ciuman pertamanya. Tapi demi Merlin, tak sedetik pun ia pernah mengharapkan orang yang akan menciumnya adalah pria—mesum—bermoral—bejad—titisan—iblis bernama Yuya Takaki!

***


Pagi hari di aula besar, seperti biasa hiruk pikuk murid-murid bergema di seluruh penjuru aula itu. Seperti pagi-pagi sebelumnya di jam yang sama, pada saat ini mereka tengah menyantap sarapan mereka sebelum memulai pelajaran pagi hari ini. Di deretan meja panjang Gryffindor, terlihat Ryutaro, Yuto, dan Yuuri tengah menyantap sarapan mereka sambil bercakap-cakap. Tapi sesungguhnya yang bercakap-cakap sejak tadi hanya Ryutaro dan Yuuri saja—Yuto lebih memilih menggigit ayam panggangnya dalam kesunyian. Ini tentu kelihatan janggal sekali—mengingat biasanya Yutolah yang yang menjadi otak keributan saat kegiatan makan di aula. Tak hanya itu, di mana pun ada Yuto—menurut Ryutaro—pasti ada keributan. Sebab masih menurut Ryutaro—mulut Yuto akan kejang-kejang bila tidak ia gunakan untuk berbicara setidaknya sepuluh detik sekali. Yeah mungkin kau akan menganggap apa yang Ryutaro katakan itu kedengaran agak berlebihan. Tapi kujamin kau tidak akan meragukan segala ucapan Ryutaro bila kau berada setidaknya lima menit di samping pemuda jangkung Gryffindor itu.

“Hai~” ujar seorang gadis yang lalu mengambil tempat duduk di samping Yuuri  dan tak lama kemudian mendapat hadiah senyuman dari Yuuri dan Ryutaro—namun tidak dari Yuto.

“Hai juga, Kei,” ujar Yuuri dan Ryutaro terdengar hampir bersamaan.  Namun Yuto tetap mempertahankan kebungkamannya—sayangnya hal itu tak disadari oleh Kei. Kei mengambil piringnya dan mengisi segala aneka makanan ke piring itu dari udara kosong. Tanpa banyak omong lagi ia segera menyantap makanannya. Yeah, tak mengherankan. Kei memang tak suka berbicara terlalu banyak di saat sedang makan. Hal itu sangat bertolak belakang dengan Yuto yang mungkin dalam keadaan apapun akan senang sekali jika menghabiskan waktunya dengan menggerakkan bibirnya dan mengeluarkan suara serta memulai topik perbincangan dari A hingga Z. Tapi kenapa sekarang Yuto seolah-olah melupakan kebiasaannya itu? Ia lebih memilih sibuk menggigiti ayam panggangnya tanpa melibatkan diri dalam obrolan teman-temannya seperti biasa.

Yuto sesekali mencuri pandang ke arah Kei yang saat itu sedang menyeruput jus labunya yang tinggal separuh lagi dari gelasnya. Entah kenapa emosinyanya seakan hendak meluap setiap kali melihat wajah Kei—tepatnya bibir Kei. Ya, dia takut bila membayangkan ada pria lain yang lebih dulu mendapatkan ciuman gadis yang diam-diam telah disukainya sejak tahun pertama di Hogwarts itu. Ia tak akan segan-segan berduel dengan siapapun pria yang dengan lancangnya mendapatkan ciuman Kei itu. Prinsipnya, jika ia tak bisa mendapatkan ciuman gadis terpintar di Hogwarts itu, maka orang lain pun tak akan ia biarkan mendapatkannya. Kedengaran egois memang. Namun egois untuk cinta bukannya sudah biasa terdengar, bukan?

Yuto tentu saja kecewa bukan main setelah apa yang direncanakannya dan adiknya—Yuuri—berakhir dengan kegagalan besar. Ketika ia mengecek perangkap mistletoe di lorong panjang gelap tadi pagi, tak ada siapa pun yang terperangkap dalam naungan tumbuhan itu. Harapannya untuk melihat Kei mematung di bawah jeratan mistletoe dan  menanti kedatangannya sebagai pahlawan  yang membebaskan gadis itu pun musnah sudah. Namun Yuto mencoba membuang semua prasangka dan pikiran negatifnya. Bisa saja kan orang lain— selain Kei— yang terjebak oleh jeratan mistletoe itu? Dan melihat Kei yang makan dengan wajah ceria seperti itu,  maka Yuto pun segera mengenyahkan segala pikiran buruknya. Ya, tak ada lagi yang ia rasa perlu dikhawatirkannya pada gadis yang sekarang tengah menggigit tart caramelnya sambil sesekali membaca buku ‘Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam’ itu—yang merupakan pelajaran yang akan mereka ikuti seperempat jam lagi.

Namun keasyikan Kei melahap makanannya harus terhenti oleh kedatangan pangeran kebanggaan asrama bersimbol ular ‘bodoh’—Slytherin. Mata Kei masih setia mengamati objek jangkung di ambang pintu masuk aula yang kini melangkah  dengan santai—mencoba menebar pesona seperti biasa. Di meja Slytherin, kawanan ular yang sama ‘busuk’ dengannya menyambut dengan gembira kedatangan pangeran mereka—Yuya Takaki tentu saja. Hikaru dengan tawa lebar— memperlihatkan gingsulnya yang ia pikir indah itu —menyiapkan kursi kosong bagi pria yang wajahnya tak ubah bagai cerminan Basilisk—dingin dan membekukan. Dengan wajah datar seperti biasanya, Yuya mendaratkan pantatnya di kursi yang disediakan Hikaru untuknya.

“Kesiangan lagi Yuya? Oh, dear, aku heran kenapa kau bisa jadi Ketua Murid dengan ‘kebiasaan-bangun-kesiangan’ seperti itu?” ujar Ryoko Yamada yang kini bergelayut manja di pundak Yuya—seakan sudah seabad ia tak bersua dengan pemuda di sampingnya itu. Melihat itu, Hikaru dan Keito terkekeh geli—dan tentu saja dengan tidak bersuara. Kau tahu sendiri kan seberapa buruk akibatnya bila terang-terangan menertawai seorang Yuya Takaki? Bisa-bisa mereka berakhir di neraka saat itu juga.

Sementara di meja Gryffindor, seorang gadis sibuk memelototi sepasang kekasih— yang menurutnya tengah pamer kemesraan di saat yang tidak tepat. Yeah, siapa lagi kalau bukan Yuya Takaki dan si gundiknya—Ryoko Yamada. Melihat Ryoko yang tak kunjung memisahkan diri dari Yuya sejak Yuya bergabung di meja Slytherin membuat Kei merasa kesal. Tangannya sudah terasa gatal sekali dari tadi ingin menggapai tongkat sihir yang terselip damai sentosa di saku jubahnya. Mungkin mengirim satu dua kutukan tak masalah kan kepada gundik Yuya itu?

Oh! Tidak!! Tidak—apa yang ia pikirkan sejak tadi? Melihat Ryoko dan Yuya bermesraan setiap jam makan di aula bukannya sudah biasa kan? Lantas kenapa dengannya hari ini? Ia yakin betul bahwa ada bagian otaknya yang konslet saat ini. Karena sejak kapan ia peduli terhadap gadis mana saja yang bercumbu dengan pria mesum kebanggaan Slytherin itu?

Tapi memang sepertinya logikanya sedang macet saat ini. Dan ia benci menyadari akan hal itu! Ia cemburu pada Ryoko Yamada! Ia ingin mengirim berbagai kutukan agar gadis genit itu menyingkir dari sisi Yuya—dan akan lebih baik menyingkir untuk selama-lamanya! Oh, astaga!! Apa yang baru saja ia pikirkan?!! Ini tidak benar! Kei memukul-mukul kepalanya dan tentu saja Ryutaro, Yuuri, dan Yuto yang melihat kelakuan aneh Kei itu serta merta menghadiahinya tatapan keheranan.

Merlin, demi apa aku mesti meyimpan perasaan tak berguna ini pada ‘pria mesum’ itu?! Keluh Kei dalam hatinya. Matanya masih saja tak bisa diajak berkompromi menjalankan perintah otaknya. Matanya hanya terfokus pada pangeran Slytherin—entah sejak kapan.


“Ryuu, bolehkah aku meminta bantuanmu?” tanya Kei menatap penuh harap pada sahabat karibnya yang terlihat menggemaskan dengan kaca mata bundar yang terbingkai pas di wajahnya.

“Tentu saja boleh, Kei, selagi aku bisa membantumu,” ujar pemuda itu tersenyum. Mendengar itu perasaan Kei menjadi sedikit lega.

“Begini—aku ingin meminjam jubah gaibmu malam ini. Hanya malam ini saja, Ryuu.”

“Jubah gaib? Untuk apa?” selidik Ryutaro sambil mengukir kerutan di keningnya. Sementara Yuuri dan Yuto menghadiahkan tatapan curiga.

Mendapat respon seperti itu dari ketiga temannya, Kei pun memutuskan untuk semakin berhati-hati. Yeah, ia tak ingin teman-temannya sampai tahu apa yang hendak ia lakukan. Yang sesungguhnya dia hanya ingin meracik ramuan penangkal amortentia di laboratorium milik profesor Jhonny Kitagawa. Sebab menurutnya, perasaannya yang ‘aneh’ terhadap Yuya Takaki pasti karena dimanipulasi. Yeah, si ular licik itu pasti telah memasukkan ramuan amortentia ke makanan atau minuman Kei saat ia sedang lengah pada waktu berada di asrama Ketua Murid. Sebab mana mungkin ia menyukai Yuya Takaki?! Well, hanya satu yang membuat hal itu mungkin. Ramuan amortentia! Yeah, sudah jadi rahasia umum, jika ramuan amortentia masuk ke tubuh seseorang, maka orang itu akan menjadi tergila-gila kepada si pemberi ramuan. Dan melihat segala kenakalan Yuya Takaki selama ini, Kei tak ragu sama sekali menuduh pria jangkung mesum itu sebagai otak di balik segala perasaan ‘abnormal’ yang melandanya ini. Untuk itulah ia mesti mencari tahu resep ramuan penangkal amortentia setelah sarapan pagi ini ke perpustakaan. Tentu saja dengan mengorbankan tidak mengikuti pelajaran ‘Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam’. Membolos sekali-kali tak menjadi masalah 'kan? Apalagi mengingat tujuan membolosnya kali ini adalah demi mempertaruhkan kehidupannya. Well, lagi-lagi Kei terdengar berlebihan bila topik yang dibahas sudah menyangkut pangeran Slytherin itu.

“Aku—aku hanya ingin mengerjakan essay  ‘Transfigurasi’ku dengan tenang. Well, aku tahu ini kedengaran berlebihan, 'kan?” ujar Kei saat ketiga pasang mata sahabatnya sibuk memelototinya. ”Dengar—aku—aku khawatir essay yang panjangnya dua meter itu tak akan selesai tepat waktu mengingat Takaki sialan itu terus-menerus menggangguku. Dan ujung-ujungnya kami pasti berakhir dengan perang mantra—melempar kutukan satu sama lain. Kurasa jika begitu terus nasib essayku berada di ambang kematian.”

“Tapi kan kau bisa saja mengerjakan essaymu di ruang rekreasi Gryffindor. Dan menurutku akhir-akhir ini kau jarang lagi pergi ke sana—tepatnya sejak kau menjadi Ketua Murid,” ujar Yuto dengan menatap lesu sisa makanannya. Entah kenapa ia merasa Kei semakin menjauh saja dari mereka sejak ia menjabat sebagai Ketua Murid. Dan itu membuat Yuto sungguh merasa kehilangan Kei.

“Oh, ayolah, Yuto. Kau harus mengerti. Aku sekarang Ketua Murid. Hampir setiap waktu ada saja yang memerlukanku. Untuk itu aku mesti menghabiskan waktuku lebih banyak di asramaku." Yuto menghela napas panjang demi mendengar alasan klasik Kei yang mulai menjadi lantunan andalannya sejak ia jadi Ketua Murid,”dan—tentu saja aku ingin sekali mampir sesering mungkin ke ruang rekreasi Gryffindor. Hanya saja—aku tidak bisa. Maaf Yuto...” Kei mulai merasa tak nyaman demi melihat wajah murung yang sungguh tak biasanya Yuto tampakkan itu. Bahkan Kei dulu berpikir bahwa Yuto hanya bisa memasang ekspresi konyol saja seumur hidupnya.

Melihat suasana yang nampaknya akan berubah menjadi keruh, Ryutaro buru-buru berkata, ”Baiklah, Kei, kau boleh meminjam jubah gaibku. Aku tak ingin melihatmu berperang mantra terus dengan si Takaki itu,” ujar Ryutaro tersenyum, berusaha mencairkan suasana yang mulai membeku.


Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Ryutaro kepadanya membuat Kei merasa bahagia setengah mati. Bahagia karena sebentar lagi perasaan terkutuk ini akan musnah! Ya, tak akan ia biarkan perasaan menjijikkan ini bersarang lebih lama di hatinya. Merlin, ia bisa gila jika memikirkan perasaan sukanya ini akan bertumbuh subur pada Yuya Takaki!

“Terima kasih, Ryuu. Aku tahu kau memang sahabat yang bisa kuandalkan,” ujar Kei mengirimkan senyuman termanisnya kepada sahabat baiknya itu sementara Yuto hanya mampu menggerutu pelan di bangkunya.

***

To Be Continue...