Aku (Bukan) Orang Baik

"Kamilah yang paling benar. Kamilah yang paling baik. Kamilah yang paling suci..."
Entah ke berapa kali kalimat-kalimat penuh nada percaya diri yang menjulang mengangkasa itu mampir ke telingaku dan meninggalkan jejak nyeri di sanubari. Atau kata-kata yang membuat hati perih seperti, maaf--kafir--, yang entah kenapa berguguran bagaikan daun di berbagai media sosial. Ah, kenapa daun-daun itu mesti berguguran di beranda facebook-ku? Kenapa pula mesti mengotori timeline twitter-ku?

Penyakit terparah manusia... Merasa dirinya paling benar, merasa dirinya paling baik, paling suci...

Ah, apakah cerminmu mulai kau anggurkan? Bagaimana bisa?

Tapi kenapa kudapati kau dan mereka menghujani makian pada orang-orang yang kalian sangka hina dan berdosa itu? Kenapa kau dan mereka mesti menjatuhkan hanya demi terlihat paling kokoh?

Kau dan mereka...membuatku kecewa pada manusia.

Ini kuhadiahi cermin untukmu dan mereka. Kuharap kali ini kau lebih sibuk pada refleksimu di cermin daripada kumpulan kafir yang kau risaukan itu.

Kuharap cermin itu dapat membantumu mengusap noda gelap yang hendak menyatu pada kulitmu.

Oh, sudah berapa lama kau tak bercermin? Sesibuk apakah kau selama ini? Sampai-sampai noda yang ada padamu hendak menyusup masuk dan menyatu di tubuh sucimu.

Ah, aku tahu! Barangkali tebakanku ini benar adanya...

Pasti kau sibuk sekali ya mengomentari dan mencemooh orang-orang yang penuh noda dan bau busuk di sekitarmu?

Hmm, aku jadi teringat kata-katamu yang kau lafalkan dengan keyakinan penuh di suatu senja. "Aku yakin akan mendapatkan orang baik. Sebab orang baik akan berjodoh dengan orang baik, begitu pun sebaliknya."

Itu adalah kata-katamu yang paling ingin kurekam dalam benakku... Perbincangan hari itu, tentang pasangan hidup... Ah, ya, baiklah. Aku mengaku saja. Aku memang mencuri dengar perbincanganmu dan kelompokmu. Baiklah, aku sudah berdosa. Aku memang bukan orang baik...

Orang baik, ya? Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan 'baik' itu? Kenapa kamu dengan entengnya menyatakan dirimu baik? Apa indikator seseorang di anggap baik? Apakah penilaian 'baik' versimu adalah yang paling valid dibandingkan dia, dia, dan mereka?

Nah, sekarang bagaimana denganku? Apakah aku sudah berada pada kategori 'baik'?

Oh, ayolah. Aku sungguh ingin jadi orang baik agar punya pasangan orang baik pula...

Ha ha ha...
Maaf, aku terkadang memang hobi bercanda. Aku sama sekali tak pernah memusingkan apakah aku ini orang baik ataukah sebaliknya. Aku hanya selalu seperti ini. Menjadi diriku sendiri...

Hari ini aku menjadi orang yang sangat baik sekali. Tapi barangkali besok aku lupa untuk menjadi baik.

Lagi pula aku tak terlalu bisa mengkotakkan manusia pada hitam atau pun putih.

Kau dan aku mungkin lebih tepat berada pada abu-abu. Bukan hitam, bukan pula putih.

Kupikir ini seperti teori Yin dan Yang. Di dalam hitam ada putih. Di dalam putih ada hitam.

Dan itu pula yang berlaku pada baik dan buruk.

Nah, sekarang, apakah aku baik?

Ah, lupakan saja.
Aku tak benar-benar peduli.
Bukankah baik dan buruk adalah akumulasi opini dari manusia?

Aku hanya tak ingin melenakan diriku dengan menganggap aku orang yang paling baik, paling benar, paling suci...

Ah, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.

Kalau kamu? Apakah kamu orang baik? 

Jangan Nilai Sesuatu dari Sampulnya

Kebanyakan orang terlampau sering menilai seseorang dari bungkus luarnya. Mengecap seseorang sombong, menandai orang yang lain ramah dan baik hati, serta berbagai bentuk penilaian lainnya terhadap orang yang mereka kenal sambil lalu.

Pernahkah kalian berpikir bahwa barangkali semua yang kita perhatikan pada orang-orang asing yang kita temui itu adalah semacam ‘topeng’ untuk menutupi diri mereka yang sejatinya? Bagaimana jika mereka sebenarnya tidak sesuai dengan sampul yang mereka tunjukkan?

Barangkali kita sering merasa kesal pada orang yang terlihat sombong dan irit kata. Kita akan mengecap mereka dengan mudah sebagai si anti sosial, sebab mereka sama sekali tidak ramah dan terkesan sibuk dengan diri mereka sendiri, alias egois. Mereka kadang tak perlu dan tak ingin membuka obrolan basa-basi dengan kita yang baru dikenal mereka sepintas lalu. Namun ada kata-kata dari William James yang perlu kita perhatikan yakni ‘Seorang manusia memiliki diri sosial sebayak keberadaan kelompok orang yang berbeda yang pendapatnya dia pedulikan. Dia biasanya menunjukkan sisi lain yang berbeda dari dirinya bagi tiap-tiap kelompok yang berbeda ini’.

Nah, jadi mungkin saja si anti sosial ini ternyata dikenal sebagai orang yang ramah dan suka menolong temannya yang kesulitan, bahkan mungkin ada kenalannya yang mengatakan bahwa si anti sosial itu adalah tipe humoris dan menyenangkan. Itu mungkin saja.

Terkadang memang manusia menunjukkan sifat-sifat tertentunya hanya kepada sebagian orang. Dan sifat kita kepada orang yang satu dengan yang lain tentu tidaklah sama persis. Terkadang kita menyesuaikan dengan siapa kita berinteraksi.

Ya, jadi kita memang dapat merentangkan kepribadian kita, tapi hanya sampai titik tertentu. Seperti teori karet gelang kepribadian yang dipaparkan oleh Susan Cain, kita ini elastis dan bisa merentangkan diri kita sendiri,tetapi dengan keterbatasan.

Mungkin saja si anti sosial (introvert) dapat menjadi sosok yang supel, ramah, dan humoris, namun tentu saja ia tak bisa melakukan itu terus-menerus, karena itu bukan sifat alamiahnya. Sekuat apa pun ia mencoba mengubah dirinya, ia tak akan bisa melepaskan diri dari warisan genetiknya. Jadi si anti sosial hanya bisa menyamar menjadi sosok ekstrovert, tapi bukan berarti serta-merta ia berubah menjadi sosok ekstrovert.

Tentu saja tidak mudah menyamar atau melakoni sesuatu yang bukan diri kita, seperti itulah yang mungkin kerap dirasakan para introvert. Tapi terkadang demi dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya, mereka mau tidak mau mesti menyamar. Namun dalam melakukan penyamaran mereka, mereka harus mempunyai semacam ‘relung penyembuhan’.

Relung penyembuhan yang dimaksud di sini adalah waktu bagi diri introvert itu sendiri setelah menghabiskan energi mereka untuk terus berinteraksi dengan orang banyak. Sangat berbahaya apabila seorang introvert tidak memiliki relung penyembuhan bagi dirinya. Kenapa saya dapat mengatakan seperti itu? Karena saya pernah mengalaminya sendiri. Tanpa adanya relung penyembuhan, hal itu akan berdampak pada kesehatan fisik dan psikis si introvert itu sendiri. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Profesor Little yang mengatakan bahwa ‘Berperilaku di luar karakter dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf autonomic, yang dapat, pada gilirannya, membahayakan fungsi imunitas’.

Nah, semoga setelah ini kita tidak gampang menilai orang dari sampulnya saja. Karena para introvert terkadang melakukan perjuangan yang berat, melawan atau berharap dapat mematikan karakternya hanya demi di terima dunia.



Kutipan Novel 'How Can I Forget You?'

Berikut adalah beberapa kutipan yang dapat kamu temukan di dalam novel karyaku berjudul 'How Can I Forget You?'





















 
 







Nah, bagaimana? :)

Ayo, buruan beli novel 'How Can I Forget You?', ya ^_^

Novel How can I Forget You?

 Hai, untuk kamu para penggemar novel Indonesia, yuk buruan beli dan baca novel 'How can I Forget You?' yang merupakan karya perdanaku terbitan Media Pressindo. Buat para pecinta Jepang, khususnya para fans penyanyi cantik YUI (Yui Yoshioka) sangat disarankan untuk membeli buku ini. Karena kalian akan menemukan beberapa lirik lagu YUI di dalam novel ini.

Nah, selain penggemar Jepang, penggemar Kota Paris, Perancis, juga wajib baca buku ini. Sebab di dalam novel ini kalian akan diajak berjalan-jalan ke kota romantis itu, lho! ;)



Ini cover dari novel 'How can I Forget You?' agar kalian mudah untuk menemukannya di toko buku.





Dan di atas adalah sinopsis dari novel 'How can I Forget You?'

Nah, bagaimana? Ayo, buruan beli bukunya. Happy reading and enjoy!
Buat yang udah beli, jangan lupa kasih review dan beri rating novelnya  di sini   ya. ;)





HUJAN

Untuk beberapa alasan aku membenci hujan...
Karena hujan memoles malapetaka di hatiku...
Sakit
Rasanya seperti hujan batu
Butirannya jatuh keras meninggalkan bolongan di hati
Nganganya abadi
Biar waktu yang dilewati sudah mati
Tapi kadang aku lupa kalau aku benci hujan
Ketika hujan menyembunyikan tangisanku
Ketika hujan memelukku di saat semua orang pergi
Hanya hujan yang mau mengerti
Kesedihanku
Rasa sakitku
Kesepianku
Tapi kini ketika hujan berkhianat... aku tak punya satu pun lagi
Semua sirna bersama hujan, tadi...




DREAMS

Author: Wintervina
Genre : Friendship
Cast   : Kei Inoo, Yamada Ryosuke, and Nakajima Yuto
Type  : Oneshot

 --------------------------------------------------------------------------
Guyuran hujan dan angin kencang tak menghentikan lari pemuda bertubuh pendek itu. Ia seakan berlari dari kenyataan yang selalu menghimpitnya. Kenyataan yang menghadirkan sebuah kata ‘iri’ di hatinya.

Seketika larinya terhenti dan matanya yang sembab menangkap sosok eksistensi yang tengah duduk di tempat duduk favoritnya--di taman--di bawah pohon sakura yang berdahan rindang itu.

Ragu, pemuda itu berjalan menuju kursi favoritnya di taman itu. Perlahan ia duduk di pinggiran lain kursi itu, khawatir jika gerakannya mengusik pemuda yang duduk di sebelahnya.

Hening. Keadaan sungguh hening.  Anak lelaki itu hanya terus mendengar debaran jantungnya saja yang sejak tadi masih berdebar hebat. Dadanya masih terasa sesak. Lantaran pertengkaran konyol itu. Pertengkaran yang seharusnya tak akan terjadi kalau saja ia bukanlah ia yang sekarang.

Ia menatap langit hitam yang masih setia mengguyurnya dengan rintikan hujan. Hujan yang setiap rintiknya selalu disambut riang dan sukacita baginya dan sahabatnya di masa kecilnya dulu. Namun mungkin hal tersebut tak berlaku lagi saat ini. Ia hanya menatap langit hitam yang terus menangis itu dengan senyum kecutnya.

Sahabat?? Entah kenapa, ia belakangan ini begitu membenci kata itu. Pemuda bertubuh pendek itu menghela napas sebelum kemudian memungut satu helai daun sakura yang baru saja jatuh di kursi di mana ia duduk. Ia memutar-mutar helaian daun sakura itu dengan kedua telapak tangannya. Ia tak menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu menarik perhatian pemuda yang sejak tadi duduk di sebelahnya.

“Kau sedang ada masalah?” tanya pemuda yang sudah lebih dulu berada di taman tersebut.

“Heh?” pemuda bertubuh pendek itu menoleh seketika pada pemuda di sampingnya.

“Kau-sedang-ada-masalah??” pemuda yang duduk di sebelahnya tersebut mengulangi pertannyaannya dengan memberi penekanan pada setiap kata yang diucapkannya.

Anak bertubuh pendek itu menatap seksama wajah lawan bicaranya. Ia melihat ada bias keramahan di wajah pemuda tersebut. Entah kenapa, hasrat ingin menceritakan permasalahannya pada pemuda yang baru dikenalinya itu begitu kuat.

“Sebenarnya ini bukanlah masalah yang cukup serius. Hanya petengkaran kecil dengan sahabatku,”ujar pemuda itu menundukkan wajahnya sambil jari-jarinya tetap memutar-mutar helaian daun sakura.

“Jika hanya masalah kecil, kenapa kau memasang tampang semuram itu? Dengarlah, sebuah persahabatan ada kalanya diuji. Jika kau dan sahabatmu itu bisa melewati ujian tersebut, maka ke depannya persahabatan kalian pasti akan jauh lebih erat lagi dibandingkan sebelumnya.”

Pemuda bertubuh pendek itu mulai merobek-robek helaian daun sakura di tangannya. Kembali ia menyesali menjadi dirinya yang tak berguna. Andai saja ia tak terlahir dengan otak yang bodoh, andai saja ia cukup pintar matematika, dan andai saja ia selalu juara kelas. Namun semua itu hanya akan senantiasa menjadi pengandaian baginya yang pada kehidupan nyata, 'semua itu’, semua yang tidak ia punyai hanya dimiliki oleh sahabat karibnya; Nakajima Yuto.

Di sekolahnya, Yuto selalu disanjung oleh para gurunya serta diidolakan oleh banyak gadis. Sedangkan apabila ia di rumah, orang tuanya selalu membanding-bandingkan prestasi Yuto yang cemerlang dengan dirinya yang hanyalah biasa dalam segala hal. Jadi satu hal yang dapat disimpulkan dari semua itu, adalah ia IRI. Dengan segenap kesadarannya, dengan jelas ia katakan ia IRI pada sahabatnya, Nakajima Yuto! Dan ia benci mengingat bahwa dari segi apa pun, Yuto selalu mengalahkannya. Selalu. Dan ia jenuh hanya selalu menjadi bayang-bayang dari ketenaran Yuto. Walau hanya sekali, ia ingin juga merasakan berada di posisi Yuto atau bahkan lebih. Namun ia sadar dengan kemampuan yang ia miliki saat ini, semua serasa hanyalah impian yang terlalu mewah baginya.

“Aku paling tidak suka pelajaran Matematika. Karena aku paling lemah dalam hal berhitung. Jadi tidak salah kan aku meminta tolong padanya agar membagikan jawaban ulangannya tadi padaku?? Tapi yang membuatku kesal setengah mati, ia sengaja tak memberikan jawabannya padaku. Jadi sudah bisa ditebak dengan jelas, aku tak bisa mengerjakan 1 soal pun,” tutur pemuda bertubuh pendek itu yang entah kenapa bercerita dengan lancar pada pemuda di sampingnya tentang perkara yang sedang dialaminya.

“Aku juga akan melakukan hal yang sama dengan sahabatmu jika aku berada di posisinya.”

Pemuda bertubuh pendek itu menatap tajam kearah pemuda di sampingnya.

“Kau tahu, dia melakukan itu karena dia begitu menyayangimu,” lanjut pemuda itu lagi.

“Bukan! Dia bukannya sayang, tapi pelit!”  pemuda pendek itu berkata dengan nada tinggi.

“Hei, kau tahu dia pasti berharap agar kau lebih serius belajar dan tak terus-terusan mengandalkan dan mengharapkan bantuannya.”

“Tapi… masalahnya aku tak sepintar dia. Aku ini bodoh, aku tidak berguna, aku-"

“Cukup! Aku paling tidak suka orang yang hanya bisa mengasihani dirinya sendiri tanpa berusaha untuk memperbaiki kelemahannya.”

“…”
Pemuda bertubuh pendek itu meremuk-remuk helaian daun sakura di genggamannya hingga tak berbentuk lagi.

“Kau tahu, aku paling lemah pelajaran bahasa Inggris. Namun itu tidak membuatku untuk pasrah begitu saja. Aku dengan giat belajar bahasa Inggris setiap harinya. Berharap kelak aku akan fasih berbahasa Inggris."

“…”
Pemuda bertubuh pendek itu masih terdiam.

“Kau lihat rintik-rintik hujan ini? Mimpiku adalah sebanyak rintik hujan ini. Beberapa telah terwujud, seperti halnya mimpi kecilku dulu ingin masuk Universitas Meiji. Dan aku masih terus berharap dan berusaha agar mimpi lainnya juga akan segera terwujud,” ujar pemuda bertubuh lebih tinggi itu tersenyum menatap langit yang semakin hitam.

Sugee! Kau kuliah di Universitas Meiji?!” Pemuda bertubuh pendek itu menatap kagum pada lawan bicaranya itu.

“Kau juga dapat melakukan itu jika kau percaya pada kekuatanmu. So, don’t give up!” ujar pemuda tersebut berdiri dan bersiap-siap untuk meninggalkan taman itu.

Chotto matte!

Pemuda tersebut menghentikan langkahnya dan menatap tak mengerti pada anak lelaki yang tubuhnya lebih rendah dibandingkannya itu.

“Kita telah banyak bercakap-cakap sejak tadi namun belum mengenal satu sama lain. Aku Yamada Ryosuke. Kau bisa memanggilku Yama-chan.”  Pemuda bertubuh pendek itu mengulurkan tangannya diiringi senyum tulus dari bibirnya.

“Kei Inoo. Kau boleh memanggilku Inoo-chan. Senang berkenalan denganmu,Yama-chan,” ujarnya menjabat tangan pemuda di hadapannya.

~**~

Enam bulan telah berlalu sejak pertemuan Yamada dengan pemuda dari Universitas Meiji bernama Kei Inoo tersebut.

Hampir setiap sore Yamada duduk di bangku favoritnya di taman tempat ia pertama kalinya bertemu dengan Kei Inoo. Orang yang secara tak langsung telah mengubah dirinya menjadi seperti sekarang.

Namun kali ini ia tak sendiri mendatangi taman itu. Ia ditemani oleh sahabatnya. Siapa lagi, kalau bukan Nakajima Yuto. Ya, kini ia merasa tak salah lagi kata ‘sahabat’ itu diperuntukkan bagi seorang Nakajima Yuto. Karena seperti yang pernah Kei Inoo katakan padanya, bahwa sesungguhnya Yuto menyayanginya melebihi apapun. Selama enam bulan ini Yuto selalu mendukung Yamada hingga ia menemukan dirinya yang sekarang.

Kini semua orang mengenal Yamada Ryosuke bukan sebagai tukang tidur di kelas, bukan sebagai orang yang selalu membuntuti Nakajima Yuto,dan bukan sebagai orang yang selalu mendapat nilai terendah dalam pelajaran matematika. Sekarang jika mendengar nama Yamada Ryosuke, yang orang bayangkan adalah sosok pemuda dengan sederetan prestasi di sekolah baik di bidang akademik maupun non akademik.

Sekali lagi ia harus berterima kasih pada Kei Inoo. Kalau bukan karena ia yang meyakininya, mungkin semua mimpi kecil Yamada tak akan pernah bisa menjadi kenyataan seperti sekarang.

“Kau masih menunggunya?” tanya Yuto memecah keheningan di antara mereka sembari menatap wajah sahabatnya yang tengah asyik memutar-mutar helaian daun sakura yang baru saja dipungutnya dari tanah di dekat kursi yang ia duduki.

Yamada menoleh dan tersenyum ke arah sahabatnya.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya,” ujar Yamada dengan tersenyum.

Kedua sahabat itu terus berada di taman sampai langit memuntahkan rintikan hujan yang dari sejak mereka masih kecil hingga remaja seperti sekarang sangat mereka sukai itu. Keduanya tersenyum. Merasakan dan menyambut tiap rintik hujan seperti mimpi-mimpi yang selalu mengiringi kehidupan mereka.

Sementara di tempat lain, Kei Inoo, pemuda yang senantiasa ditunggu dengan setia oleh Yamada setiap harinya di taman itu, pemuda yang diselimuti mimpi-mimpi dan harapan itu sedang meregang nyawa. Leukemia yang dideritanya harus menghentikan perjalanannya mengejar mimpi-mimpinya di dunia. Namun ketika rintik-rintik hujan itu semakin membasahi seluruh permukaan tanah, ia tersenyum. Senyum yang penuh rasa bahagia. Bahagia karena melepas segala mimpi-mimpinya seperti langit yang melepaskan rintik-rintik hujan sore itu.

~**~

-Owari-







ONE LOVE



Author : Wintervina
Genre  : Romance
Cast    : Shida Mirai, Yamada Ryosuke (Hey! Say! JUMP), and Nakajima Yuto (Hey! Say! JUMP)
Type   : Oneshot

---------------------------------------------------------------------------------

Alunan musik di ruang tengah keluarga Yamada terus berkumandang mengiringi kedua remaja yang terlihat sedang asyik mengerjakan tugas kuliahnya. Lagu ‘One Love’ milik Arashi. Lagu kesukaan salah seorang di antara mereka.

“Uhh, Yama-chan! Aku telah lelah mengerjakannya!! Sisanya kau saja ya yang mengerjakannya,” rengek gadis manis di samping pemuda berambut kecoklatan yang masih serius menyelesaikan tugasnya. Pemuda yang dipanggil Yama-chan itu tak menjawab perkataan gadis manis di sampingnya. Namun ia memberikan senyumnya yang teramat manis. Begitu tulus dan damai.

Yatta! Yama-chan memang paling baik dan selalu bisa kuandalkan!” sorak gadis berambut hitam sebahu itu dengan senang.

Tak lama kemudian, gadis tersebut telah sibuk sendiri menonton televisi di hadapannya dan melupakan pemuda bernama Yama-chan tersebut yang sedang berkutat menyelesaikan tugas-tugas kuliah mereka yang begitu banyak dan super sulit itu.

“Yama-chan! Yama-chan!! Coba lihat! Itu Nakajima Yuto!! Wuah, dia terlihat tampan sekaliii!!” teriak gadis tersebut dengan mata tak berkedip menatap layar televisi yang menampakkan gambar seorang penyanyi lelaki tampan yang belakangan ini namanya sedang bersinar dan digandrungi hampir seluruh remaja Jepang bahkan Asia itu.

Pemuda bernama Yama-chan tersebut memandang ke arah televisi dengan malas. Dan menghentikan kegiatannya menulis tugas-tugas mereka.

“Mirai-chan. Bukankah setiap hari kau selalu melihat pemuda itu di televisi? Lantas kenapa tiap kali melihatnya selalu saja berteriak histeris seperti itu? Apa kau tak bosan? Aneh...”

“Hanya melihat dari televisi saja tentu tidak cukup, Yama-chan! Aku ingin bertemu langsung dengannya!! Bagaimana aku tidak histeris, dia nyaris sempurna. Keren, tampan, kaya, dan populer…”

“Tapi kan aku juga tidak kalah dari anak lelaki itu,” ujar Yamada memotong perkataan Mirai-chan. “Aku juga keren. Pintar lagi! Si Yuto itu pasti kalah saing denganku.”

"Huuuu~ Sombong! Iya, tahu kok kamu pintar! Tapi sampai kapan pun kamu tidak akan bisa menandingi seorang Nakajima Yuto di mataku dari segi apapun!” ujar gadis bernama Mirai tersebut sambil mencibir ke arah Yamada.

Entah kenapa saat mendengar perkataan gadis tersebut, perasaan Yama menjadi sakit. Padahal bukan sekali ini saja gadis itu berkata seperti itu padanya. Seharusnya kupingnya sudah terbiasa mendengar pujian sang gadis untuk sang idolanya Nakajima Yuto.

Ya, walau pun hanya seorang artis. Walau pun tak kenal secara pribadi. Entahlah. Yamada merasa tak suka tiap kali mendengar sahabat kecilnya itu memuji-muji lelaki di balik layar kaca itu. Nakajima Yuto. Penyanyi yang namanya sekarang tengah bersinar terang.

***


-10 tahun yang lalu-

“Yama-chan, mari kita buat janji!” ujar Mirai kecil pada anak lelaki bernama Yamada Ryosuke.

“Mirai-chan mau aku buat janji apa?” tanya anak lelaki itu dengan polos.

“Ayo janji jadi pasangan pengantinku jika sudah besar nanti!” ujar Mirai dengan riang sambil mengulurkan kelingkingnya ke arah Yamada.

Yamada yang sama polosnya saat itu membalas denga tersenyum sembari mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Mirai.

Mereka telah berjanji.

***


“Yama-chan!!” teriak Mirai setengah berlari ke arah pemuda berkacamata yang sedang asyik menikmati jus strawberry yang baru saja di pesannya.

Doushite?” tanya pemuda itu mengerutkan keningnya melihat sahabatnya yang terlihat begitu panik pagi itu.

“Yama-chan…,” napas gadis itu masih terengah-engah. Yamada segera menyodorkan jus strawberry-nya kepada sahabatnya itu. Dengan kalap, Mirai segera meminum jus tersebut hingga hanya tersisa sebagian saja.

“Yama-chan! Kau pasti tak percaya mendengar kabar ini!! Dia ada di sini! Ya, sekarang dia satu kampus dengan kita! Bagaimana aku tidak senang coba??!” ujar Mirai sedikit berteriak.

“Dia? Dia siapa yang kamu maksud?” tanya Yamada masih belum mengerti apa yang dikatakan Mirai.

“Yuto! Nakajima Yuto!! Dia pindah ke sini! Dan mulai sekarang dia akan menjadi teman sekampus kita!” ujar Mirai riang dengan senyum yang tak berhenti menghiasi bibirnya. “Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak merasa senang?” ujar Mirai yang akhirnya merasakan perbedaan sikap sahabatnya itu.

“Oh,t-tentu saja aku senang. Ya. Apapun yang bisa membuat Mirai-ku senang, aku pasti akan turut senang," ujar pemuda itu mencoba terlihat merasakan kebahagiaan yang sedang sahabatnya itu rasakan. Walaupun di dalam hatinya sedang cemas, resah, dan takut kehilangan sahabatnya itu. Mirai.

***

“A-apa?! Kenapa mesti aku??!” ujar Yamada yang kaget begitu mendengar permintaan aneh yang keluar dari mulut sahabat kecilnya yang begitu disayanginya.

“Jadi ceritanya kamu tidak mau nih membantuku kali ini? Ternyata kamu bukan Yamada yang bisa kuandalkan lagi!” ujar Mirai mengeluarkan jurus ‘ngambek’nya. Dan setiap kali Mirai mulai bertingkah seperti itu, Yamada pun akhirnya mau tak mau memenuhi segala permintaan gadis itu. Ia paling tidak bisa membuat sahabat kecilnya itu sedih karenanya.

“Baiklah. Nanti aku akan segera bilang sama dia. Sudah, jangan ngambek lagi... Aku tidak tenang melihat wajah kamu yang seperti itu,” ujar Yamada yang akhirnya membuat Mirai segera memeluknya. 

Begitulah Mirai. Tiap kali ia merasa senang, ia akan segera memeluk Yamada. Namun walaupun hal tersebut telah sering dilakukan Mirai padanya, namun pemuda tersebut masih seringkali merasa canggung tiap kali Mirai memeluknya. Walaupun semuanya tak berarti lebih. Hanya pelukan sahabat. Tak bisa diartikan lebih dari itu.

***

Gadis itu terlihat begitu senang dan berbinar-binar hari itu. Bagaimana tidak?? Lelaki pujaannya selama ini sekarang telah berada di hadapannya. Ia tak perlu repot-repot lagi untuk menyalakan televisi setiap kali ingin memandang wajah tampan seorang Nakajima Yuto. Ya. Mereka bahkan tengah makan siang bersama sekarang! Ini tentu saja bukan mimpi. Berkat sahabat kecilnya yang paling ia sayangi. Siapa lagi kalau bukan Yamada Ryosuke. Kalau tidak karena bantuannya, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Walaupun beberapa hari lalu ia harus mengeluarkan jurus ‘ngambek’nya dulu agar Yamada sudi membantunya. Membantunya agar dapat berkenalan dengan sang bintang, Nakajima Yuto.

Di kejauhan, seorang lelaki menatap sedih ke arah Mirai dan Yuto. “Kalau itu yang membuat kamu bahagia, aku akan merelakanmu, Pengantin Kecilku, ”bisiknya pada dirinya sendiri sambil tersenyum. Senyum yang memilukan. Berupa lengkungan patah.

***


Mirai berlari mengejar Yamada yang terlihat berjalan beberapa meter di depannya.

“Yama-chan!”

Pemuda berkacamata itu segera menoleh ke arahnya.

“kenapa?” tanyanya dengan nada datar. Kelihatan tak bersemangat sekali.

“Aku mau pinjam tugasmu, dong! Besok aku kembalikan, kok," ujar Mirai dengan tersenyum semanis mungkin.

“Ini...”

Lagi-lagi pemuda itu berkata dengan datar. Namun kali ini terlihat lengkungan di bibirnya. Walaupun terlihat patah dan tak setulus biasanya. Saat pemuda itu ingin melangkahkan kakinya, Mirai pun memanggilnya.

Chotto!

Langkah pemuda itu terhenti. Tanpa berkata apa-apa lagi, Mirai segera menempelkan punggung tangannya pada dahi sahabat kecilnya itu.

“Astaga! Kau sakit, Yama-chan!” ujar sang gadis panik merasakan suhu tubuh pemuda itu yang begitu hangat.

“Jangan terlalu dipikirkan. Ini hanya sakit biasa. Sebentar lagi juga segera sembuh,” ujar pemuda tersebut sambil tersenyum ke arah Mirai.

***


Saat sedang menyalin tugas milik Yamada yang baru saja dipinjamnya, Mirai tak sengaja menemukan secarik kertas yang terselip di sela-sela tugas milik Yamada, sahabatnya itu.



Ada waktu ketika Kita ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa
Dan waktu ketika Kita tidak bisa jujur
Kita telah mengatasi itu ketika menangis
Dan sekarang Kita bersinar dengan terang
Gambaran kebahagiaan yang Kita miliki terlukis satu sama lain
Untuk menjadi satu cinta yang luar biasa
Mari hidup bersama selamanya

Seratus tahun dari sekarang, Aku berjanji cintaku
Kau adalah segalanya bagiku
Percaya padamu, hanya percaya padamu
Seseorang yang akan berbagi waktu bersamaku

Tidak masalah apa yang ada padamu, tidak ada masalah apa yang ada padaku
Setiap bagian itu berharga bagiku
Selama Aku memilikimu, Aku tidak membutuhkan yang lain
Aku tau Kita akan berbahagia

Seratus tahun dari sekarang, Aku berjanji cintaku
Kau adalah segalanya bagiku
Aku mencintaimu, hanya mencintaimu
Seseorang yang akan berbagi waktu bersamaku
Mari berjanji esok Kita kan saling berbagi

Kau adalah satu dan hanya satu orang yang Kupilih
Di seluruh dunia ini
Selama Aku memilikimu, Aku memiliki masa depan apapun
Akan selalu bersinar

 
Gadis tersebut tersenyum-senyum sendiri membaca puisi sahabat kecilnya itu.

"Ternyata anak itu sedang jatuh cinta! Kira-kira siapa ya gadis yang sedang disukainya? Kenapa dia tidak pernah memberitahuku? Dia benar-benar curang!" gumam Mirai pada dirinya sendiri.

***

Yamada tak tahu lagi mesti menjelaskan bagaimana dengan sahabatnya itu. Perkara puisinya. Ya, seharian ini Mirai tak berhenti mewawancarainya hanya karena ingin tahu untuk siapa puisi itu sebenarnya ia tulis. Bagaimana mungkin ia bisa menjawabnya??

Yamada Ryosuke. Semua mahasiswa di kampusnya tahu dia adalah seorang yang cerdas. Tak ada yang bisa menolak anggapan tersebut. Namun, entah kenapa saat diwawancarai Mirai mengenai puisi terkutuk itu, ia bisa berubah total menjadi orang terdungu sekalipun! Namun berkat kedatangan Nakajima Yuto, Mirai pun sukses melupakan Yamada Ryosuke dan perkara puisi-nya yang sejak tadi ia ributkan. Ia melupakan sahabat kecilnya itu. Seolah Yamada tak ada di sampingnya lagi. Hanya ada dia dan Nakajima Yuto saja di sana. Menyadari hal itu, Yamada segera pulang dengan hati remuk.

“Mirai-chan. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu. Maukah kau pergi sebentar bersamaku?” tanya Yuto yang spontan dijawab Mirai dengan anggukan kepala. Ia benar-benar telah tersihir dengan pesona bintang seorang Nakajima Yuto. Yuto pun segera menggandeng tangannya.

***

“Jadi begitulah…” ujar Mirai mengakhiri ceritanya. Ia segera melirik Yamada yang sibuk memain-mainkan sushi kesukaannya.

“Baguslah. Sekarang kamu tentu harus berbahagia.  Akhirnya dia benar-benar menjadi kekasihmu! Kudoakan semoga kalian selalu bahagia bersama,” ujar Yamada tertunduk lesu masih tetap memainkan sushinya. Entah kenapa selera makannya telah lenyap begitu saja saat mendengar Mirai, Sang Pengantin Kecilnya menjadi kekasih orang lain. Kekasih seorang superstar!

Arigatou,Yama-chan! Kau memang sahabatku yang paliiiinngg baik!” ujar gadis itu lagi-lagi memeluknya di saat dia merasa begitu bahagia. 

“Yama-chan, kau sakit lagi?” tanya gadis itu menatap lekat pemuda yang ada di hadapannya. Wajah pemuda itu belakangan ini sering terlihat pucat. Ia juga tak bersemangat seperti biasanya. Aneh.

“Jangan menatapku seperti itu! Sudah kubilang, aku tidak apa-apa," ujar Yamada sambil mengacak-ngacak rambut gadis yang begitu ia sayangi sejak kecil itu.

“Uhmm, aku dan Yuto besok pagi berencana untuk pergi jalan-jalan ke pantai tempat kita bermain biasanya dulu. Apa kau mau ikut?”

“Tidak ,ah! Nanti aku hanya akan jadi pengganggu kalian saja. Kan tidak enak...”

“Tapi--”

“Sudahlah! Ini kan kencan pertama kalian. Jadi aku benar-benar tidak ingin jadi pengganggu. Oke? Nanti kalau kamu ingin jalan-jalan dengan aku saja ke pantai itu lagi, pasti aku ajak kok. Tapi kali ini, giliran kamu sama kekasih barumu saja," jelas Yamada bijak. Walau hatinya perih saat mengatakan itu. Walau hatinya remuk redam. Ia mencoba menyembunyikan itu semua dengan senyumannya. Senyuman palsunya yang tak disadari Mirai.

***

“Apa?! Mirai-chan kecelakaan, Bi?! Baiklah, aku akan segera ke rumah sakit sekarang!” ujar Yamada yang segera bergegas mengganti pakaiannya dengan yang lebih rapi dan segera melaju menuju rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit, ibu Mirai terus menangis pilu. Yamada mencoba menenangkan perasaan ibunda sahabatnya itu. Walaupun tak dapat dipungkiri hatinya juga cemas bukan main. Namun syukurlah, tak berapa lama kemudian Mirai berhasil melewati masa kritisnya. Yamada dan ibu Mirai setidaknya dapat bernapas sedikit lega. Namun perkataan dokter barusan amat membuat Yamada kesulitan bernapas. Mirai sekarang buta dan juga lumpuh!

Yamada tak kuasa mendengar hal itu. Mirai. Sang masa depannya yang kini seakan kehilangan masa depannya. Jika diijinkan, ia rela menukarkan semua yang ia punya asalkan Mirai-chan, Pengantin Kecilnya dapat kembali seperti sediakala lagi.

‘andai saja tak pergi ke pantai itu’
‘andai saja tak kencan hari itu’
‘andai saja..’

Yamada terus berandai-andai dalam hatinya. Namun, toh semua telah terjadi. Tak ada gunanya lagi untuk disesali. Ya, tak ada yang bisa disesali...

“Bu, Ibu di mana?” ujar Mirai yang membuat hati Yamada menjadi pilu.

“Ibu di sini, Nak. Di sampingmu," ujar ibu Mirai menggenggam erat tangan putri semata wayangnya sambil menangis.

“Tapi kenapa semua gelap?! Kenapa Mirai tidak bisa lihat wajah Ibu dan Yamada?!” tanya Mirai. Nadanya mulai sedikit cemas.

“Maafkan Ibu, Nak. Kamu tidak bisa melihat lagi akibat kecelakaan itu... Bahkan kedua kakimu pun juga tak bisa berfungsi lagi. Kata Dokter, kakimu mengalami kelumpuhan permanen...” Kini ibu Mirai tak bisa lagi mengendalikan dirinya agar tetap tegar. Tangisnya semakin menyayat perasaan Yamada yang berada di sampingnya.

“Tidak!! Ibu bohong! Tidak mungkin!!” Mirai berusaha menggerak-gerakkan kedua kakinya yang seakan membatu tersebut. Hati gadis itu benar-benar hancur. Namun tiba-tiba ia seakan ingat sesuatu...

“Yuto!! Yuto di mana, Bu?! Apa dia baik-baik saja?! Jawab, Bu!! Dia tidak apa-apa, 'kan?!” kali ini Mirai semakin kalap. Dan ibunya tak berkata sepatah kata pun, malah menangis semakin jadi.

“Yama-chan, tolong jawab aku! Yuto di mana?! Dia baik-baik saja, 'kan?!” Kali ini giliran Yamada yang menjadi sasaran pertanyaannya.

Tak sanggup melihat penderitaan sahabatnya, Yamada segera memeluk Mirai. Erat. Erat sekali... Sampai ia bisa merasakan hangatnya airmata Mirai yang meresap di bajunya.

“Dia tak tertolong. Dia telah pergi selama-lamanya, Mirai-chan. Kamu harus merelakannya...” bisik pemuda itu pada sahabatnya yang begitu syok.

“Tidak!! Tidak mungkin!! Kenapa aku mesti hidup?!! Kenapa aku yang mesti hidup dalam keadaan begini?!! Kenapa Tuhan tak mengambil nyawaku saja??!" Gadis itu hampir tak bertenaga lagi memeluk sahabat kecilnya itu. Ia begitu tak percaya dalam waktu singkat kehidupannya telah berubah menjadi setragis itu.

***


Gadis berkursi roda di taman rumah sakit itu terlihat sedang terdiam memikirkan sesuatu. Sudah hampir sebulan ini, sahabat kecilnya, Yamada Ryosuke tak pernah mengunjunginya ke rumah sakit. Padahal ia kangen. Sungguh kangen. Biasanya dengan kedatangan sahabatnya itu, ia pasti selalu bahagia. Yamada selalu berusaha menghiburnya. Walau pada kenyataannya ia belum dapat menerima keadaannya sekarang sepenuhnya.

Ibunya mengatakan mungkin Yamada sedang banyak tugas di kampusnya sehingga tidak sempat menjenguknya belakangan ini. Dan Mirai pun mencoba sependapat dengan sang ibu.

Tak beberapa lama kemudian, dokter menemui Mirai-chan. Membawa kabar gembira untuk sang gadis yang hampir kehilangan senyumnya itu.

“Dokter serius, 'kan? Saya akan dapat melihat lagi??” ujar Mirai masih ragu.

“Benar sekali, Shida-san! Kamu patut bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk melihat dunia kembali...”

***


Apakah sekarang Mirai benar-benar bersyukur pada Tuhan?

Kini ia bukanlah gadis buta lagi. Ia bisa melihat! Namun semuanya tak kunjung membuat perasaannya membaik. Malah kepedihan yang menghujamnya semakin bertubi-tubi.

Ia  menatap surat yang ada di genggamannya dengan tangis yang ditahannya sejak tadi. Kertas itu sudah sepenuhnya basah akibat tetesan airmatanya. Namun itu semua belum cukup menghilangkan kepedihannya yang begitu dalam.

Bergetar. Tangannya bergetar menggenggam kertas itu lebih lama. Hatinya tersayat-sayat. Perih. Segala perasaan merasukinya.


Mirai-chan..
Selamat melihat dunia yang indah lagi, ya...
Aku tahu kamu amat menderita dengan cobaan yang datang bertubi-tubi dalam hidupmu akhir-akhir ini 
Kamu mesti lumpuh dan buta, serta kehilangan orang yang begitu berarti buat kamu 
Nakajima Yuto…
Aku ingin meringankan sedikit penderitaanmu. Sehingga aku memutuskan untuk mendonorkan mataku untukmu
 Karena aku juga tahu kalau hidup aku tidak akan lama lagi
 Aku mengidap kanker otak sudah setahun ini 
Itulah yang menyebabkan wajahku selalu pucat
Aku sengaja merahasiakan hal ini denganmu 
 Karena aku tidak ingin orang yang aku sayangi sedih 

‘Ada waktu ketika Kita ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa
Dan waktu ketika Kita tidak bisa jujur...’

Kau tentunya masih ingatkan, ini beberapa baris puisi yang pernah kubuat 


 Sekarang kamu tidak perlu bertanya-tanya lagi siapa orang yang aku sukai 
Orang itu adalah SHIDA MIRAI 
Aku benar-benar menyukaimu, bahkan sejak kita masih kanak-kanak aku selalu ingin melindungimu...
Tapi aku terlalu bodoh dan tak tahu cara untuk mengungkapkannya...
Dan sekarang aku dapat pergi dengan tenang karena orang yang kusayangi dapat melihat lagi...
Melihat dunia yang begitu indah ini…

Hanya satu pesan terakhirku
 Jangan pernah melupakan aku 
 Meski aku tidak bisa tertawa dan bercanda bersama kamu lagi, namun melalui mataku yang kini menjadi matamu, aku akan menemanimu sepanjang perjalanan hidupmu... 

Kau adalah satu dan hanya satu orang yang Kupilih
Di seluruh dunia ini 

Yamada Ryosuke



--Owari--