ONE LOVE



Author : Wintervina
Genre  : Romance
Cast    : Shida Mirai, Yamada Ryosuke (Hey! Say! JUMP), and Nakajima Yuto (Hey! Say! JUMP)
Type   : Oneshot

---------------------------------------------------------------------------------

Alunan musik di ruang tengah keluarga Yamada terus berkumandang mengiringi kedua remaja yang terlihat sedang asyik mengerjakan tugas kuliahnya. Lagu ‘One Love’ milik Arashi. Lagu kesukaan salah seorang di antara mereka.

“Uhh, Yama-chan! Aku telah lelah mengerjakannya!! Sisanya kau saja ya yang mengerjakannya,” rengek gadis manis di samping pemuda berambut kecoklatan yang masih serius menyelesaikan tugasnya. Pemuda yang dipanggil Yama-chan itu tak menjawab perkataan gadis manis di sampingnya. Namun ia memberikan senyumnya yang teramat manis. Begitu tulus dan damai.

Yatta! Yama-chan memang paling baik dan selalu bisa kuandalkan!” sorak gadis berambut hitam sebahu itu dengan senang.

Tak lama kemudian, gadis tersebut telah sibuk sendiri menonton televisi di hadapannya dan melupakan pemuda bernama Yama-chan tersebut yang sedang berkutat menyelesaikan tugas-tugas kuliah mereka yang begitu banyak dan super sulit itu.

“Yama-chan! Yama-chan!! Coba lihat! Itu Nakajima Yuto!! Wuah, dia terlihat tampan sekaliii!!” teriak gadis tersebut dengan mata tak berkedip menatap layar televisi yang menampakkan gambar seorang penyanyi lelaki tampan yang belakangan ini namanya sedang bersinar dan digandrungi hampir seluruh remaja Jepang bahkan Asia itu.

Pemuda bernama Yama-chan tersebut memandang ke arah televisi dengan malas. Dan menghentikan kegiatannya menulis tugas-tugas mereka.

“Mirai-chan. Bukankah setiap hari kau selalu melihat pemuda itu di televisi? Lantas kenapa tiap kali melihatnya selalu saja berteriak histeris seperti itu? Apa kau tak bosan? Aneh...”

“Hanya melihat dari televisi saja tentu tidak cukup, Yama-chan! Aku ingin bertemu langsung dengannya!! Bagaimana aku tidak histeris, dia nyaris sempurna. Keren, tampan, kaya, dan populer…”

“Tapi kan aku juga tidak kalah dari anak lelaki itu,” ujar Yamada memotong perkataan Mirai-chan. “Aku juga keren. Pintar lagi! Si Yuto itu pasti kalah saing denganku.”

"Huuuu~ Sombong! Iya, tahu kok kamu pintar! Tapi sampai kapan pun kamu tidak akan bisa menandingi seorang Nakajima Yuto di mataku dari segi apapun!” ujar gadis bernama Mirai tersebut sambil mencibir ke arah Yamada.

Entah kenapa saat mendengar perkataan gadis tersebut, perasaan Yama menjadi sakit. Padahal bukan sekali ini saja gadis itu berkata seperti itu padanya. Seharusnya kupingnya sudah terbiasa mendengar pujian sang gadis untuk sang idolanya Nakajima Yuto.

Ya, walau pun hanya seorang artis. Walau pun tak kenal secara pribadi. Entahlah. Yamada merasa tak suka tiap kali mendengar sahabat kecilnya itu memuji-muji lelaki di balik layar kaca itu. Nakajima Yuto. Penyanyi yang namanya sekarang tengah bersinar terang.

***


-10 tahun yang lalu-

“Yama-chan, mari kita buat janji!” ujar Mirai kecil pada anak lelaki bernama Yamada Ryosuke.

“Mirai-chan mau aku buat janji apa?” tanya anak lelaki itu dengan polos.

“Ayo janji jadi pasangan pengantinku jika sudah besar nanti!” ujar Mirai dengan riang sambil mengulurkan kelingkingnya ke arah Yamada.

Yamada yang sama polosnya saat itu membalas denga tersenyum sembari mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Mirai.

Mereka telah berjanji.

***


“Yama-chan!!” teriak Mirai setengah berlari ke arah pemuda berkacamata yang sedang asyik menikmati jus strawberry yang baru saja di pesannya.

Doushite?” tanya pemuda itu mengerutkan keningnya melihat sahabatnya yang terlihat begitu panik pagi itu.

“Yama-chan…,” napas gadis itu masih terengah-engah. Yamada segera menyodorkan jus strawberry-nya kepada sahabatnya itu. Dengan kalap, Mirai segera meminum jus tersebut hingga hanya tersisa sebagian saja.

“Yama-chan! Kau pasti tak percaya mendengar kabar ini!! Dia ada di sini! Ya, sekarang dia satu kampus dengan kita! Bagaimana aku tidak senang coba??!” ujar Mirai sedikit berteriak.

“Dia? Dia siapa yang kamu maksud?” tanya Yamada masih belum mengerti apa yang dikatakan Mirai.

“Yuto! Nakajima Yuto!! Dia pindah ke sini! Dan mulai sekarang dia akan menjadi teman sekampus kita!” ujar Mirai riang dengan senyum yang tak berhenti menghiasi bibirnya. “Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak merasa senang?” ujar Mirai yang akhirnya merasakan perbedaan sikap sahabatnya itu.

“Oh,t-tentu saja aku senang. Ya. Apapun yang bisa membuat Mirai-ku senang, aku pasti akan turut senang," ujar pemuda itu mencoba terlihat merasakan kebahagiaan yang sedang sahabatnya itu rasakan. Walaupun di dalam hatinya sedang cemas, resah, dan takut kehilangan sahabatnya itu. Mirai.

***

“A-apa?! Kenapa mesti aku??!” ujar Yamada yang kaget begitu mendengar permintaan aneh yang keluar dari mulut sahabat kecilnya yang begitu disayanginya.

“Jadi ceritanya kamu tidak mau nih membantuku kali ini? Ternyata kamu bukan Yamada yang bisa kuandalkan lagi!” ujar Mirai mengeluarkan jurus ‘ngambek’nya. Dan setiap kali Mirai mulai bertingkah seperti itu, Yamada pun akhirnya mau tak mau memenuhi segala permintaan gadis itu. Ia paling tidak bisa membuat sahabat kecilnya itu sedih karenanya.

“Baiklah. Nanti aku akan segera bilang sama dia. Sudah, jangan ngambek lagi... Aku tidak tenang melihat wajah kamu yang seperti itu,” ujar Yamada yang akhirnya membuat Mirai segera memeluknya. 

Begitulah Mirai. Tiap kali ia merasa senang, ia akan segera memeluk Yamada. Namun walaupun hal tersebut telah sering dilakukan Mirai padanya, namun pemuda tersebut masih seringkali merasa canggung tiap kali Mirai memeluknya. Walaupun semuanya tak berarti lebih. Hanya pelukan sahabat. Tak bisa diartikan lebih dari itu.

***

Gadis itu terlihat begitu senang dan berbinar-binar hari itu. Bagaimana tidak?? Lelaki pujaannya selama ini sekarang telah berada di hadapannya. Ia tak perlu repot-repot lagi untuk menyalakan televisi setiap kali ingin memandang wajah tampan seorang Nakajima Yuto. Ya. Mereka bahkan tengah makan siang bersama sekarang! Ini tentu saja bukan mimpi. Berkat sahabat kecilnya yang paling ia sayangi. Siapa lagi kalau bukan Yamada Ryosuke. Kalau tidak karena bantuannya, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Walaupun beberapa hari lalu ia harus mengeluarkan jurus ‘ngambek’nya dulu agar Yamada sudi membantunya. Membantunya agar dapat berkenalan dengan sang bintang, Nakajima Yuto.

Di kejauhan, seorang lelaki menatap sedih ke arah Mirai dan Yuto. “Kalau itu yang membuat kamu bahagia, aku akan merelakanmu, Pengantin Kecilku, ”bisiknya pada dirinya sendiri sambil tersenyum. Senyum yang memilukan. Berupa lengkungan patah.

***


Mirai berlari mengejar Yamada yang terlihat berjalan beberapa meter di depannya.

“Yama-chan!”

Pemuda berkacamata itu segera menoleh ke arahnya.

“kenapa?” tanyanya dengan nada datar. Kelihatan tak bersemangat sekali.

“Aku mau pinjam tugasmu, dong! Besok aku kembalikan, kok," ujar Mirai dengan tersenyum semanis mungkin.

“Ini...”

Lagi-lagi pemuda itu berkata dengan datar. Namun kali ini terlihat lengkungan di bibirnya. Walaupun terlihat patah dan tak setulus biasanya. Saat pemuda itu ingin melangkahkan kakinya, Mirai pun memanggilnya.

Chotto!

Langkah pemuda itu terhenti. Tanpa berkata apa-apa lagi, Mirai segera menempelkan punggung tangannya pada dahi sahabat kecilnya itu.

“Astaga! Kau sakit, Yama-chan!” ujar sang gadis panik merasakan suhu tubuh pemuda itu yang begitu hangat.

“Jangan terlalu dipikirkan. Ini hanya sakit biasa. Sebentar lagi juga segera sembuh,” ujar pemuda tersebut sambil tersenyum ke arah Mirai.

***


Saat sedang menyalin tugas milik Yamada yang baru saja dipinjamnya, Mirai tak sengaja menemukan secarik kertas yang terselip di sela-sela tugas milik Yamada, sahabatnya itu.



Ada waktu ketika Kita ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa
Dan waktu ketika Kita tidak bisa jujur
Kita telah mengatasi itu ketika menangis
Dan sekarang Kita bersinar dengan terang
Gambaran kebahagiaan yang Kita miliki terlukis satu sama lain
Untuk menjadi satu cinta yang luar biasa
Mari hidup bersama selamanya

Seratus tahun dari sekarang, Aku berjanji cintaku
Kau adalah segalanya bagiku
Percaya padamu, hanya percaya padamu
Seseorang yang akan berbagi waktu bersamaku

Tidak masalah apa yang ada padamu, tidak ada masalah apa yang ada padaku
Setiap bagian itu berharga bagiku
Selama Aku memilikimu, Aku tidak membutuhkan yang lain
Aku tau Kita akan berbahagia

Seratus tahun dari sekarang, Aku berjanji cintaku
Kau adalah segalanya bagiku
Aku mencintaimu, hanya mencintaimu
Seseorang yang akan berbagi waktu bersamaku
Mari berjanji esok Kita kan saling berbagi

Kau adalah satu dan hanya satu orang yang Kupilih
Di seluruh dunia ini
Selama Aku memilikimu, Aku memiliki masa depan apapun
Akan selalu bersinar

 
Gadis tersebut tersenyum-senyum sendiri membaca puisi sahabat kecilnya itu.

"Ternyata anak itu sedang jatuh cinta! Kira-kira siapa ya gadis yang sedang disukainya? Kenapa dia tidak pernah memberitahuku? Dia benar-benar curang!" gumam Mirai pada dirinya sendiri.

***

Yamada tak tahu lagi mesti menjelaskan bagaimana dengan sahabatnya itu. Perkara puisinya. Ya, seharian ini Mirai tak berhenti mewawancarainya hanya karena ingin tahu untuk siapa puisi itu sebenarnya ia tulis. Bagaimana mungkin ia bisa menjawabnya??

Yamada Ryosuke. Semua mahasiswa di kampusnya tahu dia adalah seorang yang cerdas. Tak ada yang bisa menolak anggapan tersebut. Namun, entah kenapa saat diwawancarai Mirai mengenai puisi terkutuk itu, ia bisa berubah total menjadi orang terdungu sekalipun! Namun berkat kedatangan Nakajima Yuto, Mirai pun sukses melupakan Yamada Ryosuke dan perkara puisi-nya yang sejak tadi ia ributkan. Ia melupakan sahabat kecilnya itu. Seolah Yamada tak ada di sampingnya lagi. Hanya ada dia dan Nakajima Yuto saja di sana. Menyadari hal itu, Yamada segera pulang dengan hati remuk.

“Mirai-chan. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu. Maukah kau pergi sebentar bersamaku?” tanya Yuto yang spontan dijawab Mirai dengan anggukan kepala. Ia benar-benar telah tersihir dengan pesona bintang seorang Nakajima Yuto. Yuto pun segera menggandeng tangannya.

***

“Jadi begitulah…” ujar Mirai mengakhiri ceritanya. Ia segera melirik Yamada yang sibuk memain-mainkan sushi kesukaannya.

“Baguslah. Sekarang kamu tentu harus berbahagia.  Akhirnya dia benar-benar menjadi kekasihmu! Kudoakan semoga kalian selalu bahagia bersama,” ujar Yamada tertunduk lesu masih tetap memainkan sushinya. Entah kenapa selera makannya telah lenyap begitu saja saat mendengar Mirai, Sang Pengantin Kecilnya menjadi kekasih orang lain. Kekasih seorang superstar!

Arigatou,Yama-chan! Kau memang sahabatku yang paliiiinngg baik!” ujar gadis itu lagi-lagi memeluknya di saat dia merasa begitu bahagia. 

“Yama-chan, kau sakit lagi?” tanya gadis itu menatap lekat pemuda yang ada di hadapannya. Wajah pemuda itu belakangan ini sering terlihat pucat. Ia juga tak bersemangat seperti biasanya. Aneh.

“Jangan menatapku seperti itu! Sudah kubilang, aku tidak apa-apa," ujar Yamada sambil mengacak-ngacak rambut gadis yang begitu ia sayangi sejak kecil itu.

“Uhmm, aku dan Yuto besok pagi berencana untuk pergi jalan-jalan ke pantai tempat kita bermain biasanya dulu. Apa kau mau ikut?”

“Tidak ,ah! Nanti aku hanya akan jadi pengganggu kalian saja. Kan tidak enak...”

“Tapi--”

“Sudahlah! Ini kan kencan pertama kalian. Jadi aku benar-benar tidak ingin jadi pengganggu. Oke? Nanti kalau kamu ingin jalan-jalan dengan aku saja ke pantai itu lagi, pasti aku ajak kok. Tapi kali ini, giliran kamu sama kekasih barumu saja," jelas Yamada bijak. Walau hatinya perih saat mengatakan itu. Walau hatinya remuk redam. Ia mencoba menyembunyikan itu semua dengan senyumannya. Senyuman palsunya yang tak disadari Mirai.

***

“Apa?! Mirai-chan kecelakaan, Bi?! Baiklah, aku akan segera ke rumah sakit sekarang!” ujar Yamada yang segera bergegas mengganti pakaiannya dengan yang lebih rapi dan segera melaju menuju rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit, ibu Mirai terus menangis pilu. Yamada mencoba menenangkan perasaan ibunda sahabatnya itu. Walaupun tak dapat dipungkiri hatinya juga cemas bukan main. Namun syukurlah, tak berapa lama kemudian Mirai berhasil melewati masa kritisnya. Yamada dan ibu Mirai setidaknya dapat bernapas sedikit lega. Namun perkataan dokter barusan amat membuat Yamada kesulitan bernapas. Mirai sekarang buta dan juga lumpuh!

Yamada tak kuasa mendengar hal itu. Mirai. Sang masa depannya yang kini seakan kehilangan masa depannya. Jika diijinkan, ia rela menukarkan semua yang ia punya asalkan Mirai-chan, Pengantin Kecilnya dapat kembali seperti sediakala lagi.

‘andai saja tak pergi ke pantai itu’
‘andai saja tak kencan hari itu’
‘andai saja..’

Yamada terus berandai-andai dalam hatinya. Namun, toh semua telah terjadi. Tak ada gunanya lagi untuk disesali. Ya, tak ada yang bisa disesali...

“Bu, Ibu di mana?” ujar Mirai yang membuat hati Yamada menjadi pilu.

“Ibu di sini, Nak. Di sampingmu," ujar ibu Mirai menggenggam erat tangan putri semata wayangnya sambil menangis.

“Tapi kenapa semua gelap?! Kenapa Mirai tidak bisa lihat wajah Ibu dan Yamada?!” tanya Mirai. Nadanya mulai sedikit cemas.

“Maafkan Ibu, Nak. Kamu tidak bisa melihat lagi akibat kecelakaan itu... Bahkan kedua kakimu pun juga tak bisa berfungsi lagi. Kata Dokter, kakimu mengalami kelumpuhan permanen...” Kini ibu Mirai tak bisa lagi mengendalikan dirinya agar tetap tegar. Tangisnya semakin menyayat perasaan Yamada yang berada di sampingnya.

“Tidak!! Ibu bohong! Tidak mungkin!!” Mirai berusaha menggerak-gerakkan kedua kakinya yang seakan membatu tersebut. Hati gadis itu benar-benar hancur. Namun tiba-tiba ia seakan ingat sesuatu...

“Yuto!! Yuto di mana, Bu?! Apa dia baik-baik saja?! Jawab, Bu!! Dia tidak apa-apa, 'kan?!” kali ini Mirai semakin kalap. Dan ibunya tak berkata sepatah kata pun, malah menangis semakin jadi.

“Yama-chan, tolong jawab aku! Yuto di mana?! Dia baik-baik saja, 'kan?!” Kali ini giliran Yamada yang menjadi sasaran pertanyaannya.

Tak sanggup melihat penderitaan sahabatnya, Yamada segera memeluk Mirai. Erat. Erat sekali... Sampai ia bisa merasakan hangatnya airmata Mirai yang meresap di bajunya.

“Dia tak tertolong. Dia telah pergi selama-lamanya, Mirai-chan. Kamu harus merelakannya...” bisik pemuda itu pada sahabatnya yang begitu syok.

“Tidak!! Tidak mungkin!! Kenapa aku mesti hidup?!! Kenapa aku yang mesti hidup dalam keadaan begini?!! Kenapa Tuhan tak mengambil nyawaku saja??!" Gadis itu hampir tak bertenaga lagi memeluk sahabat kecilnya itu. Ia begitu tak percaya dalam waktu singkat kehidupannya telah berubah menjadi setragis itu.

***


Gadis berkursi roda di taman rumah sakit itu terlihat sedang terdiam memikirkan sesuatu. Sudah hampir sebulan ini, sahabat kecilnya, Yamada Ryosuke tak pernah mengunjunginya ke rumah sakit. Padahal ia kangen. Sungguh kangen. Biasanya dengan kedatangan sahabatnya itu, ia pasti selalu bahagia. Yamada selalu berusaha menghiburnya. Walau pada kenyataannya ia belum dapat menerima keadaannya sekarang sepenuhnya.

Ibunya mengatakan mungkin Yamada sedang banyak tugas di kampusnya sehingga tidak sempat menjenguknya belakangan ini. Dan Mirai pun mencoba sependapat dengan sang ibu.

Tak beberapa lama kemudian, dokter menemui Mirai-chan. Membawa kabar gembira untuk sang gadis yang hampir kehilangan senyumnya itu.

“Dokter serius, 'kan? Saya akan dapat melihat lagi??” ujar Mirai masih ragu.

“Benar sekali, Shida-san! Kamu patut bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk melihat dunia kembali...”

***


Apakah sekarang Mirai benar-benar bersyukur pada Tuhan?

Kini ia bukanlah gadis buta lagi. Ia bisa melihat! Namun semuanya tak kunjung membuat perasaannya membaik. Malah kepedihan yang menghujamnya semakin bertubi-tubi.

Ia  menatap surat yang ada di genggamannya dengan tangis yang ditahannya sejak tadi. Kertas itu sudah sepenuhnya basah akibat tetesan airmatanya. Namun itu semua belum cukup menghilangkan kepedihannya yang begitu dalam.

Bergetar. Tangannya bergetar menggenggam kertas itu lebih lama. Hatinya tersayat-sayat. Perih. Segala perasaan merasukinya.


Mirai-chan..
Selamat melihat dunia yang indah lagi, ya...
Aku tahu kamu amat menderita dengan cobaan yang datang bertubi-tubi dalam hidupmu akhir-akhir ini 
Kamu mesti lumpuh dan buta, serta kehilangan orang yang begitu berarti buat kamu 
Nakajima Yuto…
Aku ingin meringankan sedikit penderitaanmu. Sehingga aku memutuskan untuk mendonorkan mataku untukmu
 Karena aku juga tahu kalau hidup aku tidak akan lama lagi
 Aku mengidap kanker otak sudah setahun ini 
Itulah yang menyebabkan wajahku selalu pucat
Aku sengaja merahasiakan hal ini denganmu 
 Karena aku tidak ingin orang yang aku sayangi sedih 

‘Ada waktu ketika Kita ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa
Dan waktu ketika Kita tidak bisa jujur...’

Kau tentunya masih ingatkan, ini beberapa baris puisi yang pernah kubuat 


 Sekarang kamu tidak perlu bertanya-tanya lagi siapa orang yang aku sukai 
Orang itu adalah SHIDA MIRAI 
Aku benar-benar menyukaimu, bahkan sejak kita masih kanak-kanak aku selalu ingin melindungimu...
Tapi aku terlalu bodoh dan tak tahu cara untuk mengungkapkannya...
Dan sekarang aku dapat pergi dengan tenang karena orang yang kusayangi dapat melihat lagi...
Melihat dunia yang begitu indah ini…

Hanya satu pesan terakhirku
 Jangan pernah melupakan aku 
 Meski aku tidak bisa tertawa dan bercanda bersama kamu lagi, namun melalui mataku yang kini menjadi matamu, aku akan menemanimu sepanjang perjalanan hidupmu... 

Kau adalah satu dan hanya satu orang yang Kupilih
Di seluruh dunia ini 

Yamada Ryosuke



--Owari--

CUKUP


Menganga...
Luka itu semakin lebar
Tak perlu rasa iba itu!
Tak perlu kepura-puraan itu!
Sama sekali tak perlu!
Gadis itu hanya butuh ketulusanmu, Sobat...

Namun semua terlambat sudah
Cahaya hidup itu telah meredup
Kau telah meluluh lantakkan sesuatu yang sesaat lalu menghidupkannya
Sesuatu yang kau kira akan mudah didapatkannya lagi

Jangan tunjukkan sandiwara itu lagi!
Biarkan ia mati tenang dalam keputusasaan takdir yang mempermainkannya
Pada tempat yang seumur hidup tak pernah diinginkannya


HITAM TAK SELALU KELAM


Aku sangat menikmati saat-saat seperti sekarang. Bercanda dan berbagi keluh kesah bersama keempat teman dekatku di belakang sekolah saat istirahat. Menikmati berbagai bunga yang mulai bermekaran di awal September ini. Sesekali kami melihat kupu-kupu berterbangan memamerkan sayap indahnya di sekitar bunga-bunga mawar, anggrek, dan melati yang mekar dengan bangganya.

Sejak tadi aku hanya duduk terdiam menatap mega yang berarak, tersenyum sendiri seakan membalas sepotong senyum yang terukir indah pada mega yang putih lembut. Sesaat kurasakan angin sejuk membelai lembut pada kulitku dan menyusup masuk melalui pori-pori kulitku. Membuatku tersadar dari lamunan panjangku.

Kutatap keempat sahabatku yang masih asyik berbincang-bincang tanpa menyadari kebungkamanku. Sesekali kudengar mereka tertawa. Akan tetapi tak jarang pula kulihat mereka begitu tegang dan serius. Keempat sahabatku tersebut adalah Errie, Alya, winny, dan Indah. Errie adalah sosok cewek yang lumayan tomboy. Ia begitu benci jika salah seorang di antara kami mendiskusikan soal CINTA dan COWOK padanya.

Kebalikan dari Errie, Alya amat senang sekali curhat tentang sederetan cowok-cowok incarannya, terutama kepadaku. Alasannya, aku merupakan pendengar yang baik. Tak tahukah ia bahwa di dalam hatiku aku selalu meratapi betapa malangnya nasibku saat dia kembali mengisahkan kisah yang sama padaku untuk keseribu kali? Kalau Winny… hmm, dia tipe teman yang lumayan menyenangkan dan penuh humor. Dan yang terakhir adalah Indah. Seperti namanya, ia merupakan gadis yang begitu indah dengan segudang prestasi, baik di bidang akademik maupun non akademik.

“Bella, coba kamu lihat itu!” ujar Winny mengagetkanku. Aku pun segera melihat ke arah yang ditunjukkan Winny.

Rupanya Della dan pacar barunya, Radit. Mereka berada pada jarak beberapa meter dari kami saat ini.

“Mesra sekali ya," ujar Alya yang tak mengalihkan pandangannya sedikit pun pada Della dan pasangan barunya itu.

Entah kenapa hatiku begitu sakit setiap melihat Della. Aku begitu benci padanya! Nafasku sesak tiap kali menatapnya. Dendam dan benci telah meracuni hatiku. Della adalah gadis yang begitu cantik, berambut ikal sepinggang, berbulu mata lentik, berhidung bangir, tinggi ramping, dan juga cerdas. Benar-benar tipikal gadis impian semua cowok! Sehingga aku harus tegar menerima kenyataan bahwa Ryo akhirnya menjadi pacarnya. Sejak saat itulah kebencianku pada Della resmi dimulai.

Ryo adalah teman sekelasku yang begitu aku sukai. Namun tampaknya cintaku tak berbalas. Ryo lebih memilih Della dibandingkan aku, gadis berpenampilan apa adanya tanpa sesuatu yang istimewa. Namun sayangnya pilihan Ryo untuk berpacaran dengan Della sangat tidak tepat. Karena Della akhirnya memutuskan Ryo setelah hanya sekitar dua minggu berpacaran. Dan kini Della berpacaran dengan Radit, cowok yang belum lama ini pindah ke sekolahku. Aku benar-benar kesal dan marah pada Della. Tak seharusnya dia mempermainkan lelaki dengan kecantikan yang ia miliki. Benar-benar keterlaluan! Namun Ryo seharusnya lega. Karena aku tak perlu mengejar-ngejar cintanya lagi, walaupun untuk sementara ini ia berstatus sebagai jomblo. Kini aku telah memiliki pacar. Namanya Kevin. Pemain basket andalan sekolah kami. Aku tak pernah mengerti kenapa Kevin bisa menyukai gadis tak menarik sepertiku. Barangkali matanya telah rabun saat ia meminta aku untuk menjadi pacarnya.

Aku tahu tak terhitung banyaknya para pengagum Kevin yang menangis saat mengetahui aku dan Kevin berpacaran. Bahkan mereka tak pernah berhenti membicarakan kebodohan Kevin yang berani memacari gadis tak menarik sepertiku.

***


Kini di akhir Septemper yang mendung, Indah mengunjungiku. Wajahnya kelihatan sendu. Tak pernah sebelumnya kulihat ia semurung ini.

“Aku benci dengan Ryan, Bel. Dia begitu cuek!  Benar-benar pangeran berhati batu! Cewek mana yang nggak bakalan sakit hati saat mendapati kenyataan bahwa pacarnya nggak ingat hari ulang tahunnya sama sekali?! ” keluh Indah padaku. Kulihat butiran bening mulai mengalir melewati pipi mulusnya.

Aku hanya bisa terdiam. Tak tahu harus berkata apa untuk menghibur sahabatku ini. Namun setelah puas menangis, Indah menatapku tajam. Tatapannya sungguh membuatku merasa tak nyaman. Aku berdebar menunggu sesuatu yang akan diucapkannya. Akhirnya Indah tersenyum walau cuma berupa lengkungan patah namun itu sudah cukup melegakanku.

“Bel, aku punya ide cemerlang untuk kebaikan kita.”

“Untuk kebaikan kita?”

“Ya," ujar Indah dengan senyum yang semakin lebar.

Aku semakin tak mengerti. Namun aku berusaha dengan sabar menunggu penjelasan Indah lebih lanjut tentang ide cemerlangnya itu.

“Bagaimana kalau kita bertukar pasangan?”

Ide cemerlang Indah cukup membuat nafasku berhenti beberapa saat.

“Maksudmu?”

“Hm, maksudku bagaimana kalau aku berpacaran dengan Kevin dan kamu berpacaran dengan Ryan? Karena selama ini kita sama-sama sering mengeluhkan pacar kita masing-masing. Kamu mengeluhkan Kevin yang terlalu perhatian denganmu sehingga membuatmu risih sedangkan aku selalu mengeluhkan Ryan yang jarang peduli bahkan cenderung cuek denganku,” ujar Indah menjelaskan sambil tak berhenti menatapku. “Kurasa ini adalah ide yang tepat buat kita! Karena aku senang diperhatikan dan kamu lebih menyukai cowok yang cuek,” lanjut Indah.

Aku hanya diam saja tanpa berani menatap mata Indah. Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Sulit bagiku untuk menolak ide cemerlang Indah tersebut. Sebab Indah adalah sahabat dekatku. Kedekatanku dengannya melampaui kedekatanku dengan Errie, Winny, maupun Alya. Walaupun kedengarannya cukup sulit, namun aku akhirnya merelakan Kevin demi Indah, sahabatku.

***

Sabtu siang, sepulang sekolah, aku mengajak Kevin untuk bertemu di lapangan basket. Saat itu cuaca agak mendung. Tampaknya akan hujan sebentar lagi. Kulihat Kevin berlari kecil menuju ke arahku. Wajahnya begitu ceria, mengalahkan mendung yang semakin kelam.

“Sepertinya ada yang penting ya, Bel? Nggak biasanya kamu mengajak aku ketemuan seperti sekarang...”

“Vin…,” panggilku tanpa berani menatapnya.

“Ya?" sahutnya.

“Aku ingin kita putus..." ujarku diiringi meluncurnya butiran air mata dari kedua sudut mataku.

“Putus, Bel?! Alasannya?”

Aku menggigit bibirku. Kulihat ada kabut di wajah Kevin yang tadinya begitu ceria.

“Kita nggak cocok. Lagian sahabatku, Indah, amat menyukaimu. Aku lebih bahagia melihat kalian pacaran. Karena kalian begitu serasi. Daripada melihatmu terus bersamaku, hanya akan merepotkan kupingmu mendengar cemoohan orang-orang...”

“Tapi Bel, aku nggak suka dengan Indah. Aku menyukaimu! Nggak peduli orang mau bilang apa. Aku akan terus menyukaimu.”

“Vin, kalau kamu benar-benar menyukaiku, pasti kamu akan melakukan segala sesuatu yang aku pinta. Dan sekarang, aku hanya minta kamu untuk menjadi pacar Indah.”

“Tapi…,”

“Ah, sudahlah Vin! Ternyata kamu nggak serius suka dengan aku! Makanya kamu nggak mau mengabulkan permintaan aku, ya kan?”

Kevin terdiam. Langit semakin mendung. Dan tetesan hujan mulai terasa membasahiku.

“Aku pulang dulu, Vin. Makasih buat semuanya...”

Aku pun berlalu meninggalkan Kevin seorang diri di lapangan basket.Dalam hati, aku berharap Kevin akan berteriak memanggil namaku, berlari mengejarku, dan menyuruhku untuk tidak meninggalkannya. Namun harapanku itu tak menjadi kenyataan.

***


Sejak pertemuanku dengan Kevin di lapangan basket, aku kini sering melihat Kevin dan Indah berjalan bersama. Mereka kelihatan begitu akrab. Dan aku tak tahu apa yang telah indah katakan pada Ryan sehingga dua hari yang lalu Ryan memintaku untuk menjadi pacarnya. Kini tampaknya ide Indah telah berjalan dengan sukses! 

Tak terasa dua bulan berlalu begitu cepat. Hubunganku dan Ryan berjalan dengan baik. Kecuekan Ryan tak membuatku kehilangan nyawa sebagaimana Indah. Karena pada dasarnya aku menyukai cowok yang cuek.

Menurut informasi yang kudapat dari Alya, Indah dan Kevin telah resmi berpacaran sebulan yang lalu. Aku tak tahu harus senang atau sedih mendengar kabar tersebut. Dan sejak berpacaran dengan mantan pacarku, Indah selalu menghindariku. Kenyataan ini sungguh menyakitkanku.

Aku seperti terserang penyakit aneh setiap kali melihat Indah dan Kevin berjalan bersama. Aku tak cukup kuat mendengar sanjungan yang terlontar dari mulut orang-orang tentang betapa serasinya Indah dan Kevin. Mereka sama-sama keren, pintar, dan populer...

Della melirikku setiap kali melihatku terpaku menatap Indah dan Kevin yang sedang berjalan bersama. Kemudian dia akan memberikan  sebuah senyum penuh ejekan padaku. Aku benci saat Della merayakan kesedihanku dan menghadiahkan aku senyuman penuh hinaan! Aku benci!

Aku benci segala sesuatu menyangkut Della, Si Nenek Sihir. Julukan baru yang kurasa tepat ia dapatkan. Karena ia bisa seenaknya menyihir cowok-cowok menjadi apa yang ia mau.

Kenyataan bahwa aku memiliki nama yang hampir sama dengannya semakin mempertebal kebencianku. BELLA dan DELLA. Namun selain dari sedikit kesamaan nama tersebut, kami merupakan dua pribadi yang sangat bertolak belakang. Kami ibarat langit dan bumi yang tak akan pernah menyatu sampai kapan pun!

***


Aku terdiam mendengar penuturan Winny dan Alya mengenai hubungan antara Indah dan Kevin. Menurut mereka, Indah dan Kevin saling menyayangi, dan mereka melarangku untuk mengganggu hubungan antara Indah dan Kevin. Namun aku ingin Kevin kembali ke sisiku. Baru kusadari ternyata aku begitu menyayangi Kevin, melebihi rasa sayangku terhadap Ryo yang merupakan cinta pertamaku.

“Bel, aku nggak mungkin jadi pacar kamu lagi. Karena sekarang,aku benar-benar menyukai Indah. Dan perlu kamu ketahui, rasa sayangku padanya melebihi rasa sayangku padamu dulu," ujar Kevin siang itu, selepas pulang sekolah.

Dadaku nyeri setiap kali ingat kata-katanya. Mungkin aku memang harus berbahagia menjadi pacar Ryan sekarang. Namun, beberapa hari ini aku tak menerima kabar dari Ryan. Tak seperti biasanya. Ia selalu mengirim SMS padaku minimal tiga kali sehari. Ya, begitulah Ryan. Walaupun terkesan cuek, ia tak pernah lupa mengirimiku SMS setiap harinya. Menurut Ryan, akulah pacar terbaik yang pernah ia miliki, yang selalu berusaha untuk mengerti dia. Untuk itulah ia selalu perhatian padaku.

Kekhawatiranku pada Ryan akhirnya terjawab. Rabu siang, Errie meneleponku. Ia mengatakan bahwa Ryan meninggal akibat overdosis mengonsumsi heroin. Seluruh tubuhku gemetar. Tangisku pecah. Dan ini bukanlah tangis seseorang yang kehilangan kekasihnya, melainkan tak lebih dari tangis kehilangan sahabat terbaik. Sahabat yang selalu menemani hari-hariku. Kini pelangiku tak lagi indah karena satu warna telah lenyap tak berbekas.

Kematian Ryan telah menjadi bahan perbincangan yang mengasyikkan bagi teman-temanku beberapa hari ini. Aku benci setiap kali mereka berbicara tentang Ryan. Aku tak kuat mendengar mereka berbicara seolah-olah Ryan adalah teroris paling berbahaya yang harus mati dengan cara ‘ditembak mati’.

Tak ada seorang pun yang bisa kuajak mendengarkan curhatku. Karena sejak kematian Ryan, teman-teman sekelasku memandangku layaknya seorang pembunuh berdarah dingin. Atau barangkali mereka takut dan jijik  mendekatiku karena menganggap aku adalah seorang pembawa sial. penolakan terhadapku rupanya terjadi bukan hanya di kelasku. Winny, Alya, Errie, dan Indah juga menghindariku. Seakan aku virus ganas yang mematikan. Tak ada yang bisa membuatku merasa lebih sedih daripada dikucilkan dan dijauhi sahabat-sahabat terdekatku.

Otakku tak henti-hentinya memikirkan alasan yang paling tepat yang membuat seluruh murid di sekolahku kompak menjauhiku. Apa mungkin mereka mengira bahwa akulah yang telah merusak hidup Ryan dan menyeretnya ke dalam kegelapan? Menjerumuskan dan mengenalkannya pada obat-obat terlarang yang akhirnya mencabut nyawanya? Entahlah. Aku pusing demi memikirkan berbagai alasan  kenapa mereka membenciku. Yang aku tahu, hanya segelintir orang yang berduka atas kepergian Ryan. Bahkan Indah terlihat biasa-biasa saja saat mengetahui kematian Ryan yang adalah mantan kekasihnya.

Kini hari-hariku suram. Aku benci dengan keadaan yang harus kuhadapi saat ini. Nilai-nilaiku menurun begitu drastis. Aku tahu saat aku menangis di kelas, Della sering melirikku. Aku yakin saat ini dia pasti amat berbahagia atas penderitaan yang aku alami. Dan aku tak akan mau melihatnya! Karena pasti dia hanya akan menghadiahkan berjuta-juta senyum sinisnya padaku yang kurasa sanggup membunuhku seketika.


Onggokan sepi merayap rupa
Kerikil hampa penuhi hati
Terhempas kekosongan yang menggunung
Alunan nada ceria hentikan denyut jantung
Variasi warna menebar tak terhiraukan
Ingin raib, ingin musnah, ingin tiada…
Agar tak kumiliki hampanya hati
Menara sendu berdiri anggun
Ejaan sepi pun tak lagi terbaca
Tidur saja senang itu!
Agar kelabu erat menyatu dengan kesunyian
Lingkaran tawa mengurung hampa
Opini tentang bahagia terhanyut sudah
Venus tersenyum dalam kemenangannya
Akan kekosongan yang terpantul di seraut wajah
Irama kesepian hanya berdetak di kisi-kisi hati yang mengkristal...


Aku menatap puisi yang baru saja kubuat. Dari kedua sudut mataku, mengalirlah butiran bening yang sejak tadi kutahan. Kutatap kupu-kupu yang menari-nari penuh kebahagiaan mengejekku serta bunga-bunga yang penuh keanggunan menertawakan kemalanganku.

Di belakang sekolah inilah aku bisa menangis sejadi-jadinya dan bisa berbagi keluh kesah kepada bunga-bunga yang bermekaran serta kepada kupu-kupu yang menari riang. Namun aku terdiam saat mendengar suara langkah  mendekat ke arahku.

“Kurasa ini akan begitu kau perlukan saat ini," ujar seseorang di belakangku sambil menyodorkan sebuah sapu tangan indah berwarna biru muda. 

Aku memberanikan diri membalikkan tubuhku untuk menatap pemilik sapu tangan tersebut. Mungkin aku lebih percaya bahwa matahari besok akan terbit di sebelah barat dan terbenam di sebelah timur daripada apa yang aku lihat sekarang!

Kulihat Della tersenyum sambil masih menyodorkan sapu tangannya. Dengan ragu akhirnya aku mengambil sapu tangan tersebut dan mengusap airmataku dengan sapu tangan itu.Tanpa kutawari, Della segera duduk di sampingku.

“Dulu, aku telah kenyang menghadapi keadaan seperti yang kau alami saat ini. Dikucilkan dan kesepian..." Mata Della yang bulat tak hentinya menatapku. “Dan sekarang…aku nggak mungkin membiarkan kamu menghadapi masa-masa sulit ini sendirian, seperti halnya aku dulu..." Della tersenyum padaku. Kali ini bukanlah senyuman penuh ejekan dan hinaan. Tiba-tiba saja wajah Della yang biasanya kulihat seperti nenek sihir kini terlihat begitu menyejukkan. Dan kini aku bisa melihat sepasang sayap putih melekat di belakang tubuhnya. Ia memelukku. Hangat. Penuh persahabatan. Membuatku tak ingin lepas dari pelukannya. 

Kutatap mega yang bergerak tertiup angin. Padanya aku telah mengatakan semua. Bahwa dunia ini terus berputar. Dan sahabat-sahabat terdekatmu suatu saat akan pergi meninggalkanmu satu persatu dengan goresan luka. Bahkan tak menutup kemungkinan mereka akan membunuhmu. Begitu pula, seseorang yang kau anggap musuh, suatu saat bisa saja mengobati luka-luka hatimu dengan sejuta kasih sayang yang tak pernah terbaca olehmu, karena hatimu diselimuti kabut dengki dan kebencian.

Maka temukanlah sahabat yang terbaik bagi hatimu, tanpa melihat apa yang dapat dilihat oleh matamu.

 --SELESAI--


 (Cerita ini ditulis ketika sedang duduk di bangku SMA kelas XI dalam rangka lomba cerpen yang diadakan sekolah. Masuk kategori 5 besar cerpen terbaik di sekolah saat itu).