Tuhan yang Anonim

Menurutku, ketimbang kucing, anjing lebih menggemaskan, dan yang terpenting mereka penurut. Soal minuman, aku tak perlu pikir panjang untuk bilang kopi lebih nikmat dibanding teh―meski yang biasanya kuminum adalah kopi instan. Namun, itu semua hanyalah pemikiranku di masa lalu. Dan saat mengenangnya lagi, aku jadi geli sendiri.

Aku yang sekarang, mencintai kucing sama besarnya dengan anjing, bahkan mungkin lebih. Seekor kucing liar yang kerap mampir ke rumah menjadi penyebabnya. Meong, begitu aku dan keluarga memanggilnya, dia memikat hati kami, menjadi kesayangan seisi rumah. Sedangkan tentang minuman, setelah melewati banyak waktu, aku mendapati teh lebih mampu melonggarkan ketegangan yang mengikatku, sementara kopi hanya akan membuat rasa tegang itu kian menjadi.

Kita selalu berubah. Diri kita yang dulu, tidak akan sama dengan yang sekarang, pun kita yang sekarang bisa jadi akan jauh berbeda lagi di masa depan. Dengan atau tanpa hadirnya pandemi, kita tidak bisa mencegah diri kita dari perubahan, yang adalah ciri dasar kehidupan.

Pandemi dan perubahan besar-besaran yang mengikutinya, membuat banyak orang kewalahan. Berubah bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi dalam waktu tiba-tiba dan dipaksa. Di tengah serangan perubahan itu, aku bersyukur setidaknya hobi membacaku tetap berjalan dengan stabil.

Aku tidak tumbuh di keluarga yang gemar membaca. Namun, meski mengaku tak mengerti denganku yang sebegitu senangnya membaca, mereka tetap saja membelikan majalah anak secara teratur sewaktu aku kecil. Di masa SMA, aku berhasil melahap seluruh seri Harry Potter berkat menjadi anggota di sebuah perpustakaan. Kalau tidak begitu, mungkin sampai detik ini aku tak akan tahu cerita J.K. Rowling yang melegenda itu, karena harga tiap bukunya tidaklah murah. Sejak dulu hingga kini, meski tertatih-tatih, aku tetap menjaga nyala itu: kecintaanku membaca dan kesukaanku pada buku.

Soal buku, aku tidak pernah membatasi diri dengan hanya membaca genre tertentu. Aku membaca apa saja: fantasi, detektif, roman, komedi, hingga pengembangan diri. Tak masalah melahap buku apa pun, selagi aku merasa terhubung dengannya. Selain membaca, hobi lainku adalah menonton. Di waktu santai, aku senang menjelajah YouTube, mencari video yang menarik di sana untuk ditonton. Kebiasaan bertualang mencari tontonan YouTube inilah yang beberapa tahun lalu membawaku mengenal sosok Sunny Dahye.

Sunny Dahye adalah YouTuber asal Korea Selatan yang sangat fasih berbahasa  Indonesia. Dia pindah ke Indonesia sejak usianya empat tahun, bahkan menjalani pendidikan dari TK hingga S1 pun di Indonesia. Aku suka menonton Sunny di YouTube karena pembawaannya yang ceria dan menyenangkan. Sampai suatu hari, Sunny bilang dia tengah menulis sebuah buku. Kabar itu sungguh membuatku senang bukan main.

Sunny Everywhere, buku yang Sunny tulis, akhirnya terbit tahun 2019, tapi aku baru berkesempatan membacanya di awal 2021. Sebagai seseorang yang cukup sering menonton video YouTube-nya, aku sungguh terheran-heran, karena Sunny yang diam di buku amat suram. Namun, anehnya, aku merasa lebih dekat dan nyaman dengan Sunny yang ada di situ, karena ternyata kami punya banyak kisah hidup yang sama.

Dalam bukunya, Sunny bicara blak-blakan perihal masa lalunya yang getir. Persona Sunny yang cerah dan ceria di YouTube, ia tanggalkan begitu saja di buku. Di sana, ia sungguh telanjang, membagikan rasa sakit dan luka hatinya.

Sama seperti Sunny, aku pun pernah mengalami hidup yang seperti neraka. Di masa sekolah, aku sering mengalami perundungan. Kepribadianku yang terlalu berbeda membuat teman-teman sering merisakku. Untuk alasan itu jugalah dulu aku menjadi lebih dekat dengan buku, ketimbang manusia di sekitarku. Aku juga bisa paham perasaan Sunny yang sempat kesulitan beradaptasi di kampus. Aku pun pernah berada di titik itu, bahkan selalu mempertanyakan apakah tempatku memang sudah benar di situ, tapi kalau ‘ya’ kenapa aku tak pernah merasa bahagia? Lewat Sunny Everywhere, aku kian percaya bahwa tiap orang sejatinya punya kegelapan yang disembunyikan, tak terkecuali Sunny, yang memilih menunjukkan sisi cerahnya saja di depan kamera.

Membahas soal hobi, tak hanya membaca dan menonton, sesekali aku juga menulis puisi. Kendati begitu, sejauh ini, tak banyak buku puisi yang sudah kumiliki, juga hanya segelintir penyair yang kugemari. Aan Mansyur adalah satu dari segelintir itu. Dengan tujuan menambah koleksi buku puisi, maka kuputuskan membeli Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi karya Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes. Sebetulnya, blurb di sampul belakang buku itulah yang membuatku semakin yakin untuk membeli. “Kita akan mengingat tahun ini. Kita mengingat bagaimana kebaikan menyelamatkan bumi,” begitu bunyinya. Sungguh manis dan menyentuh.

Nama Theoresia Rumthe sebetulnya tidaklah asing di telingaku. Dulu sekali, sekitar tahun dua ribu belasan awal, aku sempat membaca beberapa tulisan yang ia unggah di blognya. Aku tidak ingat kenapa aku bisa sampai di sana, tapi yang jelas sejak hari itu, begitu mendengar nama Theoresia Rumthe, aku terkenang akan tulisan-tulisan indah dan penuh sihir. Lain halnya dengan Weslly Johannes, aku tidak punya gambaran sama sekali akan tulisannya, dan tak pula menaruh ekspektasi tinggi tentang itu.

Aku ingat betul perasaan kaget yang memenuhiku saat membaca buku tersebut. Kenapa puisi di dalamnya tidak secerah kata-kata yang ada di blurb? Aku merasa terkecoh. Sungguh kontras memang, sewaktu menunggu tanggal berganti menjadi peringatan hari lahir, aku malah terjebak dalam dinginnya puisi-puisi kematian di sana. Malam itu, ditemani Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi, sesekali aku melempar pandang ke langit. Di sana, bintang-bintang berkedip bagai nyala lilin. Diam-diam, aku berdoa: tentang mereka yang pulang, tentang mereka yang pergi.

Tidak pernah mudah memang untuk membahas tentang kematian. Padahal, kematian bukanlah sesuatu yang berada jauh dan berseberangan dengan kita. Dia lebih seperti bayangan, selalu bersisian dengan kehidupan. Belakangan ini, kematian mengambil banyak orang di sekitarku: nenek baik hati yang kukenal sejak aku bisa mengingat, paman yang selalu menjaga desaku tetap terang di malam hari, kawan di bangku SMP, teman sekelas saat kuliah, kenalan sefakultas yang juga rekan menulis. Kematian menjemput siapa saja: yang tua, yang muda.

Membaca puisi Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes yang bertemakan kematian, membuatku lantas merenung banyak. Menghitung mereka yang pergi, menghitung sisa usia yang entah tinggal berapa. Di singkatnya masa kehidupan ini, aku jadi bertanya-tanya: apa hidupku sudah bermakna dan tak sia-sia?

Puisi-puisi dalam Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi mau tak mau memaksaku untuk menerima bahwa kematian bukanlah hal yang bisa dihindari. Lewat buku tersebut, aku diajak merenungi kematian yang selama ini sering kuabaikan. Di sana, puisi Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes disusun secara bergilir, layaknya percakapan puitis. Semua bertalian, berkesinambungan, menciptakan harmoni yang indah. Di puisi yang berjudul Sampai, keduanya berkolaborasi, seakan mengucap salam perpisahan untuk menyudahi buku tersebut. Meski tahun bergulir, aku masih tetap tersihir dengan pesona kata yang Theoresia rangkai. Dan kendati baru berkenalan dengan tulisan Weslly Johannes, aku menemukan banyak sekali puisinya yang menjadi favoritku, bahkan teramat banyak. Dia menyulap kata menjadi sedemikian indahnya, sampai aku takjub sendiri.

Aku punya kebiasaan unik dalam memperingati hari lahirku, yakni memberi hadiah untuk diri sendiri. Tahun ini, hadiah itu berupa novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya karya Keigo Higashino. Ada cerita panjang antara aku dan novel ini, itu semua bermula dari Yamada Ryosuke.

Yamada Ryosuke merupakan penyanyi sekaligus aktor Jepang yang kuidolakan sejak 2010. Di hari-hariku yang gelap, khususnya di awal masuk kuliah, dia banyak membantu mencerahkan hatiku. Tak sampai di situ, karena dia jugalah aku kembali menekuni dunia menulis yang sudah lama kutinggalkan. Bermula dari iseng membuat fanfiction tentangnya di catatan Facebook, sampai akhirnya berani membuat cerita dan karakter sendiri dalam bentuk novel yang kemudian terbit di tahun 2013. Aku yang sebegitu menggemari Yamada Ryosuke ini, tentu tak ingin melewatkan film dan drama yang dibintanginya, termasuk Namiya Zakkaten no Kiseki.

Suatu hari, di tahun 2017, masih jelas di ingatan bagaimana aku bergegas mengunjungi Gramedia untuk memburu karya Keigo Higashino, tapi satu-satunya buku beliau yang kutemukan di sana hanyalah Kesetiaan Mr. X. Keigo Higashino, aku tak pernah mendengar nama itu sebelumnya, akan tetapi begitu tahu film yang Yamada Ryosuke bintangi diadaptasi dari novelnya, aku langsung penasaran dan ingin berkenalan dengan karya beliau. Hari itu, meski agak kecewa, akhirnya aku pulang dengan membawa Kesetiaan Mr. X. Buku itulah yang menjadi awal perkenalanku dengan Keigo Higashino.

Lalu, di tahun 2018, usai menonton film Namiya Zakkaten no Kiseki dengan Yamada Ryosuke yang memerankan tokoh Atsuya di sana, keinginanku untuk membaca karya Keigo Higashino yang bestseller itu kian menjadi. Lantaran populernya kisah itu, di tahun yang sama yakni 2017, selain Jepang, Tiongkok juga membuat film berdasarkan adaptasi dari novel tersebut.

Aku pun terus berharap dan menanti keajaiban, bahwa suatu hari ada penerbit yang tergerak menerjemahkan kisah indah milik Keigo Higashino itu. Sampai kemudian, di akhir 2020, Gramedia mewujudkan harapanku. Aku tidak bisa menggambarkan perasaan senangku sewaktu pertama kali memegang buku Namiya Zakkaten no Kiseki―yang sudah dialihbahasakan menjadi Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Akhirnya, setelah sekian tahun penantian….

Keajaiban Toko Kelontong Namiya yang kumiliki merupakan cetakan kedua. Untuk orang yang sudah menantikannya sejak lama, aku terhitung terlambat. Namun, aku yang sekarang sangat memercayai bahwa segala sesuatunya tepat waktu.

Keajaiban Toko Kelontong Namiya berkisah tentang sebuah toko yang sangat populer lantaran pemiliknya membuka jasa layanan konsultasi gratis melalui surat. Kakek Namiya, si pemilik toko, membuatku kagum dengan semangat altruistiknya, bahkan ia berhasil mencubit sisi hatiku yang begitu gelap. Beliau bukanlah orang yang kaya raya, juga tidak berasal dari keluarga terpandang, tapi dia tak pernah meminta bayaran pada mereka yang membutuhkan jasa konsultasinya. Sedari awal, uang tak pernah menjadi fokusnya. Kakek Namiya juga bukanlah seorang psikolog atau psikiater, tapi dia selalu berusaha memberi saran terbaiknya pada mereka yang datang bertanya. Setiap kata dalam balasan suratnya ia pilih dengan sangat hati-hati, karena dia tahu betul, kata-kata bisa menyembuhkan tapi di sisi lain juga menghancurkan.

Kakek Namiya yang tulus memberi saran terhadap mereka yang bertanya, pada akhirnya berhasil mengubah dan menyelamatkan hidup banyak orang. Lewat kisah ini, aku makin percaya: kebaikan hanya akan melahirkan kebaikan. Selain itu, lewat Keajaiban Toko Kelontong Namiya, aku pun makin yakin kalau setiap orang yang kita temui dan beririsan dengan hidup kita bukanlah suatu kebetulan belaka. Kita memang harus bertemu dengan orang-orang tertentu, di waktu tertentu. Betapa ajaibnya Dia yang mendesain sekuens hidup kita dengan sebegitu sempurna.

Ada satu kutipan dalam Keajaiban Toko Kelontong Namiya yang begitu kusukai. “Kita sering dengar bahwa sebenarnya orang-orang merasa bersyukur selama ada yang mau mendengarkan cerita mereka.” Kata-kata tersebut membuatku mengingat masa gelap itu.

Beberapa tahun lalu, orang-orang yang tadinya kukira teman, berpaling menjauh. Satu demi satu, mereka pergi. Sampai aku merasa seperti dicampakkan dari atas langit dan ditinggalkan begitu saja dalam dunia belantara ini. Aku yang tak punya siapa pun untuk kubagikan perasaan ini, semakin hari semakin kesulitan. Sampai akhirnya, beban yang terus-terusan kutimbun itu meledak dalam wujud panic attack (serangan panik).

Serangan panik itu terjadi sewaktu aku tengah mengikuti misa di gereja. Tiba-tiba, aku merasa seperti ada yang menggenggam jantungku kuat-kuat. Aku jadi kesulitan bernapas, seakan oksigen di sekelilingku habis. Tak sampai di situ, tubuhku pun mengalami kejang, hingga jari tanganku bengkok-bengkok. Kejadian itu sungguh mengguncangku, menyisakan tanda tanya besar di kepala: sebenarnya aku ini kenapa?

Sebetulnya, tak hanya sekali itu aku mengalami serangan, wajar jika pada ahirnya aku merasa takut kalau-kalau ada sesuatu yang salah dalam diriku. Aku yang kebingungan memutuskan bertanya kepada psikiater. Menemui psikiater bukanlah hal yang baru bagiku. Sebelumnya, di tahun 2015, aku sudah berkali-kali melakukan konsultasi. Waktu itu, aku diberitahu adanya gejala bipolar dan gangguan kecemasan dalam diriku. Namun, saat kembali memeriksakan diri, aku kaget bahwa gangguan cemasku telah bercabang membentuk serangan panik. Ditambah lagi, menurut psikiater, aku juga mengidap depresi.

Sudah lama aku berada dalam cengkeraman gangguan kecemasan. Di tahun 2017, aku mengalami strok ringan sebanyak dua kali yang berakar dari itu. Serangan pertama membuat kaki kananku sedikit payah untuk berjalan, sementara serangan kedua membuat separuh wajahku kaku. Sejak itu, aku baru percaya, bahwa kesehatan tubuh mencerminkan kesehatan mental, dan begitu pun sebaliknya. Andaikan dulu ada Kakek Namiya yang mau mendengarkan ceritaku dengan tulus, mungkin aku tak perlu sampai mengalami hal semacam itu.

Namun, berandai-andai pun tidak akan membawa kita ke mana-mana. Kita memang harus melalui kejadian sulit, orang yang kita sayangi memang harus pergi karena tak sefrekuensi lagi. Kita hanya terus bergerak mengikuti alur Pencipta.

Dulu, aku sering merasa Tuhan tak mengacuhkanku. Dia menelantarkanku dan pertanyaan-pertanyaanku. Sampai kemudian, aku sadar, Tuhan selalu mendengarku dengan sabar. Keping-keping jawaban-Nya kutemukan paling sering berceceran dalam buku yang kubaca. Sinkronisitas, begitu para ahli menamainya, yang dari beragam sumber lantas kuartikan sendiri sebagai potongan kejadian atau beberapa hal yang bertubrukan membentuk suatu kebetulan magis.

Menurut Albert Einstein, sinkronisitas adalah cara Tuhan agar tetap anonim. Yang artinya, Tuhan tak punya identitas. Dalam upaya memberi kita jawaban, Ia bisa saja meminjam mulut seorang penyiar radio, tulisan yang dirangkai penulis, atau lagu yang dilantunkan penyanyi. Betapa Tuhan selalu hadir di setiap remah keseharian kita.

Aku yang dulu belum tahu tentang sinkronisitas sering dibuat terheran-heran lantaran selalu mendapati adanya keterhubungan antara buku yang kubaca dengan masalah yang pernah, sedang, atau akan aku alami. Contohnya, saat Februari 2019, hanya berselang seminggu usai membaca novel See Jane Run karya Joy Fielding, aku menerima kabar bahwa kerabatku tiba-tiba mengalami amnesia disosiatif. Jenis amnesia yang disebabkan beban stres berlebih, atau karena adanya trauma sebelumnya. Lantas, di mana letak kebetulan magisnya? Jane, tokoh utama yang diciptakan Joy Fielding dalam See Jane Run, juga dikisahkan mengalami amnesia serupa. Itu hanyalah satu dari banyaknya sinkronisitas yang kerap kutemukan sewaktu membaca. Betapa Tuhan selalu bicara lewat banyak cara, dan untukku, itu seringnya lewat buku.

Buku-buku berkesan yang menemani selama pandemi

Itulah beberapa bacaan yang berhasil meninggalkan kesan yang dalam bagiku, juga menemani perjalanan selama setahun ini di masa pandemi. Perihal pandemi, banyak orang mengutukinya, tapi menurutku masa pandemi merupakan masa penyembuhan, dan koronavirus adalah hadiah dari Tuhan yang menyamar dalam bentuk bencana.

Pandemi yang memaksa manusia menjauhi kerumunan dan saling menjaga jarak ini, pada akhirnya membuat kita banyak menghabiskan waktu sendiri. Kita yang sebelumnya terus berlari menghindar, dipaksa melihat ke dalam diri, menghadapi sisi gelap yang tadinya disangkali. Seperti hewan yang mesti menjilati lukanya sendiri agar bisa sembuh, manusia pun harus mencicipi kegelapan mereka untuk dapat kembali seutuhnya mencintai diri.

Tidak mudah memang menerima dan mengakui sisi gelap itu, tapi dengan melakukannya, kita berdamai dengan diri. Orang yang telah berdamai dengan diri pada akhirnya akan melihat dunia dan kehidupan ini menjadi lebih bening. Segala hal menyakitkan yang terjadi di belakang mereka, hanya akan meninggalkan bekas luka yang indah.

Sebagai penutup, aku akan mengutip perkataan Keigo Higashino dalam Keajaiban Toko Kelontong Namiya: “Memang jalan yang saya tempuh sampai hari ini tidak selalu mulus, tapi fakta bahwa saya masih hidup membuat saya yakin bisa mengatasi setiap penderitaan yang menyertainya.”

 

 

 

 

 

 

Bagikan Yuk :




Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar