How Can I Forget You? (Book Trailer)



Hai, buat semua pecinta dan penikmat buku tanah air, yuk buruan intip book trailer dari novel perdanaku yang terbit Desember 2013 berjudul 'How Can I Forget You? di bawah ini ya :)

Hihi, telat banget ya bikin book trailernya. (^.^)v






Berikut sinopsis dari novel How Can I Forget You? :


Penulis: Anastasia Ervina

Penyunting: Fatimah Azzahrah

    
Penerbit: Media Pressindo

    
Ukuran: 13 x 19 cm

    
Tebal: 184 halaman

    

ISBN: 978-979-911-355-9


Sinopsis:

Mungkin tidak ada peluh yang tercipta sewaktu kita berkelana dalam labirin perasaan kita masing-masing. Namun sejujurnya, ini lebih melelahkan daripada melipat secarik kertas dan menyulapnya menjadi seribu orizuru. Kita berputar-putar dan berkali-kali bimbang untuk menemukan siapa yang terbaik.

Tapi percayalah, labirin itu hanya memiliki satu pintu keluar, satu tujuan, dan satu cinta…


****

Yuki sudah terlanjur memutuskan pacarnya, Advent, demi seorang lelaki charming bernama Carrol. Sayangnya, Carrol tega menyia-nyiakan cinta gadis mungil itu. Ia harus dipusingkan lagi oleh kedatangan lelaki bernama Yeri, sepupu sahabatnya, dalam hidupnya. Ia sampai tidak mengerti siapa yang benar-benar dicintainya. Mengapa Tuhan harus menciptakan perasaan manusia sedemikian rumitnya?





Nah, ada yang udah penasaran? Daripada penasaran, yuk buruan dapatkan segera novel 'How Can I Forget You?' ya :)

Aku (Bukan) Orang Baik

"Kamilah yang paling benar. Kamilah yang paling baik. Kamilah yang paling suci..."
Entah ke berapa kali kalimat-kalimat penuh nada percaya diri yang menjulang mengangkasa itu mampir ke telingaku dan meninggalkan jejak nyeri di sanubari. Atau kata-kata yang membuat hati perih seperti, maaf--kafir--, yang entah kenapa berguguran bagaikan daun di berbagai media sosial. Ah, kenapa daun-daun itu mesti berguguran di beranda facebook-ku? Kenapa pula mesti mengotori timeline twitter-ku?

Penyakit terparah manusia... Merasa dirinya paling benar, merasa dirinya paling baik, paling suci...

Ah, apakah cerminmu mulai kau anggurkan? Bagaimana bisa?

Tapi kenapa kudapati kau dan mereka menghujani makian pada orang-orang yang kalian sangka hina dan berdosa itu? Kenapa kau dan mereka mesti menjatuhkan hanya demi terlihat paling kokoh?

Kau dan mereka...membuatku kecewa pada manusia.

Ini kuhadiahi cermin untukmu dan mereka. Kuharap kali ini kau lebih sibuk pada refleksimu di cermin daripada kumpulan kafir yang kau risaukan itu.

Kuharap cermin itu dapat membantumu mengusap noda gelap yang hendak menyatu pada kulitmu.

Oh, sudah berapa lama kau tak bercermin? Sesibuk apakah kau selama ini? Sampai-sampai noda yang ada padamu hendak menyusup masuk dan menyatu di tubuh sucimu.

Ah, aku tahu! Barangkali tebakanku ini benar adanya...

Pasti kau sibuk sekali ya mengomentari dan mencemooh orang-orang yang penuh noda dan bau busuk di sekitarmu?

Hmm, aku jadi teringat kata-katamu yang kau lafalkan dengan keyakinan penuh di suatu senja. "Aku yakin akan mendapatkan orang baik. Sebab orang baik akan berjodoh dengan orang baik, begitu pun sebaliknya."

Itu adalah kata-katamu yang paling ingin kurekam dalam benakku... Perbincangan hari itu, tentang pasangan hidup... Ah, ya, baiklah. Aku mengaku saja. Aku memang mencuri dengar perbincanganmu dan kelompokmu. Baiklah, aku sudah berdosa. Aku memang bukan orang baik...

Orang baik, ya? Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan 'baik' itu? Kenapa kamu dengan entengnya menyatakan dirimu baik? Apa indikator seseorang di anggap baik? Apakah penilaian 'baik' versimu adalah yang paling valid dibandingkan dia, dia, dan mereka?

Nah, sekarang bagaimana denganku? Apakah aku sudah berada pada kategori 'baik'?

Oh, ayolah. Aku sungguh ingin jadi orang baik agar punya pasangan orang baik pula...

Ha ha ha...
Maaf, aku terkadang memang hobi bercanda. Aku sama sekali tak pernah memusingkan apakah aku ini orang baik ataukah sebaliknya. Aku hanya selalu seperti ini. Menjadi diriku sendiri...

Hari ini aku menjadi orang yang sangat baik sekali. Tapi barangkali besok aku lupa untuk menjadi baik.

Lagi pula aku tak terlalu bisa mengkotakkan manusia pada hitam atau pun putih.

Kau dan aku mungkin lebih tepat berada pada abu-abu. Bukan hitam, bukan pula putih.

Kupikir ini seperti teori Yin dan Yang. Di dalam hitam ada putih. Di dalam putih ada hitam.

Dan itu pula yang berlaku pada baik dan buruk.

Nah, sekarang, apakah aku baik?

Ah, lupakan saja.
Aku tak benar-benar peduli.
Bukankah baik dan buruk adalah akumulasi opini dari manusia?

Aku hanya tak ingin melenakan diriku dengan menganggap aku orang yang paling baik, paling benar, paling suci...

Ah, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.

Kalau kamu? Apakah kamu orang baik? 

Jangan Nilai Sesuatu dari Sampulnya (Bagaimana Perjuangan Seorang Introvert)

Kebanyakan orang terlampau sering menilai seseorang dari bungkus luarnya. Mengecap seseorang sombong, menandai orang yang lain ramah dan baik hati, serta berbagai bentuk penilaian lainnya terhadap orang yang mereka kenal sambil lalu.

Pernahkah kalian berpikir bahwa barangkali semua yang kita perhatikan pada orang-orang asing yang kita temui itu adalah semacam ‘topeng’ untuk menutupi diri mereka yang sejatinya? Bagaimana jika mereka sebenarnya tidak sesuai dengan sampul yang mereka tunjukkan?

Barangkali kita sering merasa kesal pada orang yang terlihat sombong dan irit kata. Kita akan mengecap mereka dengan mudah sebagai si anti sosial, sebab mereka sama sekali tidak ramah dan terkesan sibuk dengan diri mereka sendiri, alias egois. Mereka kadang tak perlu dan tak ingin membuka obrolan basa-basi dengan kita yang baru dikenal mereka sepintas lalu. Namun ada kata-kata dari William James yang perlu kita perhatikan yakni ‘Seorang manusia memiliki diri sosial sebayak keberadaan kelompok orang yang berbeda yang pendapatnya dia pedulikan. Dia biasanya menunjukkan sisi lain yang berbeda dari dirinya bagi tiap-tiap kelompok yang berbeda ini’.

Nah, jadi mungkin saja si anti sosial ini ternyata dikenal sebagai orang yang ramah dan suka menolong temannya yang kesulitan, bahkan mungkin ada kenalannya yang mengatakan bahwa si anti sosial itu adalah tipe humoris dan menyenangkan. Itu mungkin saja.

Terkadang memang manusia menunjukkan sifat-sifat tertentunya hanya kepada sebagian orang. Dan sifat kita kepada orang yang satu dengan yang lain tentu tidaklah sama persis. Terkadang kita menyesuaikan dengan siapa kita berinteraksi.

Ya, jadi kita memang dapat merentangkan kepribadian kita, tapi hanya sampai titik tertentu. Seperti teori karet gelang kepribadian yang dipaparkan oleh Susan Cain, kita ini elastis dan bisa merentangkan diri kita sendiri,tetapi dengan keterbatasan.

Mungkin saja si anti sosial (introvert) dapat menjadi sosok yang supel, ramah, dan humoris, namun tentu saja ia tak bisa melakukan itu terus-menerus, karena itu bukan sifat alamiahnya. Sekuat apa pun ia mencoba mengubah dirinya, ia tak akan bisa melepaskan diri dari warisan genetiknya. Jadi si anti sosial hanya bisa menyamar menjadi sosok ekstrovert, tapi bukan berarti serta-merta ia berubah menjadi sosok ekstrovert.

Tentu saja tidak mudah menyamar atau melakoni sesuatu yang bukan diri kita, seperti itulah yang mungkin kerap dirasakan para introvert. Tapi terkadang demi dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya, mereka mau tidak mau mesti menyamar. Namun dalam melakukan penyamaran mereka, mereka harus mempunyai semacam ‘relung penyembuhan’.

Relung penyembuhan yang dimaksud di sini adalah waktu bagi diri introvert itu sendiri setelah menghabiskan energi mereka untuk terus berinteraksi dengan orang banyak. Sangat berbahaya apabila seorang introvert tidak memiliki relung penyembuhan bagi dirinya. Kenapa saya dapat mengatakan seperti itu? Karena saya pernah mengalaminya sendiri. Tanpa adanya relung penyembuhan, hal itu akan berdampak pada kesehatan fisik dan psikis si introvert itu sendiri. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Profesor Little yang mengatakan bahwa ‘Berperilaku di luar karakter dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf autonomic, yang dapat, pada gilirannya, membahayakan fungsi imunitas’.

Nah, semoga setelah ini kita tidak gampang menilai orang dari sampulnya saja. Karena para introvert terkadang melakukan perjuangan yang berat, melawan atau berharap dapat mematikan karakternya hanya demi di terima dunia.



Kutipan Novel 'How Can I Forget You?'

Berikut adalah beberapa kutipan yang dapat kamu temukan di dalam novel karyaku berjudul 'How Can I Forget You?'





















 
 







Nah, bagaimana? :)

Ayo, buruan beli novel 'How Can I Forget You?', ya ^_^

Novel How can I Forget You?

 Hai, untuk kamu para penggemar novel Indonesia, yuk buruan beli dan baca novel 'How can I Forget You?' yang merupakan karya perdanaku terbitan Media Pressindo. Buat para pecinta Jepang, khususnya para fans penyanyi cantik YUI (Yui Yoshioka) sangat disarankan untuk membeli buku ini. Karena kalian akan menemukan beberapa lirik lagu YUI di dalam novel ini.

Nah, selain penggemar Jepang, penggemar Kota Paris, Perancis, juga wajib baca buku ini. Sebab di dalam novel ini kalian akan diajak berjalan-jalan ke kota romantis itu, lho! ;)



Ini cover dari novel 'How can I Forget You?' agar kalian mudah untuk menemukannya di toko buku.





Dan di atas adalah sinopsis dari novel 'How can I Forget You?'

Nah, bagaimana? Ayo, buruan beli bukunya. Happy reading and enjoy!
Buat yang udah beli, jangan lupa kasih review dan beri rating novelnya  di sini   ya. ;)





HUJAN

Untuk beberapa alasan aku membenci hujan...
Karena hujan memoles malapetaka di hatiku...
Sakit
Rasanya seperti hujan batu
Butirannya jatuh keras meninggalkan bolongan di hati
Nganganya abadi
Biar waktu yang dilewati sudah mati
Tapi kadang aku lupa kalau aku benci hujan
Ketika hujan menyembunyikan tangisanku
Ketika hujan memelukku di saat semua orang pergi
Hanya hujan yang mau mengerti
Kesedihanku
Rasa sakitku
Kesepianku
Tapi kini ketika hujan berkhianat... aku tak punya satu pun lagi
Semua sirna bersama hujan, tadi...




DREAMS

Author: Wintervina
Genre : Friendship
Cast   : Kei Inoo, Yamada Ryosuke, and Nakajima Yuto
Type  : Oneshot

 --------------------------------------------------------------------------
Guyuran hujan dan angin kencang tak menghentikan lari pemuda bertubuh pendek itu. Ia seakan berlari dari kenyataan yang selalu menghimpitnya. Kenyataan yang menghadirkan sebuah kata ‘iri’ di hatinya.

Seketika larinya terhenti dan matanya yang sembab menangkap sosok eksistensi yang tengah duduk di tempat duduk favoritnya--di taman--di bawah pohon sakura yang berdahan rindang itu.

Ragu, pemuda itu berjalan menuju kursi favoritnya di taman itu. Perlahan ia duduk di pinggiran lain kursi itu, khawatir jika gerakannya mengusik pemuda yang duduk di sebelahnya.

Hening. Keadaan sungguh hening.  Anak lelaki itu hanya terus mendengar debaran jantungnya saja yang sejak tadi masih berdebar hebat. Dadanya masih terasa sesak. Lantaran pertengkaran konyol itu. Pertengkaran yang seharusnya tak akan terjadi kalau saja ia bukanlah ia yang sekarang.

Ia menatap langit hitam yang masih setia mengguyurnya dengan rintikan hujan. Hujan yang setiap rintiknya selalu disambut riang dan sukacita baginya dan sahabatnya di masa kecilnya dulu. Namun mungkin hal tersebut tak berlaku lagi saat ini. Ia hanya menatap langit hitam yang terus menangis itu dengan senyum kecutnya.

Sahabat?? Entah kenapa, ia belakangan ini begitu membenci kata itu. Pemuda bertubuh pendek itu menghela napas sebelum kemudian memungut satu helai daun sakura yang baru saja jatuh di kursi di mana ia duduk. Ia memutar-mutar helaian daun sakura itu dengan kedua telapak tangannya. Ia tak menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu menarik perhatian pemuda yang sejak tadi duduk di sebelahnya.

“Kau sedang ada masalah?” tanya pemuda yang sudah lebih dulu berada di taman tersebut.

“Heh?” pemuda bertubuh pendek itu menoleh seketika pada pemuda di sampingnya.

“Kau-sedang-ada-masalah??” pemuda yang duduk di sebelahnya tersebut mengulangi pertannyaannya dengan memberi penekanan pada setiap kata yang diucapkannya.

Anak bertubuh pendek itu menatap seksama wajah lawan bicaranya. Ia melihat ada bias keramahan di wajah pemuda tersebut. Entah kenapa, hasrat ingin menceritakan permasalahannya pada pemuda yang baru dikenalinya itu begitu kuat.

“Sebenarnya ini bukanlah masalah yang cukup serius. Hanya petengkaran kecil dengan sahabatku,”ujar pemuda itu menundukkan wajahnya sambil jari-jarinya tetap memutar-mutar helaian daun sakura.

“Jika hanya masalah kecil, kenapa kau memasang tampang semuram itu? Dengarlah, sebuah persahabatan ada kalanya diuji. Jika kau dan sahabatmu itu bisa melewati ujian tersebut, maka ke depannya persahabatan kalian pasti akan jauh lebih erat lagi dibandingkan sebelumnya.”

Pemuda bertubuh pendek itu mulai merobek-robek helaian daun sakura di tangannya. Kembali ia menyesali menjadi dirinya yang tak berguna. Andai saja ia tak terlahir dengan otak yang bodoh, andai saja ia cukup pintar matematika, dan andai saja ia selalu juara kelas. Namun semua itu hanya akan senantiasa menjadi pengandaian baginya yang pada kehidupan nyata, 'semua itu’, semua yang tidak ia punyai hanya dimiliki oleh sahabat karibnya; Nakajima Yuto.

Di sekolahnya, Yuto selalu disanjung oleh para gurunya serta diidolakan oleh banyak gadis. Sedangkan apabila ia di rumah, orang tuanya selalu membanding-bandingkan prestasi Yuto yang cemerlang dengan dirinya yang hanyalah biasa dalam segala hal. Jadi satu hal yang dapat disimpulkan dari semua itu, adalah ia IRI. Dengan segenap kesadarannya, dengan jelas ia katakan ia IRI pada sahabatnya, Nakajima Yuto! Dan ia benci mengingat bahwa dari segi apa pun, Yuto selalu mengalahkannya. Selalu. Dan ia jenuh hanya selalu menjadi bayang-bayang dari ketenaran Yuto. Walau hanya sekali, ia ingin juga merasakan berada di posisi Yuto atau bahkan lebih. Namun ia sadar dengan kemampuan yang ia miliki saat ini, semua serasa hanyalah impian yang terlalu mewah baginya.

“Aku paling tidak suka pelajaran Matematika. Karena aku paling lemah dalam hal berhitung. Jadi tidak salah kan aku meminta tolong padanya agar membagikan jawaban ulangannya tadi padaku?? Tapi yang membuatku kesal setengah mati, ia sengaja tak memberikan jawabannya padaku. Jadi sudah bisa ditebak dengan jelas, aku tak bisa mengerjakan 1 soal pun,” tutur pemuda bertubuh pendek itu yang entah kenapa bercerita dengan lancar pada pemuda di sampingnya tentang perkara yang sedang dialaminya.

“Aku juga akan melakukan hal yang sama dengan sahabatmu jika aku berada di posisinya.”

Pemuda bertubuh pendek itu menatap tajam kearah pemuda di sampingnya.

“Kau tahu, dia melakukan itu karena dia begitu menyayangimu,” lanjut pemuda itu lagi.

“Bukan! Dia bukannya sayang, tapi pelit!”  pemuda pendek itu berkata dengan nada tinggi.

“Hei, kau tahu dia pasti berharap agar kau lebih serius belajar dan tak terus-terusan mengandalkan dan mengharapkan bantuannya.”

“Tapi… masalahnya aku tak sepintar dia. Aku ini bodoh, aku tidak berguna, aku-"

“Cukup! Aku paling tidak suka orang yang hanya bisa mengasihani dirinya sendiri tanpa berusaha untuk memperbaiki kelemahannya.”

“…”
Pemuda bertubuh pendek itu meremuk-remuk helaian daun sakura di genggamannya hingga tak berbentuk lagi.

“Kau tahu, aku paling lemah pelajaran bahasa Inggris. Namun itu tidak membuatku untuk pasrah begitu saja. Aku dengan giat belajar bahasa Inggris setiap harinya. Berharap kelak aku akan fasih berbahasa Inggris."

“…”
Pemuda bertubuh pendek itu masih terdiam.

“Kau lihat rintik-rintik hujan ini? Mimpiku adalah sebanyak rintik hujan ini. Beberapa telah terwujud, seperti halnya mimpi kecilku dulu ingin masuk Universitas Meiji. Dan aku masih terus berharap dan berusaha agar mimpi lainnya juga akan segera terwujud,” ujar pemuda bertubuh lebih tinggi itu tersenyum menatap langit yang semakin hitam.

Sugee! Kau kuliah di Universitas Meiji?!” Pemuda bertubuh pendek itu menatap kagum pada lawan bicaranya itu.

“Kau juga dapat melakukan itu jika kau percaya pada kekuatanmu. So, don’t give up!” ujar pemuda tersebut berdiri dan bersiap-siap untuk meninggalkan taman itu.

Chotto matte!

Pemuda tersebut menghentikan langkahnya dan menatap tak mengerti pada anak lelaki yang tubuhnya lebih rendah dibandingkannya itu.

“Kita telah banyak bercakap-cakap sejak tadi namun belum mengenal satu sama lain. Aku Yamada Ryosuke. Kau bisa memanggilku Yama-chan.”  Pemuda bertubuh pendek itu mengulurkan tangannya diiringi senyum tulus dari bibirnya.

“Kei Inoo. Kau boleh memanggilku Inoo-chan. Senang berkenalan denganmu,Yama-chan,” ujarnya menjabat tangan pemuda di hadapannya.

~**~

Enam bulan telah berlalu sejak pertemuan Yamada dengan pemuda dari Universitas Meiji bernama Kei Inoo tersebut.

Hampir setiap sore Yamada duduk di bangku favoritnya di taman tempat ia pertama kalinya bertemu dengan Kei Inoo. Orang yang secara tak langsung telah mengubah dirinya menjadi seperti sekarang.

Namun kali ini ia tak sendiri mendatangi taman itu. Ia ditemani oleh sahabatnya. Siapa lagi, kalau bukan Nakajima Yuto. Ya, kini ia merasa tak salah lagi kata ‘sahabat’ itu diperuntukkan bagi seorang Nakajima Yuto. Karena seperti yang pernah Kei Inoo katakan padanya, bahwa sesungguhnya Yuto menyayanginya melebihi apapun. Selama enam bulan ini Yuto selalu mendukung Yamada hingga ia menemukan dirinya yang sekarang.

Kini semua orang mengenal Yamada Ryosuke bukan sebagai tukang tidur di kelas, bukan sebagai orang yang selalu membuntuti Nakajima Yuto,dan bukan sebagai orang yang selalu mendapat nilai terendah dalam pelajaran matematika. Sekarang jika mendengar nama Yamada Ryosuke, yang orang bayangkan adalah sosok pemuda dengan sederetan prestasi di sekolah baik di bidang akademik maupun non akademik.

Sekali lagi ia harus berterima kasih pada Kei Inoo. Kalau bukan karena ia yang meyakininya, mungkin semua mimpi kecil Yamada tak akan pernah bisa menjadi kenyataan seperti sekarang.

“Kau masih menunggunya?” tanya Yuto memecah keheningan di antara mereka sembari menatap wajah sahabatnya yang tengah asyik memutar-mutar helaian daun sakura yang baru saja dipungutnya dari tanah di dekat kursi yang ia duduki.

Yamada menoleh dan tersenyum ke arah sahabatnya.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya,” ujar Yamada dengan tersenyum.

Kedua sahabat itu terus berada di taman sampai langit memuntahkan rintikan hujan yang dari sejak mereka masih kecil hingga remaja seperti sekarang sangat mereka sukai itu. Keduanya tersenyum. Merasakan dan menyambut tiap rintik hujan seperti mimpi-mimpi yang selalu mengiringi kehidupan mereka.

Sementara di tempat lain, Kei Inoo, pemuda yang senantiasa ditunggu dengan setia oleh Yamada setiap harinya di taman itu, pemuda yang diselimuti mimpi-mimpi dan harapan itu sedang meregang nyawa. Leukemia yang dideritanya harus menghentikan perjalanannya mengejar mimpi-mimpinya di dunia. Namun ketika rintik-rintik hujan itu semakin membasahi seluruh permukaan tanah, ia tersenyum. Senyum yang penuh rasa bahagia. Bahagia karena melepas segala mimpi-mimpinya seperti langit yang melepaskan rintik-rintik hujan sore itu.

~**~

-Owari-