Aku Mati

Kamis, 18 Agustus 2016

Hei, mata ini hanya memuja keindahan (cungkillah!)
Telinga ini cuma senang akan sanjungan (potonglah!)
Lidah ini terus menghujat, melukai banyak hati (sayatlah!)
Kepala ini melulu berkoar menyalahkan diri sendiri (penggallah!)

Lalu aku pun mati
Tanpa mata, telinga, lidah, bahkan kepala,
yang padahal membuatku tampak manusia(wi)





Sanagi [蛹] #Hey! Say! JUMP Fanfiction

Jumat, 22 Juli 2016


Title          : Sanagi
Author & Writer: achan
Genre          : school-youth-friendship-     comedy
Casts          : Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Chinen Yuri, Inoo Kei, Takaki Yuya, Morimoto Ryutaro, Yaotome Hikaru, Yabu Kota, Okamoto Keito, Arioka Daiki, Shida Mirai, Sawamura Ikki

--------------------------------------------


[Yamada Ryosuke’s POV]



“Ohayou!”

Setelah mengucapkan selamat pagi di depan pintu, aku pun masuk ke dalam kelas yang hanya memiliki 11 orang siswa ini. Aku, Yamada Ryosuke, siswa kelas III-Z Jurusan Robot di Sekolah Teknik Kitabata, Tokyo.



Ohayou, Ryo-kun,” balas Yuto yang duduk di dekat pintu.


“Ohayou! Ohayou! Ohayou! Ohayou! Ohayou! Ohayou! Ohayou! Ohayou!”

Aku kembali mengucapkan selamat pagi seraya memukul setiap meja dengan telapak tanganku. Ruang kelas yang besar ini hanya dihuni oleh 10 orang siswa. Sedangkan satu orang lagi hanya namanya yang tertulis di buku absensi kelas. Ia tidak pernah masuk.

Beberapa kursi tampak masih kosong.  Aku duduk di kursiku yang berada di belakang Yuto.

Seperti biasa, Yuto melanjutkan studi paginya sebelum kelas dimulai. Otaknya benar-benar hebat. Lebih hebat dari komputer. Tahun lalu ia memenangkan kompetisi robot internasional di Berlin. Chinen Yuri, yang duduk di sampingku, sedang sibuk dengan perangkat berbentuk kotak yang hanya sebesar kotak korek api.

“Yuri, itu apa?” tanyaku penasaran karena sepertinya perangkat itu baru ia kerjakan hari ini.

“Perangkat bagian untuk mesin waktuku yang rusak,” jawabnya sambil tetap fokus.

Mata? (lagi?),” seruku tak percaya.
Si Chinen Yuri ini. Sejak masuk ke sekolah ini, ia hanya fokus untuk membuat alat yang bisa membuatnya melompati waktu. Ia selalu mengaku kalau dirinya berasal dari tahun 2789 dan mesin waktu yang ia gunakan untuk ke era Heisei sedang rusak. Jadi ia berusaha memperbaiki mesinnya untuk bisa kembali ke masanya di tahun 2789. Hasilnya, ia sama sekali belum berhasil sampai saat ini.

Di sudut kelas, Daiki dan Keito sedang sibuk melanjutkan pengerjaan robot mereka. Ruang kelas ini memang didesain sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai ruang kelas dan laboratorium sekaligus.

Dan Yuya, tentu saja ia sedang menyanyi dengan gitarnya. Sepertinya Yuya memang salah jurusan. Seharusnya ia masuk jurusan seni di bidang menyanyi. Suaranya sangat merdu dan DIA SAMA SEKALI TIDAK MENGERTI TENTANG ROBOT!

“Kimi ni shika miserarenai kao ga aru... Boku ni shika miserarenai kao ga aru...”♫

JRENG! JRENG! JRENG!

“Ohayou!” ucap suara yang sudah tidak asing bagiku.

Aku menoleh ke pintu dan... Plup! Plup! Plup! Seketika bunga-bunga Asagao berwarna biru dan putih bermekaran di sekeliling sosok yang sedang berjalan memasuki kelas. Jantungku berdetak tidak keruan.

“And I will always love youuuuuuuuuuuuuuu......”
*BGM: Whitney Houston – I will always love you*

Shida Mirai. Satu-satunya perempuan di kelas ini. Harta berharga milik kami sekelas yang isinya cowok-cowok berotak pentium I kecuali Yuto. Dan aku jatuh cinta padanya. Meski bukan pada pandangan pertama. Melainkan ketika sedang syuting iklan TV untuk promosi Jurusan Robot Sekolah Teknik Kitabata tahun lalu. Tapi peraturan yang berlaku khusus di sekolah ini menyatakan kalau kami tidak boleh menunjukkan tanda-tanda jatuh cinta pada Shida Mirai dan pacaran dengan Shida Mirai. Bagi siapa pun yang melanggar peraturan tersebut akan dikenakan sanksi berupa denda sebesar ¥100.000, langsung dikeluarkan dari sekolah dan diblacklist dari semua sekolah dan universitas di Jepang. Kejaaaaaaammmm. Peraturan itu dibuat oleh kepala sekolah, Johnny-sensei. Sebenarnya tidak mengherankan kalau sanksinya seperti itu, mengingat Johnny-sensei adalah orang yang memiliki pengaruh besar di Jepang. Jadi, kami sekelas sepakat untuk mengganti nama Shida Mirai menjadi Shida Koichi dan menyuruhnya memakai seragam laki-laki.

“O...o...oha...you...”

Aku kembali menoleh ke pintu kelas begitu mendengar suara seseorang yang sepertinya sedang kesulitan.

“Kei!!! Nande???!!!” jeritku yang terkejut hingga berdiri dari kursi.

Tampak Yabu dan Hikaru memapah Kei berjalan memasuki kelas. Seisi kelas ternganga melihat Kei. Terutama perutnya.

Ninshin???!!! (hamil???!!!)” seru seisi kelas.

“Pelan-pelan...” ujar Hikaru yang membantu Kei duduk di kursinya.

     “Uso (bohong),” ujarku datar.

     Kei mengelus-elus perutnya dengan sepenuh hati lalu berkata:
          “Kali ini, aku akan melahirkan seorang adik perempuan untuk Ryu-chan. Mungkin dengan begitu Ryu-chan akan masuk sekolah lagi.”

      “Arienai deshou??? (mustahil ‘kan???) Bagaimana mungkin dengan melahirkan seorang anak perempuan akan membuat Ryu-chan masuk sekolah lagi. Lagipula Kei tidak mungkin bisa hamil. Sepertinya otak kalian bertiga harus diprogram ulang,” ujarku keras-keras.

      “Jya, Hikaru-kun, Yabu-kun, ayo kita kirim video untuk Ryu-chan,” ujar Kei.

      MEREKA NGGAK DENGERIN SAMA SEKALI!!! 
 
      Kei, Hikaru, dan Yabu memang bercita-cita ingin menjadi bidan. Tapi cita-cita itu tidak akan pernah tercapai sampai kiamat sekalipun. Jadi, mereka fokus membuat robot pendamping ibu hamil. Tapi bukan berarti Kei bisa hamil, ‘kan?

     Oya, ngomong-ngomong tentang satu orang siswa yang tidak pernah masuk, namanya Morimoto Ryutaro. Meskipun di absensei tertulis “sakit”, tapi Ryu-chan bukan menderita penyakit yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Semua tahu kalau Ryu-chan bahkan tidak pernah meninggalkan kamarnya. Meskipun begitu, Ryu-chan adalah masternya dalam memprogram perangkat lunak robot.

      Hal yang membuat Ryu-chan mengurung diri di dalam kamarnya adalah sesuatu yang membuat kami tidak tahu harus berbuat apa agar bisa membantunya. Tapi, setidaknya Ryu-chan beruntung karena Johnny-sensei sangat menyayanginya. Apapun yang terjadi pada Ryu-chan, Johnny-sensei tetap menganggapnya sebagai salah satu siswa di sekolahnya dan terus mendukungnya.

      Aku menghela napas panjang.

      “Ohayou, Ryu-chan... Mmuah... Mmuah...”

      Trio HikaKeiYabu sudah mulai merekam video mereka untuk Ryu-chan.

      “Ohayou gozaimasu...”

      Rurimaru-sensei masuk ke dalam kelas dengan bahagia seperti biasa.

     “Ohayou gozaimasu.” Seisi kelas kompak membalas salam Rurimaru-sensei.
      “Baiklah. Sekarang sensei akan mulai mengabsen kalian. Arioka Daiki.”

      “Hai, imasu! (Hadir!)”
      “Chinen Yuri.”
      “Hai, imasu!”
      “Inoo Kei.”
      “Hai, imasu!”
      “Morimoto Ryutaro. Ah! Byouki desu ne (sakit, ya). Kapan terakhir kalian menjenguknya? Jangan lupa untuk lebih sering mengunjunginya. Itu bisa membantunya cepat sembuh. Jya, tsudzukimasu (kalau begitu, saya lanjutkan absennya). Nakajima Yuto.”

      “Hai, imasu!”
      “Okamoto Keito.”
      “Hai, imasu!”
      “Shida Mirai.”
      “Hai, imasu!”
      “Takaki Yuya.”
      “Hai, imasu!”
      “Yabu Kota.”
      “Hai, imasu!”
      “Yamada Ryosuke.”
      “Hai, imasu!”
      “Yaotome Hikaru.”
      “Hai, imasu!”

      Aku memandangi foto kelas yang dipajang di samping papan tulis. Pada hari ketika foto itu diambil, itu adalah satu-satunya hari dimana Ryu-chan datang ke sekolah. Aku bertanya-tanya, apa Ryu-chan akan datang lagi ke sekolah sebelum kami lulus? Atau dia tidak akan pernah datang lagi ke sekolah? Apa yang bisa kulakukan untuk membantunya agar bisa kembali ke dunia luar? Pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan itu sehingga aku sama sekali tidak bisa fokus pada pelajaran hari ini. Bahkan proyek robotku pun tidak kusentuh sedikit pun.
      Ketika sekolah usai, aku langsung meninggalkan kelas. Perut Kei juga sudah kempis. Mungkin dia sudah melahirkan. Iya (tidak). Sono mondai jyanakute (bukan itu masalahnya). Tiba-tiba aku merasa sangat ingin mengunjungi Ryu-chan. Walaupun kami sebenarnya tahu kalau sebaiknya kami lebih sering mengunjungi Ryu-chan, tapi masalahnya Ryu-chan tidak mau bertemu dengan siapapun. Kecuali... Shida Mirai.

CURAAAAAAANG!!!
CURANG, BUKAN???

Kenapa??? Kenapa cuma Koichi yang boleh mengunjungi Ryu-chan??? Aaakk!!! Aku patah hati. Tapi memang begitu keadaannya.
      Tanpa sadar, aku sudah berjalan sampai di depan “Klinik Hewan Sawamura”. Aku menghentikan langkah, kemudian berpaling ke arah klinik. 
      “Irasshaimase...” ujar Sawamura-sensei ketika aku membuka pintu klinik.
      “Ryosuke-kun, doushita? Kenapa wajahmu murung begitu? Ayolah, anak muda harusnya selalu penuh semangat.”
      Aku mengabaikan kata-kata Sawamura-sensei dan duduk di sofa. Klinik ini memang kecil, tapi nyaman. Aku selalu datang ke sini, baik itu untuk sekedar berkunjung atau ketika aku sedang galau seperti ini.
      “Hai, douzo... (silakan)”
      Sawamura-sensei menyodorkan segelas teh kepadaku. Aku menerimanya dan menyeruputnya sedikit. Kemudian meletakkannya di atas meja. Aku memperhatikan ke sekeliling klinik. Ada banyak gambar hewan. Kandang kucing dan anjing. Rak-rak.
      Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskan dengan lepas sebelum berkata.
      “Ryu-chan...”
      “Ryu-chan?”
      Dahi Sawamura-sensei berkerut.
      “Iya.”
      “Aaa... teman sekelasmu yang tidak pernah masuk itu, ya?”
      Aku menganggukkan kepala.
      “Ada apa dengannya?” tanya Sawamura-sensei.
      “Aku tiba-tiba ingin menjenguknya. Aku tiba-tiba ingin membuatnya masuk sekolah lagi. Melihat dunia luar lagi. Kami sekarang sudah kelas tiga. Tidak lama lagi akan lulus. Aku tidak mau masa-masa sekolah yang berharga ini hanya Ryu-chan lewati di dalam kamarnya. Aku ingin dia juga menghabiskan waktu bersama kami, teman-teman sekelasnya. Bercanda, tertawa bersama, melakukan hal-hal konyol bersama. Tapi sepertinya itu mustahil. Dan sekalipun pergi menjenguknya, sebenarnya kami bingung apa yang harus kami katakan padanya. Kami benar-benar tidak bisa melakukan apapun untuknya,” curhatku panjang lebar.
     “Hmmm... Souka (begitu, ya),” gumam Sawamura-sensei.Ano sa (begini), dalam hidup ada hal-hal yang tidak bisa digerakkan hanya dengan kata-kata. Jadi, kalian harus melakukan sesuatu yang diluar batas kata-kata. Pemahaman.”
      “Pemahaman?” Kali ini aku yang mengerutkan dahi mendengar kata-kata Sawamura-sensei.
      “Iya. Pemahaman,” ulang Sawamura-sensei. “Kalian mungkin memang tidak akan merubah apapun jika hanya datang berkunjung ke rumah Ryu-chan, membawakannya buah-buahan, makanan dan minuman, lalu mengobrol dengannya panjang lebar. Bahkan bisa jadi kata-kata kalian malah akan semakin melukai Ryu-chan. Itu karena kondisi Ryu-chan bukanlah kondisi yang bisa diubah hanya dengan kata-kata. Tapi, jika kalian melakukan sesuatu yang menunjukkan kalau kalian memahami kondisi Ryu-chan dan membuat Ryu-chan mengerti kalau kalian memahaminya, kurasa itu akan sedikit membantu.”
      Aku terdiam, berusaha mencerna kata-kata Sawamura-sensei. Sawamura-sensei tersenyum padaku.
      “Sama seperti dokter hewan. Pernahkah terpikir bagaimana caranya seorang dokter hewan memahami pasiennya? Pasien dokter hewan bukan manusia yang akan menjawab dengan bahasa manusia ketika ditanya ‘bagian mana yang terasa sakit?’. Di dunia ini ada ribuan bahasa manusia, tapi tidak ada yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan hewan yang sedang sakit. Meskipun ada beberapa pengecualian terhadap hewan yang memang sudah terlatih. Tapi kucing hanya mengeluarkan suara ‘meong-meong’ dan anjing juga hanya mengeluarkan suara ‘guk-guk’. Begitu juga dengan hewan yang lain. Mereka hanya mengeluarkan satu jenis suara. Meskipun hewan-hewan itu mengeluarkan jeritan ketika kesakitan, tetap saja dibutuhkan sebuah pemahaman terhadap perilaku dan kebiasaan hewan untuk bisa menangani hewan tersebut. Jadi, seorang dokter hewan itu harus bisa berkomunikasi melebihi batas kata-kata. Terhadap manusia pun, kadang dibutuhkan komunikasi yang melebihi batas kata-kata.”
      Aku masih terdiam dan masih berusaha mencerna kata-kata Sawamura-sensei. Meski belum sepenuhnya mengerti, tapi aku merasa kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk Ryu-chan. Sawamura-sensei masih tersenyum padaku.
      “Ganbare (berusahalah), pasti ada cara untuk menggerakkan Ryu-chan.”
      Kali ini aku tersenyum mendengar kalimat Sawamura-sensei. Ia sudah seperti ayah kedua bagiku.
      “Oya, bagaimana kabar kakakmu di Australia? Aku sangat ingin mengunjungi koala di sana.”
      “Kabarnya baik-baik saja.”
      Kami pun mengobrol sampai sore. Ketika langit semakin merah di ufuk barat, aku pamit pulang dari klinik Sawamura-sensei. Di sepanjang jalan, aku menikmati pemandangan rumah-rumah dan jalanan yang disinari cahaya jingga-kemerahan. Ketika melewati rumpun semak di pinggir jalan, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Aku menepi, mendekati rumpun semak itu. Memperhatikan sesuatu yang bergelantungan di salah satu cabang kecilnya. Bibirku melengkungkan senyum.
Ya. Ada sesuatu yang ingin kulakukan untuk Ryu-chan dibandingkan dengan kata-kata atau sekedar mengunjunginya.

###

[Seminggu kemudian]
[Kediaman Keluarga Morimoto, kamar Ryutaro]

1 new mail
       
Jari-jari Ryutaro yang sedang sibuk di atas keyboard komputer terhenti ketika ia melihat sebuah pesan notifikasi di pojok kiri bawah monitornya. Dikliknya notifikasi tersebut dan sebuah jendela baru pun muncul di layarnya. Ternyata yang baru saja diterimanya adalah sebuah video. Ryutaro menekan tombol play pada video tersebut.


         “A~a~ Boku ni wa kimi ni shika miserarenai kao ga aru...” ♫


Terdengar suara Ryosuke di awal video yang menampilkan kesepuluh siswa kelas III-Z Jurusan Robot Sekolah Teknik Kitabata. Semuanya berdiri dalam dua baris yang memanjang ke samping. Masing-masing berdiri di belakang sebuah robot berbentuk kepompong. Begitu lirik pertama selesai dinyanyikan, robot-robot kepompong itu bertransformasi menjadi sebuah robot yang sempurna, memiliki tangan dan kaki, dan bergerak menari seirama dengan kesepuluh siswa lainnya.
 

              “Hito no mae de wa kuuki wo yonde

              Tsukuri warai wo tsudzuketeru

              Motto ganbare to iwaretara
              Sonao ni unazui tari mo suru

              Kodomo no koro wa shiranakatta
              Jibun ga konna ni okubyou da nante
              Nakitai yo, nakenai yo
              Kono mune ga harisake sou sa~

              Kimi ni shika miserarenai kao ga aru
              Kimi ni shika miserarenai kao ga aru
              Daijoubu to waratte kureta
              Aa~ boku ni wa kimi ni shika miserarenai kao ga aru

              Otona ni naru to gakushuu wo shite
              Guuzen nanka ni tayoranai
              Dakedo moshikashitara sore wa
              Kiseki dattari shinai darou ka

              Fushigi na chikara ga waitekuru
              Kimi ga yuuki wo kuretanda ne
              Aishiteru, aishiterunda
              Kono mune ga harisake sou sa~

              Kimi ni shika miserarenai kao ga aru
              Boku ni shika miserarenai kao ga aru?
              Itsumade mo itsumade mo
              Te wo tsunaide ita

              Aa~ boku ni wa kimi ni shika miserarenai kao ga aru

              Kodomo no koro wa shiranakatta
              Jibun ga konna ni okubyou da nante
              Nakitai yo, nakenai yo
              Kono mune ga harisake sou sa~

              Kimi ni shika miserarenai kao ga aru
              Kimi ni shika miserarenai kao ga aru
              Daijoubu to waratte kureta

              Aa~ boku ni wa kimi ni shika miserarenai kao ga aru...”


Ryutaro tersenyum kecil. Kemudian video tersebut menampilkan behind the scene pembuatan video, mulai dari latihan, sampai hari H rekaman video. Lagu yang sama kembali mengalun selama behind the scene ditampilkan dan tulisan yang berisi pesan dari siswa kelas III-Z Jurusan Robot.


      Sanagi (kepompong). Ryu-chan, ada wajah yang hanya bisa kami tunjukkan padamu. Sebelum lulus dari sekolah ini, mari sama-sama menghabiskan waktu di sekolah, bercanda, tertawa dan melakukan hal-hal konyol bersama. Ada sebuah kepompong yang sudah lama kami tunggu mengeluarkan seekor kupu-kupu indah yang akan terbang bersama kami. Tapi, tak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu sampai kupu-kupu itu keluar. Kami tak bisa memaksanya keluar. Jika saatnya tiba, kami ingin menjelajahi dunia bersamanya. Dari kelas III-Z Jurusan Robot Sekolah Teknik Kitabata.”



SELESAI
----------------------------------------------
 

Author’s note:
Vina-chaaaaaaaan, 24 no otanjoubi omedetou!!! *tebar confetti*
Gomen, ffn-nya lama baru ditulis (idenya baru sempurna di detik terakhir) (>_<)
Dan romance-failed, comedy-failed... (T_T) *terjun bebas dari puncak monas*
Anyway, semoga banyak hal baik yang terjadi di usia ke-24 tahun Vina ^_^