Dialog Sastra Kalbar 2015

Senin, 30 November 2015


Antusiasme tergambar jelas di wajah para penggiat sastra Kalimantan Barat pada hari itu, Jumat (27/11). Berkumpulnya para pecinta sastra tersebut di Hotel Merpati Pontianak dalam rangka Dialog Sastra Kalbar. Dialog ini diadakan untuk menghidupkan kembali semangat menulis para sastrawan Kalbar. Selain itu, kegiatan tersebut juga untuk merayakan terbitnya buku ‘Bayang-bayang Tembawang’, yang mana merupakan antologi puisi 44 penulis dari 13 kabupaten di Kalimantan Barat (minus Kabupaten Melawi). Kegiatan yang dilangsungkan dari pukul 07.30-16.00 WIB ini juga menghadirkan pemateri yang luar biasa, di antaranya cerpenis kondang Hanna Fransisca dan aktor merangkap penulis skenario ternama yakni Jeremias Nyangoen.


Buku Bayang-bayang Tembawang; Antologi Puisi Penulis Kalimantan Barat


Budi Susanto yang tengah membacakan puisi karyanya berjudul 'Dunie-dunie' (termuat dalam 'Bayang-bayang Tembawang')


Menurut Hanna, sastra kurang berkembang di Kalbar karena kurangnya wadah, khususnya di bidang pendidikan. Maka, untuk itu, diperlukan bantuan dari berbagai pihak, khususnya yang bergelut dalam bidang pendidikan demi menghidupkan sastra di Kalimantan Barat. Perempuan kelahiran Singkawang itu juga menyarankan agar para penulis Kalbar sebaiknya menulis tentang kearifan lokal dan hal-hal yang belum banyak ditulis dari Kalimantan Barat sehingga orang luar menjadi tertarik. Selain itu, perempuan yang pernah masuk sebagai 5 nominator penerima Khatulistiwa Literary Award 2010 untuk kategori puisi lewat buku kumpulan puisi ‘Konde Penyair Han’ ini mengimbau agar para sastrawan jangan terseret arus dengan menggunakan bahasa yang tidak mendidik, memaki, dan memasukkan unsur-unsur kemarahan dalam tulisan.

Dari kiri ke kanan; aku dan Ci Hanna


Hanna yang cerpen, puisi, serta esainya tersebar di berbagai media massa ternama Indonesia seperti Harian Kompas, Koran Tempo, Horison, dan Jurnal Sajak sangat menyayangkan kenyataan bahwa banyak penulis Kalbar yang tidak memunculkan diri. “Penulis tidak akan dikenal kalau tidak mengenalkan diri,” ucapnya. “Kita mencintai dunia menulis. Jadi, walau tidak mendapat tempat, tulis saja. Percayalah, suatu saat, kita pasti mendapat tempat,” pungkas perempuan itu memberi semangat di pengujung waktunya menyampaikan materi.

Dari kiri ke kanan; Kiki, Tunjung dan aku (Tim Kabupaten Sintang)


Pradono, selaku aktivis seni dan budaya Kalbar yang menjadi pemateri hari itu mengharapkan agar sastrawan di Kalbar dapat bersatu. Sementara Musfeptial Musa selaku panitia menilai bahwa sastra anak kian bermasalah akhir-akhir ini. Diperlukan wadah sekaligus upaya untuk mendorong anak-anak menyenangi dunia tulis dan sastra.


Para pemateri sesi I


Berbeda dengan beberapa pemateri sebelumnya, Jeremias Nyangoen yang merupakan penulis skenario film Denias, Senandung di Atas Awan (2006), Serdadu Kumbang (2011), dan Di Timur Matahari (2012) ini sangat menyayangkan masih sedikit penulis skenario khususnya di daerah Kalbar. Menurutnya, hubungan antara skenario film dengan kesusastraan sesungguhnya sangat erat. Namun, pengerjaan skenario film jauh lebih kompleks apabila dibandingkan dengan puisi ataupun cerpen yang cenderung lebih sederhana dan personal dalam penciptaannya. “Mulailah menulis dan tulis apa yang kau pikirkan,” ucap lelaki kelahiran Pontianak yang juga terkenal lewat perannya sebagai Sumanto dalam film Kanibal-Sumanto (2004) itu memberi kiat penting dalam menulis skenario film.

Berfoto di antara para senior yang bergelut di bidang seni dan sastra


Holil Azmi selaku produser film televisi (FTV) TVRI Kalbar pun sependapat dengan Jeremias Nyangoen. Menurutnya, antara novel dan film banyak terdapat kesamaan. Akan tetapi, menurut lelaki yang akrab disapa Papi Ollin itu, imajinasi lebih luas ketika kita membaca daripada menonton. Sebab, jika menonton, kita digiring untuk mengetahui cerita.

Pembacaan cerpen oleh Pay Jarot Sujarwo

Barisan para peserta maupun pemateri Dialog Sastra Kalbar 2015


Oleh karena kegiatan Dialog Sastra Kalbar perdana tersebut dianggap cukup sukses, maka diputuskan bahwa kegiatan yang sama akan diadakan setiap tahun. Hal ini guna menghidupkan semangat dan produktivitas para penggiat sastra di wilayah Kalbar. 

Semoga kelak semakin banyak sastrawan Kalbar yang karya-karyanya dikenal hingga ke seluruh penjuru Indonesia. Salam budaya!





 

Musik Hujan

Selasa, 17 November 2015


Di luar, hujan seperti musik
Tik, tik, tik...
Membasahi hati
Membasuh luka

Tik, tik, tik...
Iramanya pasti
Mengajak ingatan menari
Tentang kepedihan yang tak mau dibagi









Kesepian

Kamis, 05 November 2015


Onggokan sepi merayap rupa
Kerikil hampa penuhi hati
Terhempas kekosongan yang menggunung

Alunan nada ceria hentikan denyut jantung
Variasi warna menebar tak terhiraukan

Ingin raib, ingin musnah, ingin tiada
Agar tak kumiliki hampanya jiwa

Menara sendu berdiri anggun
Ejaan sepi pun tak lagi terbaca
Tidur saja senang itu!
Agar kelabu erat menyatu dengan kesunyian...

Lingkaran tawa mengurung hampa
Opini tentang bahagia terhanyut sudah

Venus tersenyum dalam kemenangan
Akan kekosongan yang terpantul di seraut wajah
Yakini aku untuk ke sekian kali;  aku telah kalah

Episode demi episode terlewati dengan desahan murung
Niat mengukir senyum raib sudah
Irama kesepian hanya tersuarakan di kisi-kisi hati yang mengkristal






Musim Hujan

Rabu, 04 November 2015


Aku suka musim hujan
Sebab wajah langit sendu
Serupa senyumku yang beku

Aku cinta musim hujan
Sebab ia menghadirkan kenangan
Bagi hati yang kesepian



Hal-hal yang Menggerakkan Kehidupanku

Rabu, 14 Oktober 2015

Mereka bilang hidupku sempurna. Tak ada kesulitan. Tak ada nestapa. Lantas, kalau begitu, apa alasan lelaki yang mengaku dapat melihat masa lalu itu membasahi korneanya kala menyelami sepasang manik mataku?

Itu tak lain karena ia menemukan luka yang coba kusembunyikan. Luka yang kupikir telah kutinggalkan di masa lalu, namun ternyata tidak. 

Sejauh ini, aku tak mau membagi luka itu kepada siapa pun. Hanya aku yang hidup bersama luka itu. Dan, begitulah, luka itu sukses menggiringku dalam kehancuran dan tersedot dalam lubang hitam yang tak berujung.

Aku berusaha semampuku. Membuat orang-orang terdekat percaya, bahwa aku baik-baik saja. Melahirkan senyum palsu. Membangun dinding di luar diriku yang seolah-olah tampak begitu kokoh. Namun, sebenarnya, setiap detik di dalam diriku tengah mengalami kehancuran.

Mereka bilang, “Hidupmu enak. Kau beruntung bisa mendapatkan itu. Kau sungguh diberkati bisa begini.” Sayangnya, satu hal yang mereka tak pernah tahu; hidupku jauh dari kata ‘beruntung’. Semua yang kuperoleh, adalah murni kerja kerasku. 

Malam-malam yang kuhabiskan untuk berjuang, lingkaran hitam di bawah mata yang kian melebar lantaran waktu tidur yang kian singkat, buku-buku yang susah payah kudapati dan kubaca baris per baris, orang-orang yang kutemui untuk bertanya ini dan itu demi menambah ilmu. Dan, sekali lagi kau bilang dengan enteng bahwa apa yang kudapatkan adalah keberuntunganku?

Di saat kau terbuai dalam mimpi indah, aku masih terjaga di depan layar laptop, dan di saat kau telah makan entah untuk ke berapa kali, aku bahkan tak punya waktu untuk sekadar mencuci muka, apalagi memikirkan mengisi perut. Lantas, masihkah kau ingin memejamkan mata atas segala jerih payahku yang jelas-jelas jauh lebih besar dibandingkanmu?

Sekali lagi, aku tidak seberuntung yang kau pikirkan.

Barangkali, kalau kuceritakan apa yang dilihat oleh lelaki yang mengaku bisa melihat masa lalu itu, kau pasti akan tercengang. Mungkin kau akan berujar bahwa hidupku tak ada beda dengan telenovela. Begitu kelabu, begitu sendu. Tapi, mari kita lupakan perihal masa lalu yang tak pernah ingin kubahas itu. Bagaimana kalau kita membahas tentang topik lain, seperti uang, misalnya...

Ya, uang. Uang yang mungkin kau dan kebanyakan orang agung-agungkan itu. Tapi, maaf saja... uang bukanlah sesuatu yang menggerakkanku. Tentu saja dengan uang aku bisa membeli banyak buku keren, pakaian model terbaru, atau barangkali seperangkat perlengkapan make up merk ternama? Namun, sayangnya, dibandingkan uang, masih banyak hal lain yang jauh lebih membuatku tergerak. 

Dan, hal teratas yang paling memengaruhiku sejauh ini adalah ketulusan. Ya, ya, tentu saja uang tak akan dapat membeli ketulusan, tapi dengan ketulusan manusia dapat menjamah hati siapa pun, bukan?

Begitulah, aku suka, atau lebih tepatnya terobsesi dengan konsep hubungan antar manusia. Sayangnya, aku tak terlalu suka terlibat langsung dalam interaksi antar manusia. Oh, bukankah aku membuatmu bingung sekarang? Maafkan aku. Aku pun seringkali bingung dengan diriku sendiri.

Jadi, kapan-kapan, kalau kau kembali ingin memamerkan uangmu, sebaiknya carilah seseorang yang lain selain aku. Sebab, kalau kau membahas hal itu denganku, kau hanya akan membuang-buang waktu.

Satu-satunya yang membuatku tertarik adalah ketulusan dan kebaikan seseorang, bukan orang yang suka mengagungkan dirinya sendiri dan meremehkan kerja keras dan usaha orang lain. Kuharap kau mengingat itu.





Perihal Aku

Sabtu, 03 Oktober 2015


Kadang aku ingin jadi seseorang

Yang dengan mudah menjabarkan perasaan

Mengucapkan, “Aku menyayangimu” berkali-kali

Seperti hujan yang tumpah



Namun, aku hanyalah seseorang

Yang memilih menelan semua rasa

Hanya untukku...

Hanya untukku...



Tak pernah ada ruang bagi yang lain

Untuk melongok hatiku

Untuk paham hatiku

Kalimat  “Aku menyayangimu” yang nyaris keluar

Kutelan sekali lagi



Kadang aku benci menjadi seperti ini

Namun yang kutahu aku mesti begini



Aku adalah aku...

Seseorang yang tak bisa menjabarkan perasaannya sebagaimana hujan yang tumpah...



Seperti yang Lain

Selasa, 29 September 2015

Sebuah pelukan
Sepotong tawa
Hanya mengamati dari kejauhan

Kala kau mendekat
Kumundur selangkah
Aku tak mau kau sadar
Akan ceceran hatiku...

Terus berdiri di tempat ini
Batas teraman agar kau tak tahu
Keinginan-keinginan yang tak tersuarakan

Ah, sesungguhnya aku seperti yang lain
Namun, aku memilih mematikan keinginanku
Agar kau tak mendengar...
Agar semesta tak mendengar...

Kelak, kutahu akan menyesal
Sebab menahan diri seperti ini
Sebab membentengi diri darimu
Sebab memilih mati...