Tampilkan postingan dengan label Oneshoot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oneshoot. Tampilkan semua postingan

Dreams (Hey! Say! JUMP Fanfiction)

Sabtu, 16 November 2013
Author: Wintervina
Genre : Friendship
Cast :Kei Inoo (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), and Nakajima Yuto (HSJ)
Type  : Oneshoot

 -----------------------------------------
Guyuran hujan dan angin kencang tak menghentikan lari pemuda bertubuh pendek itu. Ia seakan berlari dari kenyataan yang selalu mengimpitnya. Kenyataan yang menghadirkan sebuah kata ‘iri’ di hatinya.

Seketika larinya terhenti dan matanya yang sembab menangkap sesosok lelaki yang tengah duduk di tempat duduk favoritnyadi tamandi bawah pohon sakura yang berdahan rindang itu.

Ragu, pemuda itu berjalan menuju kursi favoritnya. Perlahan ia duduk di pinggiran lain kursi itu, khawatir jika gerakannya mengusik pemuda yang duduk di sebelah.

Hening. Keadaan sungguh hening.  Anak lelaki itu terus mendengar suara jantungnya saja yang sejak tadi masih berdebar hebat. Dadanya terasa sesak. Lantaran pertengkaran konyol itu. Pertengkaran yang seharusnya tak akan terjadi kalau saja ia bukanlah ia yang sekarang.

Ia menatap langit hitam yang masih setia mengguyurnya dengan rintikan hujan. Hujan yang tiap butirnya selalu disambut riang dan sukacita oleh dirinya dan sang sahabat di masa kecil dulu. Namun, mungkin hal tersebut tak berlaku lagi saat ini. Ia hanya menatap langit hitam yang terus menangis itu dengan senyum kecut.

Sahabat? 

Entah kenapa, ia belakangan ini begitu membenci kata itu. Pemuda bertubuh pendek itu menghela napas sebelum kemudian memungut satu helai daun sakura yang baru saja jatuh di kursi di mana ia duduk. Ia memutar-mutar helaian daun sakura itu dengan kedua telapak tangan. Ia tak menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu menarik perhatian pemuda yang sejak tadi duduk di sebelahnya.

“Kau sedang ada masalah?” tanya pemuda yang sudah lebih dulu berada di taman tersebut.

“Ha?” pemuda bertubuh pendek itu menoleh seketika pada pemuda di sampingnya.

“Kau-sedang-ada-masalah?” pemuda yang duduk di sebelahnya tersebut mengulangi pertanyaan dengan memberi penekanan pada setiap kata yang diucapkan.

Anak bertubuh pendek itu menatap saksama wajah lawan bicaranya. Ia melihat ada bias keramahan di wajah pemuda tersebut. Entah kenapa, hasrat ingin menceritakan permasalahannya pada pemuda yang baru dikenalinya itu begitu kuat.

“Sebenarnya, ini bukanlah masalah yang cukup serius. Hanya petengkaran kecil dengan sahabatku," ujar pemuda itu menundukkan wajah dengan jari-jari yang tetap memutar-mutar helaian daun sakura.

“Jika hanya masalah kecil, kenapa kau memasang tampang semuram itu? Dengarlah, sebuah persahabatan ada kalanya diuji. Jika kau dan sahabatmu itu bisa melewati ujian tersebut, maka ke depannya persahabatan kalian pasti akan jauh lebih erat lagi dibandingkan sebelumnya.”

Pemuda bertubuh pendek itu mulai merobek-robek helaian daun sakura di tangannya. Kembali ia menyesal menjadi dirinya yang tak berguna. Andai saja ia tak terlahir dengan otak yang bodoh, andai saja ia cukup pintar matematika, dan andai saja ia selalu juara kelas...

Namun, semua itu hanya akan senantiasa menjadi pengandaian baginya yang dalam kehidupan nyatasemua itusemua yang tidak ia punyai hanya dimiliki oleh sahabat karibnya; Nakajima Yuto.

Di sekolah, Yuto selalu disanjung oleh para guru serta diidolakan oleh banyak gadis. Sedangkan di rumah si pemuda pendek, orang tuanya selalu membanding-bandingkan prestasi Yuto yang cemerlang dengan dirinya yang hanyalah biasa dalam segala hal. Jadi, satu hal yang dapat disimpulkan dari semua itu adalah; ia IRI.

Dengan segenap kesadaran dan dengan teramat jelas ia katakan bahwa ia IRI pada sahabatnya, Nakajima Yuto! Dan ia benci mengingat bahwa dari segi apapun, Yuto selalu mengalahkannya. Selalu. Sungguh, ia jenuh hanya selalu menjadi bayang-bayang dari ketenaran Yuto. 

Walau hanya sekali, ia ingin pula merasakan berada di posisi Yuto, atau bahkan lebih. Namun, ia sadar dengan kemampuan yang ia miliki saat ini. Semua serasa hanyalah impian yang terlalu mewah baginya.

“Aku paling tidak suka pelajaran matematika. Karena aku paling lemah dalam hal berhitung. Jadi, tidak salah kan aku meminta tolong padanya agar membagikan jawaban ulangan padaku? Tapi yang membuatku kesal setengah mati, ia sengaja tak memberikan jawabannya padaku. Sehingga  sudah bisa ditebak dengan jelas, aku tak bisa mengerjakan satu soal pun tadi,” tutur pemuda bertubuh pendek itu yang entah kenapa bercerita dengan lancar pada pemuda di sampingnya tentang perkara yang sedang dialami.

“Aku juga akan melakukan hal yang sama dengan sahabatmu jika aku berada di posisinya.”

Pemuda bertubuh pendek itu menatap nyalang ke arah pemuda di sampingnya.

“Kautahu, dia melakukan itu karena dia begitu menyayangimu,” lanjut pemuda itu lagi.

“Bukan! Dia bukannya sayang, tapi pelit!”  pemuda pendek itu berkata dengan nada tinggi.

“Hei, kau tahu, dia pasti berharap agar kau lebih serius belajar dan tak terus-terusan mengandalkan dan mengharapkan bantuannya.”

“Tapi… masalahnya aku tak sepintar dia. Aku ini bodoh, aku tidak berguna, aku"

“Cukup. Aku paling tidak suka orang yang hanya bisa mengasihani dirinya sendiri tanpa berusaha untuk memperbaiki kelemahannya.”

“…”

Pemuda bertubuh pendek itu meremuk-remuk helaian daun sakura di genggamannya hingga tak berbentuk lagi.

“Kautahu, aku paling lemah pelajaran bahasa Inggris. Namun, itu tidak membuatku untuk pasrah begitu saja. Dengan giat, aku belajar bahasa Inggris setiap hari. Berharap kelak aku akan fasih berbahasa Inggris."

“…”

Pemuda bertubuh pendek itu masih terdiam.

“Kau lihat rintik-rintik hujan ini? Mimpiku adalah sebanyak rintik hujan ini. Beberapa telah terwujud, seperti halnya mimpi kecilku dulu, ingin masuk Universitas Meiji. Dan, aku masih terus berharap dan berusaha agar mimpi lainnya juga segera terwujud,” ujar pemuda bertubuh lebih tinggi itu sembari tersenyum menatap langit yang semakin hitam.

Sugoii! Kau kuliah di Universitas Meiji?” pemuda bertubuh pendek itu menatap kagum pada lawan bicaranya.

“Kau juga dapat melakukan itu jika kau percaya pada kekuatanmu. So, don’t give up!” balas pemuda tersebut sambil berdiri dan bersiap-siap untuk meninggalkan taman.

Chotto matte!

Pemuda tersebut menghentikan langkahnya dan menatap tak mengerti pada anak lelaki bertubuh mungil yang masih terduduk di bangku taman.

“Kita telah banyak bercakap-cakap sejak tadi, namun belum mengenal satu sama lain. Aku Yamada Ryosuke. Kau bisa memanggilku Yama-chan.”  Pemuda imut itu mengulurkan tangan diiringi senyum tulus dari bibirnya.

“Kei Inoo desu. Kau boleh memanggilku Inoo-chan. Senang berkenalan denganmu,Yama-chan,” sahut si pemuda yang berambut ikal sambil menjabat tangan lawan bicaranya.

~**~

Enam bulan telah berlalu, sejak pertemuan Yamada dengan pemuda dari Universitas Meiji bernama Kei Inoo itu.

Hampir setiap sore Yamada duduk di bangku favoritnya di taman, tempat ia pertama kali bertemu dengan Kei Inoo. Orang yang secara tak langsung telah mengubah dirinya menjadi seperti sekarang.

Namun, kali ini ia tak sendiri mendatangi taman itu. Ia ditemani oleh sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Nakajima Yuto. Ya, kini ia merasa tak salah lagi kata ‘sahabat’ itu diperuntukkan bagi seorang Nakajima Yuto. Sebab, seperti yang pernah Kei Inoo katakan padanya, bahwa sesungguhnya Yuto menyayanginya melebihi apapun. Selama enam bulan ini, Yuto selalu mendukung Yamada hingga ia menemukan dirinya yang sekarang.

Kini, semua orang mengenal Yamada Ryosuke bukan sebagai tukang tidur di kelas, bukan sebagai orang yang selalu membuntuti Nakajima Yuto,dan bukan sebagai orang yang selalu mendapat nilai terendah dalam pelajaran matematika. Sekarang, jika mendengar nama Yamada Ryosuke, yang orang bayangkan adalah sosok pemuda dengan sederet prestasi di sekolah, baik di bidang akademik maupun non akademik.

Sekali lagi, Yamada harus berterima kasih pada Kei Inoo. Kalau bukan karena lelaki itu yang meyakininya, mungkin semua mimpi kecil Yamada tak akan pernah bisa mewujud nyata seperti sekarang.

“Kau masih menunggunya?” tanya Yuto memecah keheningan di antara mereka. Ia menatap wajah Yamada yang tengah asyik memutar helaian daun sakura.

Yamada memandang Yuto. “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya,” sahut pemuda itu dengan segaris senyum lemah terhias di bibir.

Akhirnya, kedua sahabat itu terus berada di taman sampai langit memuntahkan rintikan hujan, yang dari semenjak mereka kecil hingga remaja seperti sekarang sangat mereka sukai. Keduanya tersenyum. Merasakan dan menyambut tiap rintik hujan seperti mimpi-mimpi yang selalu mengiringi kehidupan mereka.

Sementara di tempat lainKei Inoopemuda yang senantiasa ditunggu oleh Yamada setiap hari di taman, pemuda yang diselimuti mimpi-mimpi dan harapan itu, kini tengah meregang nyawa. 

Leukemia yang Inoo derita harus menghentikan perjalanannya mengejar mimpi-mimpinya di dunia. Namun, ketika rintik-rintik hujan kian membasahi seluruh permukaan tanah, ia tersenyum. Senyum yang penuh rasa bahagia. Bahagia karena melepas segala mimpi-mimpinya, sebagaimana langit yang melepaskan rintik-rintik hujan sore itu.

~**~

-Owari-








One Love (Hey! Say! JUMP Fanfiction)

Senin, 27 Mei 2013


Author : Wintervina
Genre  : Romance
Cast   : Shida Mirai, Yamada Ryosuke (Hey! Say! JUMP)and Nakajima Yuto (Hey! Say! JUMP)
Type   : Oneshoot

-------------------------------------------

Alunan musik di ruang tengah keluarga Yamada terus berkumandang mengiringi kedua remaja yang terlihat sedang asyik mengerjakan tugas kuliahnya. Lagu ‘One Love’ milik Arashi. Lagu kesukaan salah seorang di antara mereka.

“Uh, Yama-chan! Aku lelah mengerjakannya. Sisanya kau saja ya yang mengerjakan?” rengek gadis manis di samping pemuda berambut kecokelatan yang masih serius menyelesaikan tugasnya. Pemuda yang dipanggil Yama-chan itu tak menjawab perkataan gadis berambut hitam sebahu itu. Namun, ia mengulas segaris senyum tipis sebagai tanggapan. Senyumnya manis. Begitu tulus dan damai.

Yatta! Yama-chan memang paling baik dan selalu bisa kuandalkan!” sorak gadis berkulit terang itu dengan senang.

Tak lama kemudian, gadis tersebut telah sibuk sendiri menonton televisi di hadapannya. Melupakan pemuda yang tadinya ia panggil Yama-chan, yang tengah berkutat menyelesaikan tugas-tugas kuliah mereka. Tugas itu banyak sekali dan begitu sulit.

“Yama-chan! Yama-chan! Coba lihat! Itu Nakajima Yuto! Waaah, dia terlihat tampan sekaliii!” teriak sang gadis dengan mata tak berkedip menatap layar televisi yang tengah menayangkan gambar seorang penyanyi lelaki seumuran mereka. Belakangan ini, nama penyanyi lelaki itu memang tengah bersinar dan digandrungi hampir oleh seluruh remaja di Jepang, bahkan Asia.

Yama-chan menoleh ke arah televisi dengan tampang masam. Menghentikan kegiatannya menulis tugas-tugas mereka dengan berat hati.

“Mirai-chan, bukankah setiap hari kau selalu melihat pemuda itu di televisi? Lantas, kenapa tiap kali melihatnya selalu saja berteriak histeris seperti itu? Apa kau tak bosan? Aneh...”

“Hanya melihat dari televisi saja tentu tidak cukup, Yama-chan! Aku ingin bertemu langsung dengannya! Bagaimana aku tidak histeris, dia nyaris sempurna. Keren, tampan, kaya, dan populer…”

“Tapi, kan aku juga tidak kalah dari anak lelaki itu,” ujar Yamada memotong perkataan Mirai-chan. “Aku juga keren. Pintar lagi! Si Yuto itu pasti kalah saing denganku.”

"Huuuu~ Sombong! Iya, aku tahu kau memang pintar! Tapi, sampai kapan pun kau tidak akan bisa menandingi seorang Nakajima Yuto di mataku!” sahut Mirai sambil menjulurkan lidah ke arah Yamada, bermaksud meledek pemuda itu.

Entah kenapa, tatkala mendengar perkataan Mirai tadi, perasaan Yamada menjadi sakit. Padahal, bukan sekali ini saja gadis itu berkata seperti tadi padanya. Seharusnya,  kuping Yamada sudah terbiasa mendengar pujian sang gadis untuk sang idolanya; Nakajima Yuto.

Ya, walau pun hanya seorang artis. Walau pun tak kenal secara pribadi. Entahlah. Yamada merasa tak suka tiap kali mendengar sahabat kecilnya itu memuji-muji lelaki di balik layar kaca itu. 

Nakajima Yuto.

***


-10 tahun yang lalu-

“Yama-chan, mari kita membuat janji!” ajak Mirai kecil pada anak lelaki bernama Yamada Ryosuke.

“Mirai-chan mau buat janji apa denganku?” tanya anak lelaki itu dengan polos.

“Ayo janji jadi pasangan pengantinku jika sudah besar nanti!” ucap Mirai dengan riang sambil mengulurkan kelingkingnya ke arah Yamada.

Yamada yang sama polosnya saat itu membalas dengan selengkung senyum sembari mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Mirai.

Mereka telah berjanji...

***


“Yama-chan!” teriak Mirai setengah berlari ke arah pemuda berkacamata yang sedang asyik menyesap jus strawberry di salah satu meja kantin.

Doushite?” tanya pemuda itu mengerutkan keningnya begitu melihat Mirai yang terlihat panik pagi itu.

“Yama-chan…,” napas gadis itu masih terengah-engah. Yamada segera menyodorkan jus strawberry-nya kepada Mirai. Dengan kalap, sahabatnya itu segera meminum jus tersebut hingga hanya tersisa separuh.

“Yama-chan, kau pasti tak percaya mendengar kabar ini. Dia ada di sini. Ya, sekarang dia satu kampus dengan kita! Bagaimana aku tidak senang coba?” ujar Mirai sedikit berteriak.

“Dia? Dia siapa yang kaumaksud?” tanya Yamada masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan Mirai.

“Yuto. Nakajima Yuto! Dia pindah ke sini. Dan, mulai sekarang, dia akan menjadi teman sekampus kitaaa!” ujar Mirai riang dengan senyum yang tak berhenti menghiasi bibirnya. “Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak merasa senang?” tanya Mirai kemudian, yang akhirnya merasakan perbedaan sikap sahabatnya itu.

“Oh,t-tentu saja aku senang. Ya, apapun yang bisa membuat Mirai-ku senang, maka aku pasti akan turut senang," sahut Yamada, memaksa melengkungkan segaris senyum. Walau sebenarnya di dalam hati ia sedang cemas, resah, dan takut kehilangan sahabatnya itu-Mirai.

***

“A-apa?! Kenapa mesti aku?” tanya Yamada yang kaget usai mendengar permintaan aneh dari sahabat kecilnya itu.

“Oh, jadi kau tidak mau membantuku kali ini? Ternyata kau bukan Yamada yang bisa kuandalkan lagi!” kata Mirai mengeluarkan jurus 'ngambek'-nya. Dan, setiap kali Mirai mulai bertingkah seperti itu, Yamada pun akhirnya kalah. Ia paling tidak bisa membuat sahabat kecilnya itu bersedih.

“Baiklah, nanti akan aku sampaikan padanya. Sudah, jangan merajuk lagi... Aku tidak tenang melihat wajahmu cemberut seperti itu,” ucap Yamada menggaruk bagian belakang kepalanya dengan kikuk. Dan tak lama setelahnya, Mirai memeluk lelaki itu dengan erat. 

Begitulah Mirai. Tiap kali ia merasa senang, ia akan memeluk Yamada. Namun,  walaupun hal tersebut telah sering dilakukan Mirai pada Yamada, pemuda itu masih selalu canggung tiap kali lengan Mirai melingkari tubuhnya. Walaupun itu hanyalah pelukan sahabat dan tak bisa diartikan lebih.

***

Mirai terlihat begitu senang dan berbinar-binar hari itu. Bagaimana tidak? Lelaki pujaannya selama ini sekarang telah berada tepat di hadapannya. Ia tak perlu repot-repot lagi untuk menyalakan televisi setiap kali ingin memandang wajah tampan seorang Nakajima Yuto. Ya. Mereka bahkan tengah makan siang bersama sekarang!

Tentu saja ini bukan mimpi. Semuanya bisa terjadi berkat usaha sahabat kecil Mirai. Siapa lagi kalau bukan Yamada Ryosuke. Walaupun beberapa hari yang lalu Mirai mesti mengeluarkan jurus ngambek-nya dulu agar Yamada mau membantu. Ya, membantunya agar dapat berkenalan dengan sang bintang; Nakajima Yuto.

Di kejauhan, seorang lelaki menatap sedih ke arah Mirai dan Yuto. “Kalau itu yang membuat kau bahagia, aku akan merelakanmu, Pengantin Kecil-ku, ”bisik lelaki itu pada dirinya sendiri sambil tersenyum. Senyum yang memilukan. Berupa lengkungan patah.

***


Mirai berlari mengejar Yamada yang terlihat berjalan beberapa meter di depannya.

“Yama-chan!”

Pemuda berkacamata itu segera menoleh. “Kenapa?” tanyanya dengan nada datar. Kelihatan tak bersemangat sekali.

“Aku mau pinjam tugasmu, dong! Besok aku kembalikan, kok. Janji," kata Mirai dengan senyum yang merekah.

“Ini...”

Lagi-lagi pemuda itu berkata dengan nada datar. Namun, kali ini terlihat lengkungan di bibirnya. Walau begitu lemah dan tak setulus biasa. Ketika pemuda itu ingin melangkahkan kaki, Mirai kembali memanggilnya.

Chotto!

Langkah Yamada kembali terhenti. Tanpa berkata apa-apa lagi, Mirai segera menempelkan punggung tangannya yang mungil pada dahi sahabat kecilnya itu.

“Astaga! Kau sakit, Yama-chan!” ujar Mirai panik begitu merasakan suhu tubuh Yamada yang begitu hangat.

“Jangan terlalu dipikirkan. Ini hanya sakit biasa. Sebentar lagi juga akan sembuh,” ucap Yamada tersenyum untuk yang terakhir kali, sebelum melangkah pergi meninggalkan Mirai.

***


Saat sedang menyalin tugas milik Yamada yang baru saja dipinjamnya, Mirai tak sengaja menemukan secarik kertas yang terselip di sela-sela tugas milik  sahabatnya itu.



Ada waktu ketika kita ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa
Dan waktu ketika kita tidak bisa jujur
Kita telah mengatasi itu ketika menangis
Dan sekarang kita bersinar dengan terang
Gambaran kebahagiaan yang kita miliki terlukis satu sama lain
Untuk menjadi satu cinta yang luar biasa
Mari hidup bersama selamanya

Seratus tahun dari sekarang, aku berjanji cintaku

Kau adalah segalanya bagiku

Percaya padamu, hanya percaya padamu
Seseorang yang akan berbagi waktu bersamaku


Tidak masalah apa yang ada padamu, tidak ada masalah apa yang ada padaku

Setiap bagian itu berharga bagiku

Selama aku memilikimu, aku tidak membutuhkan yang lain
Aku tahu kita akan berbahagia


Seratus tahun dari sekarang, aku berjanji cintaku

Kau adalah segalanya bagiku

Aku mencintaimu, hanya mencintaimu

Seseorang yang akan berbagi waktu bersamaku
Mari berjanji esok kita kan saling berbagi

Kau adalah satu dan hanya satu orang yang kupilih di seluruh dunia ini

Selama aku memilikimu, aku memiliki masa depan apapun akan selalu bersinar

 
Mirai tersenyum-senyum sendiri manakala membaca puisi romantis mahakarya sahabat kecilnya itu.

"Ah, ternyata anak itu sedang jatuh cinta... Kira-kira, siapa ya gadis yang sedang disukainya? Kenapa dia tidak pernah memberitahuku? Dia benar-benar curang!" gumam Mirai pada dirinya sendiri.

***

Yamada tak tahu lagi bagaimana mesti menjelaskan hal itu dengan sahabatnya. Perkara puisi, tentu saja. 

Ya, sudah seharian  Mirai tak berhenti mewawancarai Yamada hanya karena ingin tahu untuk siapa puisi itu ditulis.

Bagaimana mungkin Yamada bisa menjawabnya?

Yamada Ryosuke. Semua mahasiswa di kampus tahu bahwa dia adalah seorang yang cerdas. Tak ada yang bisa menolak anggapan tersebut. Namun, entah kenapa, saat diwawancarai Mirai mengenai puisi terkutuk itu, ia bisa berubah total menjadi manusia terdungu di muka bumi! 

Untunglah berkat kedatangan Nakajima Yuto, Mirai akhirnya sukses melupakan Yamada Ryosuke dan perkara puisi-nya. Ia melupakan sahabat kecilnya itu. Seolah Yamada tak ada di sampingnya lagi. Hanya ada dia dan Nakajima Yuto saja di sana. Menyadari hal itu, Yamada segera pulang dengan hati remuk.

“Mirai-chan, aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu. Maukah kau pergi sebentar denganku?” tanya Yuto yang spontan dibalas Mirai dengan anggukan kepala. Dengan itu, Yuto pun segera menggandeng sebelah tangan Mirai. Diam-diam, Mirai mengulas senyum tipis. Lantas, keduanya pun pergi.

***

“Jadi begitulah…” tutur Mirai mengakhiri ceritanya. Ia segera melirik Yamada yang sibuk memain-mainkan sushi di piring.

“Baguslah. Sekarang kau mestinya berbahagia.  Akhirnya dia benar-benar menjadi kekasihmu. Kudoakan semoga kalian selalu bahagia,” ujar Yamada tertunduk lesu, masih menusuk-nusuk sushinya yang utuh dengan sumpit. Entah kenapa, selera makannya langsung menguap begitu saja manakala mendengar Mirai, Sang Pengantin Kecilnya, telah menjadi kekasih orang lain. Kekasih seorang superstar!

Arigatou,Yama-chan! Kau memang sahabatku yang paliiiing baik!” ucap Mirai sambil memeluk Yamada. Kebiasaan gadis itu yang tak pernah hilang manakala tengah di landa rasa bahagia yang luar biasa.

“Yama-chan, kau sakit lagi?” tanya Mirai  menatap Yamada dengan mata menyipit. Wajah Yamada belakangan itu memang sering terlihat pucat. Mata lelaki itu juga semakin cekung. Tak seperti biasa yang selalu berbinar. Ini aneh...

“Jangan menatapku seperti itu. Sudah kubilang, aku tidak apa-apa," sahut Yamada sambil mengacak-ngacak rambut gadis di hadapannya.

“Hmmm, aku dan Yuto besok pagi berencana untuk jalan-jalan ke pantai tempat kita suka bermain dulu. Apa kau mau ikut?”

“Tidak ,ah! Nanti aku hanya akan jadi pengganggu kalian saja. Kan tidak enak...”

“Tapi

“Sudahlah, ini kan kencan pertama kalian. Jadi, aku benar-benar tidak ingin jadi pengganggu, oke? Nanti, kalau kau ingin jalan-jalan denganku saja ke pantai itu, tentu aku mau. Tapi kali ini, giliran kau dan kekasih barumu saja," jelas Yamada bijak. Walau hatinya perih saat mengatakan itu. Walau hatinya remuk redam. Ia mencoba menyembunyikan itu semua dengan senyumannya. Senyuman palsu yang sayangnya tak disadari Mirai.

***

“Apa? Mirai-chan kecelakaan, Bi? Baiklah, aku akan segera menyusul ke rumah sakit sekarang!” ujar Yamada yang usai menutup telepon segera bergegas mengganti pakaiannya dengan yang lebih rapi dan segera melaju menuju rumah sakit.

Setiba di rumah sakit, ibu Mirai terus menangis pilu. Yamada mencoba menenangkan perasaan ibu sahabatnya itu. Walau tak dapat dipungkiri, hatinya pun cemas bukan main. Namun syukurlah, tak berapa lama kemudian Mirai berhasil melewati masa kritisnya. Yamada dan ibu Mirai setidaknya dapat bernapas sedikit lega. Akan tetapi,  perkataan dokter barusan amat membuat Yamada kesulitan bernapas. 

Mirai sekarang buta dan lumpuh...

Yamada tak kuasa mendengar hal itu. Mirai. Sang masa depannya yang kini seakan kehilangan masa depan. 

Jika diizinkan, ia rela menukarkan semua yang ia punya asalkan Mirai-chan Pengantin Kecil-nya dapat kembali seperti sediakala.

‘Andai saja tak pergi ke pantai itu’
‘Andai saja tak kencan hari itu’
‘Andai saja...’

Yamada terus berandai-andai dalam hati. Namun, tetap saja, semua telah terjadi. Tak ada gunanya lagi untuk disesali. Ya, tak ada yang bisa disesali...

“Bu, Ibu di mana?” ujar Mirai yang membuat hati Yamada kian remuk.

“Ibu di sini, Nak. Di sampingmu," sahut ibu Mirai, menggenggam erat tangan putri semata wayangnya sambil menangis.

“Tapi... kenapa semua gelap?! Kenapa Mirai tidak bisa melihat wajah Ibu dan Yama-chan?” tanya Mirai. Nadanya mulai berubah cemas.

“Maafkan Ibu, Nak. Kau tidak bisa melihat lagi akibat kecelakaan itu... Bahkan, kedua kakimu pun tak bisa berfungsi lagi. Kata Dokter, kakimu mengalami kelumpuhan permanen...” Kini ibu Mirai tak bisa lagi mengendalikan diri agar tetap tegar. Tangis perempuan paruh baya itu semakin menyayat perasaan Yamada yang berada di sampingnya.

“Tidak! Ibu bohong! Tidak mungkin!” Mirai berusaha menggerak-gerakkan kedua kakinya yang seakan membatu. Hati gadis itu benar-benar hancur. Namun, tiba-tiba ia seakan ingat sesuatu...

“Yuto. Yuto di mana, Bu? Apa dia baik-baik saja? Jawab, Bu! Dia tidak apa-apa, kan?” Kali ini Mirai semakin kalap. Dan ibunya tak mampu berkata sepatah kata pun. Malah tangis sang ibu semakin menjadi.

“Yama-chan, tolong jawab aku. Yuto di mana? Dia baik-baik saja, 'kan?” Giliran Yamada yang menjadi sasaran pertanyaan Mirai.

Tak sanggup melihat penderitaan sahabatnya, Yamada segera mendekap gadis itu. Erat. Erat sekali... Sampai ia bisa merasakan hangatnya airmata Mirai yang meresap di bajunya.

“Dia... tak tertolong. Dia telah pergi selama-lamanya, Mirai-chan. Kau harus merelakannya, ya...” bisik Yamada lirih di dekat telinga Mirai. Kedua lengannya masih mendekap gadis itu.

“Tidak! Tidak mungkin! Kenapa aku mesti hidup?! Kenapa aku yang mesti hidup dalam keadaan begini? Kenapa Tuhan tak mengambil nyawaku saja?" Gadis itu hampir tak bertenaga lagi. Ia terkulai dalam pelukan Yamada.  

Mirai sungguh tak percaya,  dalam waktu yang begitu singkat,  kehidupannya telah berubah menjadi setragis itu.

***


Gadis berkursi roda di taman rumah sakit itu tengah merenung memikirkan sesuatu. Sudah hampir sebulan ini, sahabat kecilnya, Yamada Ryosuke, tak pernah datang mengunjunginya. Padahal, ia rindu. Sungguh rindu betul. Biasanya dengan kedatangan sahabatnya itu, Mirai pasti selalu bahagia. Itu karena Yamada selalu berusaha menghiburnya. Walau pada kenyataannya, Mirai belum dapat menerima keadaannya sekarang sepenuhnya.

Ibu Mirai mengatakan bahwa barangkali Yamada tengah mendapat banyak tugas di kampus sehingga tidak sempat menjenguk.Mirai mencoba menerima pendapat ibunya itu.

Tak beberapa lama kemudian, dokter yang khusus menangani Mirai datang menemuinya. Membawa sebuah kabar gembira untuk sang gadis yang hampir kehilangan senyumnya itu.

“Dokter serius, kan? Saya akan dapat melihat lagi?” tanya Mirai masih terdengar ragu.

“Benar sekali, Shida-san! Anda patut bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk melihat dunia kembali...”

***


Apakah sekarang Mirai benar-benar bersyukur pada Tuhan?

Kini Mirai bukanlah seorang gadis buta lagi. Ia bisa melihat! Namun, semuanya tak dapat membuat perasaan gadis itu membaik. Malah, kepedihan yang menghunjamnya semakin bertubi-tubi.

Mirai  menatap selembar surat yang ada di genggamannya dengan tangis yang ditahan sejak tadi. Kertas itu sudah sepenuhnya basah akibat tetesan air matanya. Namun, itu semua belum cukup menghilangkan kepedihannya yang begitu dalam.

Bergetar. Tangan gadis itu bergetar. Ia  menggenggam kertas itu sekuat mungkin.  Hatinya tersayat-sayat. Perih. Segala perasaan kelam merasukinya.


Mirai-chan...
Selamat melihat dunia yang indah lagi, ya...
Aku tahu kau amat menderita dengan cobaan yang datang bertubi-tubi dalam hidupmu akhir-akhir ini.
Kau mesti lumpuh dan buta, serta kehilangan orang yang begitu berarti untukmu; Nakajima Yuto... 

Aku ingin meringankan sedikit penderitaanmu. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk mendonorkan mataku untukmu.
Aku juga tahu kalau hidupku tidak akan lama lagi. Aku mengidap kanker otak sudah setahun ini. Itulah yang menyebabkan wajahku selalu pucat. Aku sengaja merahasiakan hal ini padamu. Itu karena aku tidak ingin gadis yang aku sayangi bersedih.

‘Ada waktu ketika kita ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa
Dan waktu ketika kita tidak bisa jujur...’

Kau tentu masih ingat dengan beberapa baris puisi yang pernah kubuat ini, kan? Sekarang kau tidak perlu bertanya-tanya lagi siapa orang yang aku sukai.  Orang itu adalah SHIDA MIRAI
  
Aku benar-benar menyukaimu, bahkan sejak kita masih kanak-kanak aku selalu ingin melindungimu. Tapi, aku terlalu bodoh dan tak tahu cara untuk mengungkapkannya.
Dan, sekarang aku dapat pergi dengan tenang, karena orang yang kusayangi dapat melihat lagi. Melihat dunia yang begitu indah ini...

Hanya satu pesan terakhirku; jangan pernah lupakan aku

Walaupun aku tidak dapat tertawa dan bercanda bersamamu lagi, namun melalui mataku yang kini menjadi matamu, aku akan menemanimu sepanjang   jalan hidupmu... 

'Kau adalah satu dan hanya satu orang yang kupilih di seluruh dunia ini 

Yamada Ryosuke


-Owari-