Author : Wintervina
Genre : Romance
Cast : Shida Mirai, Yamada Ryosuke (Hey! Say! JUMP), and Nakajima Yuto (Hey! Say! JUMP)
Type : Oneshot
---------------------------------------------------------------------------------
Alunan musik di ruang tengah keluarga Yamada terus berkumandang mengiringi kedua remaja yang terlihat sedang asyik mengerjakan tugas kuliahnya. Lagu ‘One Love’ milik Arashi. Lagu kesukaan salah seorang di antara mereka.
“Uhh, Yama-chan! Aku telah lelah mengerjakannya!! Sisanya kau saja ya yang mengerjakannya,” rengek gadis manis di samping pemuda berambut kecoklatan yang masih serius menyelesaikan tugasnya. Pemuda yang dipanggil Yama-chan itu tak menjawab perkataan gadis manis di sampingnya. Namun ia memberikan senyumnya yang teramat manis. Begitu tulus dan damai.
“Yatta! Yama-chan memang paling baik dan selalu bisa kuandalkan!” sorak gadis berambut hitam sebahu itu dengan senang.
Tak lama kemudian, gadis tersebut telah sibuk sendiri menonton televisi di hadapannya dan melupakan pemuda bernama Yama-chan tersebut yang sedang berkutat menyelesaikan tugas-tugas kuliah mereka yang begitu banyak dan super sulit itu.
“Yama-chan! Yama-chan!! Coba lihat! Itu Nakajima Yuto!! Wuah, dia terlihat tampan sekaliii!!” teriak gadis tersebut dengan mata tak berkedip menatap layar televisi yang menampakkan gambar seorang penyanyi lelaki tampan yang belakangan ini namanya sedang bersinar dan digandrungi hampir seluruh remaja Jepang bahkan Asia itu.
Pemuda bernama Yama-chan tersebut memandang ke arah televisi dengan malas. Dan menghentikan kegiatannya menulis tugas-tugas mereka.
“Mirai-chan. Bukankah setiap hari kau selalu melihat pemuda itu di televisi? Lantas kenapa tiap kali melihatnya selalu saja berteriak histeris seperti itu? Apa kau tak bosan? Aneh...”
“Hanya melihat dari televisi saja tentu tidak cukup, Yama-chan! Aku ingin bertemu langsung dengannya!! Bagaimana aku tidak histeris, dia nyaris sempurna. Keren, tampan, kaya, dan populer…”
“Tapi kan aku juga tidak kalah dari anak lelaki itu,” ujar Yamada memotong perkataan Mirai-chan. “Aku juga keren. Pintar lagi! Si Yuto itu pasti kalah saing denganku.”
"Huuuu~ Sombong! Iya, tahu kok kamu pintar! Tapi sampai kapan pun kamu tidak akan bisa menandingi seorang Nakajima Yuto di mataku dari segi apapun!” ujar gadis bernama Mirai tersebut sambil mencibir ke arah Yamada.
Entah kenapa saat mendengar perkataan gadis tersebut, perasaan Yama menjadi sakit. Padahal bukan sekali ini saja gadis itu berkata seperti itu padanya. Seharusnya kupingnya sudah terbiasa mendengar pujian sang gadis untuk sang idolanya Nakajima Yuto.
Ya, walau pun hanya seorang artis. Walau pun tak kenal secara pribadi. Entahlah. Yamada merasa tak suka tiap kali mendengar sahabat kecilnya itu memuji-muji lelaki di balik layar kaca itu. Nakajima Yuto. Penyanyi yang namanya sekarang tengah bersinar terang.
***
-10 tahun yang lalu-
“Yama-chan, mari kita buat janji!” ujar Mirai kecil pada anak lelaki bernama Yamada Ryosuke.
“Mirai-chan mau aku buat janji apa?” tanya anak lelaki itu dengan polos.
“Ayo janji jadi pasangan pengantinku jika sudah besar nanti!” ujar Mirai dengan riang sambil mengulurkan kelingkingnya ke arah Yamada.
Yamada yang sama polosnya saat itu membalas denga tersenyum sembari mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Mirai.
Mereka telah berjanji.
***
“Yama-chan!!” teriak Mirai setengah berlari ke arah pemuda berkacamata yang sedang asyik menikmati jus strawberry yang baru saja di pesannya.
“Doushite?” tanya pemuda itu mengerutkan keningnya melihat sahabatnya yang terlihat begitu panik pagi itu.
“Yama-chan…,” napas gadis itu masih terengah-engah. Yamada segera menyodorkan jus strawberry-nya kepada sahabatnya itu. Dengan kalap, Mirai segera meminum jus tersebut hingga hanya tersisa sebagian saja.
“Yama-chan! Kau pasti tak percaya mendengar kabar ini!! Dia ada di sini! Ya, sekarang dia satu kampus dengan kita! Bagaimana aku tidak senang coba??!” ujar Mirai sedikit berteriak.
“Dia? Dia siapa yang kamu maksud?” tanya Yamada masih belum mengerti apa yang dikatakan Mirai.
“Yuto! Nakajima Yuto!! Dia pindah ke sini! Dan mulai sekarang dia akan menjadi teman sekampus kita!” ujar Mirai riang dengan senyum yang tak berhenti menghiasi bibirnya. “Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak merasa senang?” ujar Mirai yang akhirnya merasakan perbedaan sikap sahabatnya itu.
“Oh,t-tentu saja aku senang. Ya. Apapun yang bisa membuat Mirai-ku senang, aku pasti akan turut senang," ujar pemuda itu mencoba terlihat merasakan kebahagiaan yang sedang sahabatnya itu rasakan. Walaupun di dalam hatinya sedang cemas, resah, dan takut kehilangan sahabatnya itu. Mirai.
***
“A-apa?! Kenapa mesti aku??!” ujar Yamada yang kaget begitu mendengar permintaan aneh yang keluar dari mulut sahabat kecilnya yang begitu disayanginya.
“Jadi ceritanya kamu tidak mau nih membantuku kali ini? Ternyata kamu bukan Yamada yang bisa kuandalkan lagi!” ujar Mirai mengeluarkan jurus ‘ngambek’nya. Dan setiap kali Mirai mulai bertingkah seperti itu, Yamada pun akhirnya mau tak mau memenuhi segala permintaan gadis itu. Ia paling tidak bisa membuat sahabat kecilnya itu sedih karenanya.
“Baiklah. Nanti aku akan segera bilang sama dia. Sudah, jangan ngambek lagi... Aku tidak tenang melihat wajah kamu yang seperti itu,” ujar Yamada yang akhirnya membuat Mirai segera memeluknya.
Begitulah Mirai. Tiap kali ia merasa senang, ia akan segera memeluk Yamada. Namun walaupun hal tersebut telah sering dilakukan Mirai padanya, namun pemuda tersebut masih seringkali merasa canggung tiap kali Mirai memeluknya. Walaupun semuanya tak berarti lebih. Hanya pelukan sahabat. Tak bisa diartikan lebih dari itu.
***
Gadis itu terlihat begitu senang dan berbinar-binar hari itu. Bagaimana tidak?? Lelaki pujaannya selama ini sekarang telah berada di hadapannya. Ia tak perlu repot-repot lagi untuk menyalakan televisi setiap kali ingin memandang wajah tampan seorang Nakajima Yuto. Ya. Mereka bahkan tengah makan siang bersama sekarang! Ini tentu saja bukan mimpi. Berkat sahabat kecilnya yang paling ia sayangi. Siapa lagi kalau bukan Yamada Ryosuke. Kalau tidak karena bantuannya, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Walaupun beberapa hari lalu ia harus mengeluarkan jurus ‘ngambek’nya dulu agar Yamada sudi membantunya. Membantunya agar dapat berkenalan dengan sang bintang, Nakajima Yuto.
Di kejauhan, seorang lelaki menatap sedih ke arah Mirai dan Yuto. “Kalau itu yang membuat kamu bahagia, aku akan merelakanmu, Pengantin Kecilku, ”bisiknya pada dirinya sendiri sambil tersenyum. Senyum yang memilukan. Berupa lengkungan patah.
***
Mirai berlari mengejar Yamada yang terlihat berjalan beberapa meter di depannya.
“Yama-chan!”
Pemuda berkacamata itu segera menoleh ke arahnya.
“kenapa?” tanyanya dengan nada datar. Kelihatan tak bersemangat sekali.
“Aku mau pinjam tugasmu, dong! Besok aku kembalikan, kok," ujar Mirai dengan tersenyum semanis mungkin.
“Ini...”
Lagi-lagi pemuda itu berkata dengan datar. Namun kali ini terlihat lengkungan di bibirnya. Walaupun terlihat patah dan tak setulus biasanya. Saat pemuda itu ingin melangkahkan kakinya, Mirai pun memanggilnya.
“Chotto!”
Langkah pemuda itu terhenti. Tanpa berkata apa-apa lagi, Mirai segera menempelkan punggung tangannya pada dahi sahabat kecilnya itu.
“Astaga! Kau sakit, Yama-chan!” ujar sang gadis panik merasakan suhu tubuh pemuda itu yang begitu hangat.
“Jangan terlalu dipikirkan. Ini hanya sakit biasa. Sebentar lagi juga segera sembuh,” ujar pemuda tersebut sambil tersenyum ke arah Mirai.
***
Saat sedang menyalin tugas milik Yamada yang baru saja dipinjamnya, Mirai tak sengaja menemukan secarik kertas yang terselip di sela-sela tugas milik Yamada, sahabatnya itu.
Ada waktu ketika Kita ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa
Dan waktu ketika Kita tidak bisa jujur
Kita telah mengatasi itu ketika menangis
Dan sekarang Kita bersinar dengan terang
Gambaran kebahagiaan yang Kita miliki terlukis satu sama lain
Untuk menjadi satu cinta yang luar biasa
Mari hidup bersama selamanya
Seratus tahun dari sekarang, Aku berjanji cintaku
Kau adalah segalanya bagiku
Percaya padamu, hanya percaya padamu
Seseorang yang akan berbagi waktu bersamaku
Tidak masalah apa yang ada padamu, tidak ada masalah apa yang ada padaku
Setiap bagian itu berharga bagiku
Selama Aku memilikimu, Aku tidak membutuhkan yang lain
Aku tau Kita akan berbahagia
Seratus tahun dari sekarang, Aku berjanji cintaku
Kau adalah segalanya bagiku
Aku mencintaimu, hanya mencintaimu
Seseorang yang akan berbagi waktu bersamaku
Mari berjanji esok Kita kan saling berbagi
Kau adalah satu dan hanya satu orang yang Kupilih
Di seluruh dunia ini
Selama Aku memilikimu, Aku memiliki masa depan apapun
Akan selalu bersinar
Gadis tersebut tersenyum-senyum sendiri membaca puisi sahabat kecilnya itu.
"Ternyata anak itu sedang jatuh cinta! Kira-kira siapa ya gadis yang sedang disukainya? Kenapa dia tidak pernah memberitahuku? Dia benar-benar curang!" gumam Mirai pada dirinya sendiri.
***
Yamada tak tahu lagi mesti menjelaskan bagaimana dengan sahabatnya itu. Perkara puisinya. Ya, seharian ini Mirai tak berhenti mewawancarainya hanya karena ingin tahu untuk siapa puisi itu sebenarnya ia tulis. Bagaimana mungkin ia bisa menjawabnya??
Yamada Ryosuke. Semua mahasiswa di kampusnya tahu dia adalah seorang yang cerdas. Tak ada yang bisa menolak anggapan tersebut. Namun, entah kenapa saat diwawancarai Mirai mengenai puisi terkutuk itu, ia bisa berubah total menjadi orang terdungu sekalipun! Namun berkat kedatangan Nakajima Yuto, Mirai pun sukses melupakan Yamada Ryosuke dan perkara puisi-nya yang sejak tadi ia ributkan. Ia melupakan sahabat kecilnya itu. Seolah Yamada tak ada di sampingnya lagi. Hanya ada dia dan Nakajima Yuto saja di sana. Menyadari hal itu, Yamada segera pulang dengan hati remuk.
“Mirai-chan. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu. Maukah kau pergi sebentar bersamaku?” tanya Yuto yang spontan dijawab Mirai dengan anggukan kepala. Ia benar-benar telah tersihir dengan pesona bintang seorang Nakajima Yuto. Yuto pun segera menggandeng tangannya.
***
“Jadi begitulah…” ujar Mirai mengakhiri ceritanya. Ia segera melirik Yamada yang sibuk memain-mainkan sushi kesukaannya.
“Baguslah. Sekarang kamu tentu harus berbahagia. Akhirnya dia benar-benar menjadi kekasihmu! Kudoakan semoga kalian selalu bahagia bersama,” ujar Yamada tertunduk lesu masih tetap memainkan sushinya. Entah kenapa selera makannya telah lenyap begitu saja saat mendengar Mirai, Sang Pengantin Kecilnya menjadi kekasih orang lain. Kekasih seorang superstar!
“Arigatou,Yama-chan! Kau memang sahabatku yang paliiiinngg baik!” ujar gadis itu lagi-lagi memeluknya di saat dia merasa begitu bahagia.
“Yama-chan, kau sakit lagi?” tanya gadis itu menatap lekat pemuda yang ada di hadapannya. Wajah pemuda itu belakangan ini sering terlihat pucat. Ia juga tak bersemangat seperti biasanya. Aneh.
“Jangan menatapku seperti itu! Sudah kubilang, aku tidak apa-apa," ujar Yamada sambil mengacak-ngacak rambut gadis yang begitu ia sayangi sejak kecil itu.
“Uhmm, aku dan Yuto besok pagi berencana untuk pergi jalan-jalan ke pantai tempat kita bermain biasanya dulu. Apa kau mau ikut?”
“Tidak ,ah! Nanti aku hanya akan jadi pengganggu kalian saja. Kan tidak enak...”
“Tapi--”
“Sudahlah! Ini kan kencan pertama kalian. Jadi aku benar-benar tidak ingin jadi pengganggu. Oke? Nanti kalau kamu ingin jalan-jalan dengan aku saja ke pantai itu lagi, pasti aku ajak kok. Tapi kali ini, giliran kamu sama kekasih barumu saja," jelas Yamada bijak. Walau hatinya perih saat mengatakan itu. Walau hatinya remuk redam. Ia mencoba menyembunyikan itu semua dengan senyumannya. Senyuman palsunya yang tak disadari Mirai.
***
“Apa?! Mirai-chan kecelakaan, Bi?! Baiklah, aku akan segera ke rumah sakit sekarang!” ujar Yamada yang segera bergegas mengganti pakaiannya dengan yang lebih rapi dan segera melaju menuju rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, ibu Mirai terus menangis pilu. Yamada mencoba menenangkan perasaan ibunda sahabatnya itu. Walaupun tak dapat dipungkiri hatinya juga cemas bukan main. Namun syukurlah, tak berapa lama kemudian Mirai berhasil melewati masa kritisnya. Yamada dan ibu Mirai setidaknya dapat bernapas sedikit lega. Namun perkataan dokter barusan amat membuat Yamada kesulitan bernapas. Mirai sekarang buta dan juga lumpuh!
Yamada tak kuasa mendengar hal itu. Mirai. Sang masa depannya yang kini seakan kehilangan masa depannya. Jika diijinkan, ia rela menukarkan semua yang ia punya asalkan Mirai-chan, Pengantin Kecilnya dapat kembali seperti sediakala lagi.
‘andai saja tak pergi ke pantai itu’
‘andai saja tak kencan hari itu’
‘andai saja..’
Yamada terus berandai-andai dalam hatinya. Namun, toh semua telah terjadi. Tak ada gunanya lagi untuk disesali. Ya, tak ada yang bisa disesali...
“Bu, Ibu di mana?” ujar Mirai yang membuat hati Yamada menjadi pilu.
“Ibu di sini, Nak. Di sampingmu," ujar ibu Mirai menggenggam erat tangan putri semata wayangnya sambil menangis.
“Tapi kenapa semua gelap?! Kenapa Mirai tidak bisa lihat wajah Ibu dan Yamada?!” tanya Mirai. Nadanya mulai sedikit cemas.
“Maafkan Ibu, Nak. Kamu tidak bisa melihat lagi akibat kecelakaan itu... Bahkan kedua kakimu pun juga tak bisa berfungsi lagi. Kata Dokter, kakimu mengalami kelumpuhan permanen...” Kini ibu Mirai tak bisa lagi mengendalikan dirinya agar tetap tegar. Tangisnya semakin menyayat perasaan Yamada yang berada di sampingnya.
“Tidak!! Ibu bohong! Tidak mungkin!!” Mirai berusaha menggerak-gerakkan kedua kakinya yang seakan membatu tersebut. Hati gadis itu benar-benar hancur. Namun tiba-tiba ia seakan ingat sesuatu...
“Yuto!! Yuto di mana, Bu?! Apa dia baik-baik saja?! Jawab, Bu!! Dia tidak apa-apa, 'kan?!” kali ini Mirai semakin kalap. Dan ibunya tak berkata sepatah kata pun, malah menangis semakin jadi.
“Yama-chan, tolong jawab aku! Yuto di mana?! Dia baik-baik saja, 'kan?!” Kali ini giliran Yamada yang menjadi sasaran pertanyaannya.
Tak sanggup melihat penderitaan sahabatnya, Yamada segera memeluk Mirai. Erat. Erat sekali... Sampai ia bisa merasakan hangatnya airmata Mirai yang meresap di bajunya.
“Dia tak tertolong. Dia telah pergi selama-lamanya, Mirai-chan. Kamu harus merelakannya...” bisik pemuda itu pada sahabatnya yang begitu syok.
“Tidak!! Tidak mungkin!! Kenapa aku mesti hidup?!! Kenapa aku yang mesti hidup dalam keadaan begini?!! Kenapa Tuhan tak mengambil nyawaku saja??!" Gadis itu hampir tak bertenaga lagi memeluk sahabat kecilnya itu. Ia begitu tak percaya dalam waktu singkat kehidupannya telah berubah menjadi setragis itu.
***
Gadis berkursi roda di taman rumah sakit itu terlihat sedang terdiam memikirkan sesuatu. Sudah hampir sebulan ini, sahabat kecilnya, Yamada Ryosuke tak pernah mengunjunginya ke rumah sakit. Padahal ia kangen. Sungguh kangen. Biasanya dengan kedatangan sahabatnya itu, ia pasti selalu bahagia. Yamada selalu berusaha menghiburnya. Walau pada kenyataannya ia belum dapat menerima keadaannya sekarang sepenuhnya.
Ibunya mengatakan mungkin Yamada sedang banyak tugas di kampusnya sehingga tidak sempat menjenguknya belakangan ini. Dan Mirai pun mencoba sependapat dengan sang ibu.
Tak beberapa lama kemudian, dokter menemui Mirai-chan. Membawa kabar gembira untuk sang gadis yang hampir kehilangan senyumnya itu.
“Dokter serius, 'kan? Saya akan dapat melihat lagi??” ujar Mirai masih ragu.
“Benar sekali, Shida-san! Kamu patut bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk melihat dunia kembali...”
***
Apakah sekarang Mirai benar-benar bersyukur pada Tuhan?
Kini ia bukanlah gadis buta lagi. Ia bisa melihat! Namun semuanya tak kunjung membuat perasaannya membaik. Malah kepedihan yang menghujamnya semakin bertubi-tubi.
Ia menatap surat yang ada di genggamannya dengan tangis yang ditahannya sejak tadi. Kertas itu sudah sepenuhnya basah akibat tetesan airmatanya. Namun itu semua belum cukup menghilangkan kepedihannya yang begitu dalam.
Bergetar. Tangannya bergetar menggenggam kertas itu lebih lama. Hatinya tersayat-sayat. Perih. Segala perasaan merasukinya.
Mirai-chan..
Selamat melihat dunia yang indah lagi, ya...
Aku tahu kamu amat menderita dengan cobaan yang datang bertubi-tubi dalam hidupmu akhir-akhir ini
Kamu mesti lumpuh dan buta, serta kehilangan orang yang begitu berarti buat kamu
Nakajima Yuto…
Aku ingin meringankan sedikit penderitaanmu. Sehingga aku memutuskan untuk mendonorkan mataku untukmu
Karena aku juga tahu kalau hidup aku tidak akan lama lagi
Aku mengidap kanker otak sudah setahun ini
Itulah yang menyebabkan wajahku selalu pucat
Aku sengaja merahasiakan hal ini denganmu
Karena aku tidak ingin orang yang aku sayangi sedih
‘Ada waktu ketika Kita ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa
Dan waktu ketika Kita tidak bisa jujur...’
Kau tentunya masih ingatkan, ini beberapa baris puisi yang pernah kubuat
Sekarang kamu tidak perlu bertanya-tanya lagi siapa orang yang aku sukai
Orang itu adalah SHIDA MIRAI!
Aku benar-benar menyukaimu, bahkan sejak kita masih kanak-kanak aku selalu ingin melindungimu...
Tapi aku terlalu bodoh dan tak tahu cara untuk mengungkapkannya...
Dan sekarang aku dapat pergi dengan tenang karena orang yang kusayangi dapat melihat lagi...
Melihat dunia yang begitu indah ini…
Hanya satu pesan terakhirku
Jangan pernah melupakan aku
Meski aku tidak bisa tertawa dan bercanda bersama kamu lagi, namun melalui mataku yang kini menjadi matamu, aku akan menemanimu sepanjang perjalanan hidupmu...
‘
Kau adalah satu dan hanya satu orang yang Kupilih
Di seluruh dunia ini’
Yamada Ryosuke
--Owari--




