Birthday Spring #1 (Hey! Say! JUMP Fanfiction)

Sabtu, 23 April 2016


(Waktu itu, tanggal 7 April 2011 silam, sahabat baikku—Achan—mempersembahkan kado ultah berupa fanfiction manis ini. Kado yang sederhana, tapi sangat berkesan karena dipersembahkan dengan sepenuh hati. Hontou ni arigatou gozaimasu, Achan...)

Here is the fanfiction~
o(^o^)o
A special ffn from achan as birthday gift for vchan~

Title : Birthday Spring
Genre : drama-comedy-romance-friendship
Author : angah Astrini a.k.a achan
Casts : Yamada Ryosuke and Anastasia Ervina
Type  : Chaptered

---
"Ittekimasu~" ujar Vina yang jingkrak-jingkrak mengenakan sepatu sambil berjalan dengan mulut yang penuh roti.

"Kyaaa~! Terlambat~!" jeritnya dalam hati sambil menutup pintu pagar tergesa-gesa.

"Tap! Tap! Tap!" Vina berlari menyusuri lorong sempit menuju sekolahnya yang berjarak setengah kilometer dari rumahnya.

"Ohayou~ Chibi-chan~" seorang anak laki-laki mengendarai sepeda melintasinya.

"Apa?! Chibi-chan???!!!" teriak Vina yang langsung mempercepat langkahnya sehingga ia berhasil mengejar anak laki-laki itu dan dengan perkasa ditariknya boncengan sepeda anak itu.

"Wooooo~!" anak laki-laki itu terkejut.

"Bukkk!!" dan jatuh karena kehilangan keseimbangan.

"Hoi!" teriak anak laki-laki itu kesal.

"Iya, aku sudah memaafkanmu. Sekarang cepat jalan. Kita bisa terlambat," ujar Vina yang entah kapan sudah duduk di boncengan sepeda anak laki-laki itu.

"He??? Seharusnya aku yang berkata seperti itu! Bukannya kamu yang menarik boncengan sepedaku, Chibi! Dan sejak kapan kamu duduk di situ???!!!" sungut anak laki-laki itu.

"Jangan panggil aku chibi.!" bentak Vina kesal.

"Hahaha~!" Anak laki-laki itu tertawa sambil mengayuh sepedanya perlahan.

"Huh~! Dasar ikan buntal," ledek Vina sambil menahan tawa.

"Hoi! Sudah kubilang sejak kita lahir panggil aku 'Yama-kun'!" bentak Yama sambil membelokkan sepeda ke kiri dan kanan.

"Hahaha~! 1-1..." Vina malah menertawakannya.

Walaupun bersepeda, tetap saja hari ini mereka terlambat ke sekolah karena pertengkaran tidak penting yang selalu terjadi di antara mereka. Padahal hari ini adalah hari pertama masuk sekolah untuk tahun pelajaran baru.

***

"Kalau tadi pagi kamu tidak memanggilku Chibi-chan, aku pasti tidak akan terlambat dan dihukum membersihkan halaman sekolah seperti ini," omel Vina sambil menenteng tong sampah.

"Kyahaha~!"

"Kenapa tertawa?!" bentak Vina yang siap melempar tong sampah yang sudah diangkatnya tinggi-tinggi.

"Kamu 'kan memang chibi. Apa perlu kuambilkan penggaris untuk mengukur tinggi badanmu?" ledek Yama.

"Lagi pula aku juga dihukum 'kan? Jadi jangan khawatir dihukum sendirian," lanjut Yama sambil memungut sampah.

Vina diam dengan bibir yang maju 1cm. Tubuhnya memang kecil, tapi ia kesal sekali kenapa hanya Yama yang memanggilnya 'Chibi-chan'. Kenapa teman-temannya yang lain tidak memanggilnya seperti itu. Berarti setidaknya tinggi badannya tidak terlalu chibi.

"Ah~ Selesai juga..." Yama meletakkan tong sampahnya dekat Vina.

"He?" Yama kaget melihat tong sampah Vina yang hanya berisi 3 kaleng minuman kosong. Sedangkan tong sampah miliknya penuh oleh sampah.

"Kenapa sampah yang kupungut lebih banyak dari kamu?" teriak Yama sambil menunjuk-nunjuk tidak rela ke arah tong sampahnya dan tong sampah Vina bergantian.

"Kamu 'kan juga dihukum~ ikan buntal~" cibir Vina sambil menggembungkan kedua pipinya dan langsung berlari sambil menenteng tong sampah miliknya.

Sedangkan Yama hanya bisa pasrah sambil membawa tong sampahnya menyusul Vina untuk memberi laporan kepada Rina-sensei kalau mereka sudah menyelesaikan hukuman yang diberikan.

***

"Ayo cepat, Chibi-chan~" seru Yama yang sudah duduk di boncengan sepeda. Dari jauh terlihat Vina berlari-lari ke arahnya.

"Hosh...hosh..." terdengar napas Vina yang ngos-ngosan.

"Ng? Kenapa kamu yang duduk di situ?" tanya Vina dengan dahi berkerut.

"Kenapa? Kamu yang akan memboncengku. Aku kecapean karena memungut sampah lebih banyak dari kamu tadi," jawab Yama.

"Heee???!!! Aku yang membonceng???" seru Vina kaget sambil menunjuk ujung hidungnya.

Yama mengangguk cepat.

"Nee... Chibi-chan mana mungkin membonceng ikan buntal~" rayu Vina dengan puppy eyes-nya.

"Pokoknya kamu yang membonceng!" tegas Yama.

Dengan sangat terpaksa dan sedikit rasa bersalah, akhirnya Vina bersedia membonceng sahabatnya dari kecil yang gendut itu.

Sepeda berjalan dengan sangat lambat. Opening song anime Doraemon mengiringi mereka.

aku ingin begini...♫
aku ingin begitu...♫
ingin ini ingin itu ♫
banyak sekali...♫
semua semua semua...♫
dapat dikabulkan...♫
dapat dikabulkan dengan kantong ajaib...♫
aku ingin terbang bebas di angkasa...♫
hei... baling-baling bambu...♫
aku sayang sekali...♫

"Bukk!!!" mereka terjatuh karena Vina kecapean.

"Ittai~~~" ujar Vina.

"He? Kamu terluka?" tanya Yama panik.

Vina berdiri dengan wajah cemberut.

"Iya~ Aku yang membonceng~" Yama membantu Vina berdiri.

Vina duduk di boncengan membelakangi Yama. Sekarang sepeda berjalan santai. Sinar matahari yang hampir terbenam menembus dari celah kelopak sakura. Angin sore berhembus pelan di jalan yang hanya mereka lalui berdua. Vina dan Yama menyanyikan lagu Dokoka no Sora - Koike Teppei bersama-sama.

Vina menyandar pada punggung Yama dan merentangkan kedua tangannya.

taiyou wa kyou mo yume wo miteru mitai ni
odayaka na haru no sora
[menatap matahari di langit musim semi yang tenang, seperti melihat mimpi hari ini]

kasuka ni kaoru kaze ni sasowareru you ni
maiorita kisetsu ni tsutsumare
[aku diselimuti aroma angin musim yang berlalu]

massugu yukou yo
issho ni yukou yo
kaze ga senaka oshite kureru hazu sa
masshiro na hi ni
egaku dokoka no sora
itsuka yume ni mita ki ga shite nazeka
ureshikute
[Ayo melangkah ke depan]
Ayo melangkah bersama]
Angin akan mendorong punggung kita]
Melukis langit di mana saja di hari yang sempurna ini]
Dengan satu harapan suatu hari nanti aku akan menggapai mimpiku]
Aku bahagia]

yagata kure kakaru nishi no sora nijin de
higashi no sora ni wa ichiban boshi
[Seperti matahari yang segera terbenam di barat dan bintang pertama muncul di langit timur]

attoiu ma ni
toki wa tatsu keredo
ashita mata kono basho de aeru hazu sa
shizumu yuuhi ni
sukoshi taso kurete mita
doushite kureru sora wo miru to kokoro
setsunai no
[Sangat cepat waktu berlalu, tapi
akankah kita bisa bertemu lagi di sini besok?]
[Matahari terbenam berubah sedikit menguning]
[Mengapa langit malam di hatiku sangat menyakitkan untuk dilihat?]

massugu yukou yo
issho ni yukou yo
kaze ga senaka oshite kureru hazu sa
ashita mata kitto
egaku dokoka no sora
donna iro mo kasanerareru sonna
ichi nichi wo
[Ayo melangkah ke depan]
[Ayo melangkah bersama]
[Angin akan mendorong punggung kita]
[Pastinya besok akan melukis langit di mana saja lagi]
[Semua warna akan menyatu setiap hari]

"Yama-kun..." ujar Vina.

"Hm?"

"Besok adalah hari ulang tahun kita," ujar Vina lagi sambil tersenyum. Yama juga tersenyum mendengarnya. Sepeda mereka terus berlalu santai di jalan yang di kiri-kanannya berjejer pohon sakura yang sedang berbunga.

-part 1 ends-




Dialog Sastra Kalbar 2015

Senin, 30 November 2015


Antusiasme tergambar jelas di wajah para penggiat sastra Kalimantan Barat pada hari itu, Jumat (27/11). Berkumpulnya para pecinta sastra tersebut di Hotel Merpati Pontianak dalam rangka Dialog Sastra Kalbar. Dialog ini diadakan untuk menghidupkan kembali semangat menulis para sastrawan Kalbar. Selain itu, kegiatan tersebut juga untuk merayakan terbitnya buku ‘Bayang-bayang Tembawang’, yang mana merupakan antologi puisi 44 penulis dari 13 kabupaten di Kalimantan Barat (minus Kabupaten Melawi). Kegiatan yang dilangsungkan dari pukul 07.30-16.00 WIB ini juga menghadirkan pemateri yang luar biasa, di antaranya cerpenis kondang Hanna Fransisca dan aktor merangkap penulis skenario ternama yakni Jeremias Nyangoen.


Buku Bayang-bayang Tembawang; Antologi Puisi Penulis Kalimantan Barat


Budi Susanto yang tengah membacakan puisi karyanya berjudul 'Dunie-dunie' (termuat dalam 'Bayang-bayang Tembawang')


Menurut Hanna, sastra kurang berkembang di Kalbar karena kurangnya wadah, khususnya di bidang pendidikan. Maka, untuk itu, diperlukan bantuan dari berbagai pihak, khususnya yang bergelut dalam bidang pendidikan demi menghidupkan sastra di Kalimantan Barat. Perempuan kelahiran Singkawang itu juga menyarankan agar para penulis Kalbar sebaiknya menulis tentang kearifan lokal dan hal-hal yang belum banyak ditulis dari Kalimantan Barat sehingga orang luar menjadi tertarik. Selain itu, perempuan yang pernah masuk sebagai 5 nominator penerima Khatulistiwa Literary Award 2010 untuk kategori puisi lewat buku kumpulan puisi ‘Konde Penyair Han’ ini mengimbau agar para sastrawan jangan terseret arus dengan menggunakan bahasa yang tidak mendidik, memaki, dan memasukkan unsur-unsur kemarahan dalam tulisan.

Dari kiri ke kanan; aku dan Ci Hanna


Hanna yang cerpen, puisi, serta esainya tersebar di berbagai media massa ternama Indonesia seperti Harian Kompas, Koran Tempo, Horison, dan Jurnal Sajak sangat menyayangkan kenyataan bahwa banyak penulis Kalbar yang tidak memunculkan diri. “Penulis tidak akan dikenal kalau tidak mengenalkan diri,” ucapnya. “Kita mencintai dunia menulis. Jadi, walau tidak mendapat tempat, tulis saja. Percayalah, suatu saat, kita pasti mendapat tempat,” pungkas perempuan itu memberi semangat di pengujung waktunya menyampaikan materi.

Dari kiri ke kanan; Kiki, Tunjung dan aku (Tim Kabupaten Sintang)


Pradono, selaku aktivis seni dan budaya Kalbar yang menjadi pemateri hari itu mengharapkan agar sastrawan di Kalbar dapat bersatu. Sementara Musfeptial Musa selaku panitia menilai bahwa sastra anak kian bermasalah akhir-akhir ini. Diperlukan wadah sekaligus upaya untuk mendorong anak-anak menyenangi dunia tulis dan sastra.


Para pemateri sesi I


Berbeda dengan beberapa pemateri sebelumnya, Jeremias Nyangoen yang merupakan penulis skenario film Denias, Senandung di Atas Awan (2006), Serdadu Kumbang (2011), dan Di Timur Matahari (2012) ini sangat menyayangkan masih sedikit penulis skenario khususnya di daerah Kalbar. Menurutnya, hubungan antara skenario film dengan kesusastraan sesungguhnya sangat erat. Namun, pengerjaan skenario film jauh lebih kompleks apabila dibandingkan dengan puisi ataupun cerpen yang cenderung lebih sederhana dan personal dalam penciptaannya. “Mulailah menulis dan tulis apa yang kau pikirkan,” ucap lelaki kelahiran Pontianak yang juga terkenal lewat perannya sebagai Sumanto dalam film Kanibal-Sumanto (2004) itu memberi kiat penting dalam menulis skenario film.

Berfoto di antara para senior yang bergelut di bidang seni dan sastra


Holil Azmi selaku produser film televisi (FTV) TVRI Kalbar pun sependapat dengan Jeremias Nyangoen. Menurutnya, antara novel dan film banyak terdapat kesamaan. Akan tetapi, menurut lelaki yang akrab disapa Papi Ollin itu, imajinasi lebih luas ketika kita membaca daripada menonton. Sebab, jika menonton, kita digiring untuk mengetahui cerita.

Pembacaan cerpen oleh Pay Jarot Sujarwo

Barisan para peserta maupun pemateri Dialog Sastra Kalbar 2015


Oleh karena kegiatan Dialog Sastra Kalbar perdana tersebut dianggap cukup sukses, maka diputuskan bahwa kegiatan yang sama akan diadakan setiap tahun. Hal ini guna menghidupkan semangat dan produktivitas para penggiat sastra di wilayah Kalbar. 

Semoga kelak semakin banyak sastrawan Kalbar yang karya-karyanya dikenal hingga ke seluruh penjuru Indonesia. Salam budaya!





 

Musik Hujan

Selasa, 17 November 2015


Di luar, hujan seperti musik
Tik, tik, tik...
Membasahi hati
Membasuh luka

Tik, tik, tik...
Iramanya pasti
Mengajak ingatan menari
Tentang kepedihan yang tak mau dibagi









Kesepian

Kamis, 05 November 2015


Onggokan sepi merayap rupa
Kerikil hampa penuhi hati
Terhempas kekosongan yang menggunung

Alunan nada ceria hentikan denyut jantung
Variasi warna menebar tak terhiraukan

Ingin raib, ingin musnah, ingin tiada
Agar tak kumiliki hampanya jiwa

Menara sendu berdiri anggun
Ejaan sepi pun tak lagi terbaca
Tidur saja senang itu!
Agar kelabu erat menyatu dengan kesunyian...

Lingkaran tawa mengurung hampa
Opini tentang bahagia terhanyut sudah

Venus tersenyum dalam kemenangan
Akan kekosongan yang terpantul di seraut wajah
Yakini aku untuk ke sekian kali;  aku telah kalah

Episode demi episode terlewati dengan desahan murung
Niat mengukir senyum raib sudah
Irama kesepian hanya tersuarakan di kisi-kisi hati yang mengkristal






Musim Hujan

Rabu, 04 November 2015


Aku suka musim hujan
Sebab wajah langit sendu
Serupa senyumku yang beku

Aku cinta musim hujan
Sebab ia menghadirkan kenangan
Bagi hati yang kesepian



Hal-hal yang Menggerakkan Kehidupanku

Rabu, 14 Oktober 2015

Mereka bilang hidupku sempurna. Tak ada kesulitan. Tak ada nestapa. Lantas, kalau begitu, apa alasan lelaki yang mengaku dapat melihat masa lalu itu membasahi korneanya kala menyelami sepasang manik mataku?

Itu tak lain karena ia menemukan luka yang coba kusembunyikan. Luka yang kupikir telah kutinggalkan di masa lalu, namun ternyata tidak. 

Sejauh ini, aku tak mau membagi luka itu kepada siapa pun. Hanya aku yang hidup bersama luka itu. Dan, begitulah, luka itu sukses menggiringku dalam kehancuran dan tersedot dalam lubang hitam yang tak berujung.

Aku berusaha semampuku. Membuat orang-orang terdekat percaya, bahwa aku baik-baik saja. Melahirkan senyum palsu. Membangun dinding di luar diriku yang seolah-olah tampak begitu kokoh. Namun, sebenarnya, setiap detik di dalam diriku tengah mengalami kehancuran.

Mereka bilang, “Hidupmu enak. Kau beruntung bisa mendapatkan itu. Kau sungguh diberkati bisa begini.” Sayangnya, satu hal yang mereka tak pernah tahu; hidupku jauh dari kata ‘beruntung’. Semua yang kuperoleh, adalah murni kerja kerasku. 

Malam-malam yang kuhabiskan untuk berjuang, lingkaran hitam di bawah mata yang kian melebar lantaran waktu tidur yang kian singkat, buku-buku yang susah payah kudapati dan kubaca baris per baris, orang-orang yang kutemui untuk bertanya ini dan itu demi menambah ilmu. Dan, sekali lagi kau bilang dengan enteng bahwa apa yang kudapatkan adalah keberuntunganku?

Di saat kau terbuai dalam mimpi indah, aku masih terjaga di depan layar laptop, dan di saat kau telah makan entah untuk ke berapa kali, aku bahkan tak punya waktu untuk sekadar mencuci muka, apalagi memikirkan mengisi perut. Lantas, masihkah kau ingin memejamkan mata atas segala jerih payahku yang jelas-jelas jauh lebih besar dibandingkanmu?

Sekali lagi, aku tidak seberuntung yang kau pikirkan.

Barangkali, kalau kuceritakan apa yang dilihat oleh lelaki yang mengaku bisa melihat masa lalu itu, kau pasti akan tercengang. Mungkin kau akan berujar bahwa hidupku tak ada beda dengan telenovela. Begitu kelabu, begitu sendu. Tapi, mari kita lupakan perihal masa lalu yang tak pernah ingin kubahas itu. Bagaimana kalau kita membahas tentang topik lain, seperti uang, misalnya...

Ya, uang. Uang yang mungkin kau dan kebanyakan orang agung-agungkan itu. Tapi, maaf saja... uang bukanlah sesuatu yang menggerakkanku. Tentu saja dengan uang aku bisa membeli banyak buku keren, pakaian model terbaru, atau barangkali seperangkat perlengkapan make up merk ternama? Namun, sayangnya, dibandingkan uang, masih banyak hal lain yang jauh lebih membuatku tergerak. 

Dan, hal teratas yang paling memengaruhiku sejauh ini adalah ketulusan. Ya, ya, tentu saja uang tak akan dapat membeli ketulusan, tapi dengan ketulusan manusia dapat menjamah hati siapa pun, bukan?

Begitulah, aku suka, atau lebih tepatnya terobsesi dengan konsep hubungan antar manusia. Sayangnya, aku tak terlalu suka terlibat langsung dalam interaksi antar manusia. Oh, bukankah aku membuatmu bingung sekarang? Maafkan aku. Aku pun seringkali bingung dengan diriku sendiri.

Jadi, kapan-kapan, kalau kau kembali ingin memamerkan uangmu, sebaiknya carilah seseorang yang lain selain aku. Sebab, kalau kau membahas hal itu denganku, kau hanya akan membuang-buang waktu.

Satu-satunya yang membuatku tertarik adalah ketulusan dan kebaikan seseorang, bukan orang yang suka mengagungkan dirinya sendiri dan meremehkan kerja keras dan usaha orang lain. Kuharap kau mengingat itu.





Perihal Aku

Sabtu, 03 Oktober 2015


Kadang aku ingin jadi seseorang

Yang dengan mudah menjabarkan perasaan

Mengucapkan, “Aku menyayangimu” berkali-kali

Seperti hujan yang tumpah



Namun, aku hanyalah seseorang

Yang memilih menelan semua rasa

Hanya untukku...

Hanya untukku...



Tak pernah ada ruang bagi yang lain

Untuk melongok hatiku

Untuk paham hatiku

Kalimat  “Aku menyayangimu” yang nyaris keluar

Kutelan sekali lagi



Kadang aku benci menjadi seperti ini

Namun yang kutahu aku mesti begini



Aku adalah aku...

Seseorang yang tak bisa menjabarkan perasaannya sebagaimana hujan yang tumpah...